Chapter 12 of 18
Chapter 12: Rencana Terselubung Liang
2.2k words
Liang Zongwen’s fingers tightened around the delicate celadon teacup. The thin porcelain groaned, threatening to shatter under the sudden pressure. A faint tremor ran through his hand, not from cold, but from a heat that spread through his chest, stinging his throat. The servant, a boy no older than Lin Chen, flinched back from the low table, eyes wide with terror.
"Ulangi," Liang memerintah, suaranya rendah dan serak, sebuah gesekan kasar yang lebih berbahaya dari teriakan. "Putri Zhao… mengundang siapa?"
Keringat dingin membasahi pelipis sang pelayan. "Lin Chen, Tuan Muda," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Utusan Istana datang ke rumah bordir Tuan Wei. Dengan undangan resmi dari Kediaman Timur."
Ledakan.
Cangkir teh itu tidak pecah, melainkan terlempar dengan kekuatan brutal ke dinding berukir di belakang pelayan. Pecahannya berhamburan seperti salju giok, sebagian kecil mengenai pipi pelayan itu, meninggalkan goresan tipis yang mulai berdarah. Teh melati panas memercik, menodai sutra mahal di dinding.
Liang Zongwen tidak bergeming. Matanya menyala, memantulkan cahaya redup dari lampion yang tergantung di sudut. Rahangnya mengeras, otot-otot di pipinya menonjol tajam. Kemarahan itu bukan sekadar gejolak sesaat; itu adalah kobaran api yang membakar setiap inci sistem sarafnya.
"Lin Chen," desisnya lagi, nama itu terasa seperti racun di lidahnya. "Si pelayan rendahan yang seharusnya sudah membusuk di sumur."
Ia bangkit dari bantal sutranya, gerakannya tiba-tiba, membuat pelayan itu tersentak lebih jauh. Langkahnya berat, masing-masing membawa beban kebencian yang mendalam. Ia berjalan mendekati jendela, menatap taman yang gelap di luar, namun matanya tidak melihat keindahan apa pun. Pikirannya dipenuhi bayangan jubah sutra dengan pola teratai bercahaya, kreasi mustahil yang telah membuat namanya disebut-sebut di pasar gelap.
Itu adalah karya yang bahkan para pengrajin terbaik keluarganya tidak bisa meniru. Sebuah keajaiban yang seharusnya tidak ada. Dan sekarang, keajaiban itu menarik perhatian Putri Zhao. Putri Zhao Wanru, wanita cerdas dan tajam yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh intrik biasa.
Liang mengepalkan tinjunya, buku-buku jarinya memutih. Ini bukan hanya tentang bisnis. Ini tentang martabat. Tentang kendali. Tentang sebuah anomali yang ia biarkan hidup, dan kini mulai menari di bawah hidungnya, bahkan menarik perhatian salah satu figur paling berpengaruh di istana.
"Panggil Tabib Wei," perintahnya, suaranya kembali ke tingkat yang lebih terkontrol, namun mengandung ancaman yang lebih dalam. "Sekarang."
Pelayan itu mengangguk panik, darah menetes dari pipinya, dan bergegas keluar, meninggalkan Liang Zongwen sendirian di ruang tamu yang kini terasa dingin, meskipun udara masih hangat. Liang memejamkan mata sesaat, mencoba menenangkan badai dalam dirinya. Kehidupan Lin Chen, setelah semua usahanya untuk memastikan kematiannya, telah menjadi duri dalam dagingnya. Duri yang kini mulai menusuk terlalu dalam.
---
Tabib Tua Wei memasuki ruangan itu dengan langkah pelan, nyaris tanpa suara di atas lantai kayu eboni yang dipoles. Aroma melati yang bercampur dengan bau teh yang tumpah menyambutnya, dan pecahan porselen di dinding segera memberinya gambaran tentang suasana hati Liang Zongwen. Ia tidak perlu bertanya. Pria muda itu, meskipun kaya dan berkuasa, tidak pernah pandai menyembunyikan amarahnya.
Tabib Wei memilih bantal duduk paling jauh dari pecahan cangkir, melipat kakinya dengan rapi. Jubah kapasnya yang usang tampak kontras dengan kemewahan ruangan. Matanya yang keriput menatap Liang Zongwen, yang kini berdiri membelakanginya, siluetnya kaku di dekat jendela. Tidak ada emosi yang terbaca di wajah Tabib Wei. Itu adalah topeng yang telah ia pelajari untuk dikenakan selama puluhan tahun, terutama di hadapan orang-orang seperti Liang.
"Anda memanggil, Tuan Muda Liang?" suaranya datar, tanpa nada pertanyaan atau kekhawatiran.
Liang berbalik, langkahnya terhenti. Ia tidak langsung menjawab. Sepasang mata gelapnya menyapu Tabib Wei, seolah mencoba menembus ketenangan yang disengaja itu. "Kau tahu kenapa aku memanggilmu," desis Liang, nadanya menuduh.
Tabib Wei mengangguk perlahan. "Lin Chen, dan undangan dari Kediaman Timur." Sebuah konfirmasi, bukan pertanyaan. Informasi itu telah sampai padanya lebih dulu, melalui jaringannya sendiri. Catatan misterius di sakunya pagi tadi, "Permainan telah dimulai. Dia melihatmu," kini terasa seperti bayangan yang semakin memanjang. Ia merasakan tarikan halus dari permainan yang lebih besar, dan posisinya di dalamnya terasa semakin genting.
Liang mengambil tempat duduk di seberang Tabib Wei, gerakan tangannya yang tegang menunjuk ke arah pecahan porselen. "Bagaimana bisa sampah itu sampai ke istana? Bagaimana bisa ia menarik perhatian Putri Zhao? Setelah semua yang kita lakukan."
"Dunia memiliki cara anehnya sendiri untuk bergerak, Tuan Muda," jawab Tabib Wei, suaranya tetap tenang. Matanya, di balik kelopak yang sedikit bengkak karena usia, sedikit menyiput. Ia memperhatikan detail kecil: kedutan di sudut bibir Liang, cengkeraman tangannya pada sandaran tangan kursi. Kecurigaan Liang sudah tumbuh, bahkan tanpa ia memupuknya. Itu adalah hal yang baik, dan juga berbahaya.
"Cara aneh?" Liang mendengus. "Ini bukan keanehan, Tabib Wei. Ini… ini adalah sebuah provokasi." Ia condong ke depan, suaranya merendah. "Lin Chen, yang kau selamatkan dari sumur, yang kau beri racun agar tetap patuh… ia sekarang membuat karya yang bahkan orang-orang terbaikku tidak bisa meniru. Karya yang membuat Putri Zhao tertarik."
Tabib Wei hanya mendengarkan, napasnya teratur. Denyut nadinya stabil. Di dalam kepalanya, ia membandingkan informasi: kebangkitan Lin Chen yang tidak masuk akal, pola teratai cahaya yang mustahil, undangan Putri Zhao, dan catatan misterius itu. Semuanya terhubung, namun benang penghubungnya masih tersembunyi. Ia merasakan beban tanggung jawab untuk menjaga agar kepingan-kepingan itu tidak runtuh, tidak terlalu cepat.
"Kau yakin ia masih bisa dikendalikan?" tanya Liang, matanya menatap tajam ke mata Tabib Wei. Ada ancaman terselubung dalam pertanyaan itu, sebuah peringatan bahwa jika kendali itu lepas, Tabib Wei akan menanggung akibatnya.
Tabib Wei menahan tatapan itu. "Racun akonit bekerja lambat, Tuan Muda. Dan dosisnya… terukur. Ia merasakan sakit, kelemahan, dan ia tahu siapa yang memberikannya obat penawar. Ia tahu ia tergantung pada kita." Sebuah pernyataan yang meyakinkan, namun diucapkan dengan sedikit keraguan yang disengaja, untuk menjaga agar Liang tetap waspada dan tidak terlalu nyaman.
---
Klaim Tabib Wei tentang kendali racun itu tidak sepenuhnya meyakinkan Liang. Ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang terasa seperti pasir yang licin di antara jari-jari. Lin Chen yang dulu adalah pelayan pemalu, seorang pembuat pola bayangan yang nyaris tak terlihat. Ia memiliki bakat, ya, tetapi tidak pernah genius yang mampu menciptakan keajaiban optik seperti itu.
"Kau meremehkannya, Tabib Wei," kata Liang, menyilangkan lengannya di dada. Nada suaranya penuh kecurigaan, tidak hanya terhadap Lin Chen, tetapi juga terhadap Tabib Wei sendiri. "Pola 'teratai cahaya' itu… para pengrajinku telah mencoba membongkarnya selama berminggu-minggu. Mereka tidak bisa. Mereka bilang itu mustahil. Tidak ada tangan manusia yang bisa menenun serat sutra dengan presisi seperti itu, apalagi membuatnya tampak bersinar dari dalam."
Ia bangkit lagi, melangkah mondar-mandir di depan Tabib Wei. Setiap langkahnya mengukur jarak antara dirinya dan bahaya yang dirasakannya. "Dan matanya. Apakah kau melihat matanya, Tabib? Saat ia menatapmu? Itu bukan tatapan orang yang baru sembuh dari kematian. Itu bukan tatapan ketakutan. Itu… dingin. Seperti batu giok. Seperti ia sedang menganalisis setiap detail, setiap kelemahan."
Tabib Wei tidak membantah, hanya mendengarkan. Keheningannya membuat Liang semakin tidak nyaman, seolah Tabib itu setuju namun menyembunyikan sesuatu.
"Lin Chen yang dulu… ia tidak punya tatapan seperti itu. Ia tidak punya ketenangan semacam itu," Liang melanjutkan, suaranya menajam. "Ia tidak punya kecerdasan itu. Kecerdasan yang membuat Putri Zhao Wanru, Putri yang terkenal dengan selera dan intuisinya yang tajam, tertarik."
Kecurigaan itu memelintir perut Liang. Ia ingat laporan dari para pedagang di pasar gelap, bisikan tentang "penenun hantu" dengan "mata dingin dan cerdas". Kata-kata itu beresonansi dengan gambaran yang kini ia miliki di benaknya. Ini bukan hanya tentang seorang pelayan yang beruntung. Ini adalah sesuatu yang lebih besar, lebih mengancam.
"Aku mulai berpikir, Tabib Wei," Liang berkata, suaranya turun menjadi bisikan berbahaya, "bahwa ada sesuatu yang lain yang keluar dari sumur itu bersamanya. Sesuatu yang bukan Lin Chen."
Ia berhenti di depan Tabib Wei, bayangannya menjulang di atas pria tua itu. "Apa yang kau sembunyikan dariku? Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Mengapa ia hidup kembali dengan kemampuan yang tidak masuk akal? Dan yang paling penting," ia membungkuk sedikit, suaranya menekan, "mengapa ia begitu tertarik pada Putri Zhao?"
Pertanyaan terakhir itu terasa seperti penusukan langsung. Putri Zhao adalah seorang pemain kunci di istana, dihubungkan dengan faksi-faksi kuat yang bisa mengancam dominasi keluarga Liang. Jika Lin Chen entah bagaimana menjadi alat di tangan Putri, atau sebaliknya, maka bahayanya akan jauh melampaui kerugian bisnis.
Liang menduga, dalam lubuk hatinya yang paling gelap, bahwa kebangkitan Lin Chen adalah sebuah pertanda. Pertanda buruk. Bahwa kekuatan yang lebih besar sedang bergerak, dan Lin Chen adalah pion yang tiba-tiba mendapat kekuatan tak terduga. Atau, lebih buruk lagi, Lin Chen sendiri adalah kekuatan itu.
"Ia tidak hanya hidup," Liang menegaskan, pandangannya dingin. "Ia tahu terlalu banyak. Dan sekarang ia terlalu berbahaya untuk dibiarkan bergerak bebas, terutama di sekitar Putri Wanru."
---
Tabib Wei merasakan tekanan di udara menegang, namun ia membiarkan ekspresinya tetap netral. Kecurigaan Liang tidak salah arah, meskipun ia jauh dari kebenaran penuh. 'Sesuatu yang lain' memang keluar dari sumur itu. Sesuatu yang ia sendiri masih berusaha pahami dan kendalikan.
"Kepentingan kita selaras, Tuan Muda," Tabib Wei akhirnya berkata, suaranya tenang namun mengandung kekuatan yang tidak bisa diabaikan. "Rahasia keluarga Liang adalah rahasia saya. Dan Lin Chen, hidup atau mati, adalah… alat. Sebuah alat yang harus kita pastikan tetap di bawah kendali."
Liang menyipitkan mata, menimbang kata-kata itu. "Alat? Alat yang bisa menghancurkan kita jika ia memilih untuk bicara."
"Dan ia akan memilih untuk tidak bicara," Tabib Wei membalas, sedikit penekanan pada kata 'akan'. "Dengan racun di nadinya, ia tidak punya pilihan. Setiap hari ia membutuhkan penawar. Tanpa itu, rasa sakitnya akan meningkat, melemahkan tubuhnya, dan akhirnya… mengakhiri keberadaannya." Ia berhenti sejenak, membiarkan ancaman itu meresap. "Tentu saja, kita bisa meningkatkan dosis racun itu kapan saja, menjadikannya lebih patuh. Atau lebih lemah."
Senyum tipis, nyaris tak terlihat, bermain di bibir Liang. Ini adalah bahasa yang ia pahami. Kekuasaan, rasa sakit, dan ancaman. "Itu untuk menjaganya tetap diam. Tapi bagaimana dengan Putri Zhao? Bagaimana kita menghentikan pergerakannya di antara mereka? Putri itu licik. Ia tidak akan tertarik pada seseorang tanpa alasan yang kuat."
"Pola teratai cahaya," Tabib Wei berujar, matanya menatap ke kejauhan, seolah melihat desain itu terukir di udara. "Itu adalah umpan. Lin Chen sendiri yang meletakkannya di pasar. Aku tidak tahu mengapa, tapi ia sengaja menarik perhatian. Dan Putri Wanru menggigit umpan itu. Ia melihat sesuatu yang aneh, sesuatu yang menantang akal sehat. Kita tidak bisa menghentikan rasa ingin tahu seorang Putri."
"Kalau begitu, kita arahkan," Liang memotong, kemarahannya kembali beriak. "Jika Putri Wanru tertarik pada keahliannya, biarkan ia memanfaatkannya. Tapi di bawah pengawasan kita. Kita bisa menempatkan mata-mata di kediamannya, di antara pelayannya. Setiap gerakan Lin Chen, setiap kata yang ia ucapkan, harus sampai ke telingaku." Ia menunjuk ke arah Tabib Wei. "Tugasmu untuk memastikan itu."
Tabib Wei mengangguk. "Tentu saja. Tapi ada cara yang lebih efektif untuk mengendalikan narasi. Jika Lin Chen harus bekerja untuk Putri, ia harus bekerja untuk kita terlebih dahulu. Kita perlu tahu apa yang ia cari. Apa yang ia lihat. Dan kita bisa memanipulasinya untuk menemukan catatan yang hilang itu."
"Catatan korupsi," gumam Liang, matanya berkilat serakah. "Ya. Itu prioritas utama. Tapi bagaimana? Ia tidak ingat apa-apa."
"Tidak ingat, atau tidak ingin ingat?" Tabib Wei membalas, mengangkat bahu sedikit. "Racun itu bisa… membantunya mengingat. Jika rasa sakitnya menjadi cukup parah, ia akan mencari cara untuk menghentikannya. Dan kita bisa menawarkan solusi: menemukan catatan itu. Atau mungkin… kita bisa membuatnya berpikir bahwa ia sendiri yang menyembunyikannya."
Gagasan itu membuat Liang menyeringai tipis. Memanipulasi ingatan, menanamkan gagasan palsu. Itu adalah taktik kejam yang sangat ia sukai. "Brilian, Tabib Wei. Tapi bagaimana jika ia tergelincir? Bagaimana jika ia mencoba bicara, atau ia lepas kendali?"
Tabib Wei menatap Liang, kali ini tanpa menyembunyikan perhitungan dingin di matanya. "Jika ia menjadi ancaman yang tidak bisa dikendalikan, Tuan Muda, maka kita akan menghapusnya. Selamanya. Kali ini, tidak akan ada kebangkitan dari sumur."
---
Ancaman itu membuat bibir Liang Zongwen tertarik ke atas, membentuk seringai puas. Itu adalah jaminan yang ia inginkan. Tabib Wei memang kejam, tapi ia bisa diandalkan dalam hal-hal seperti ini. Kendali total. Penghapusan total. Tidak ada jalan tengah.
"Baiklah," Liang berkata, mengangguk perlahan. "Kalau begitu, kita biarkan Lin Chen menari di istana. Biarkan Putri Wanru termakan oleh rasa ingin tahunya. Tapi di setiap langkahnya, kita yang memegang kendalinya. Kita yang memutar talinya. Kita yang akan mendapatkan apa yang kita inginkan."
Ia bangkit, berjalan ke rak buku berukir di salah satu sudut ruangan. Jemarinya yang ramping menyapu punggung buku-buku kuno, mencari sesuatu yang tersembunyi. Debu tipis mengepul dari kulit-kulit usang. Matanya mencari, tidak pada judul, melainkan pada ketidakberaturan kecil dalam susunan. Ia menemukan apa yang ia cari: sebuah celah tipis di antara dua volume sejarah Dinasti Tang.
Dengan gerakan cepat, ia menarik keluar sebuah gulungan kecil, terbungkus kain sutra yang dulu berwarna emas, kini pudar dan kusam. Itu adalah gulungan yang ia yakini telah ia musnahkan. Catatan korupsi lama, bukti tak terbantahkan dari transaksi ilegal keluarganya dengan pejabat istana, yang seharusnya telah hancur bersama Lin Chen yang asli. Tapi Lin Chen yang asli terlalu cerdas, terlalu licik, untuk dibunuh begitu saja tanpa memastikan catatan itu aman. Atau disembunyikan.
Liang Zongwen melemparkan gulungan catatan korupsi lama ke atas meja, mendarat dengan suara tumpul di hadapan Tabib Wei. Matanya menyorot tajam, penuh tekad yang dingin. "Dia tidak hanya hidup, Tabib Wei. Dia tahu terlalu banyak. Dan kita harus menghentikannya sebelum dia bicara."