Chapter 1 of 1
Chapter 1: Secangkir Kopi di Bukit Zaitun
774 words
Aroma kopi arabika bercampur angin dingin bukit menusuk hidung Bianka.
Kedua tangannya menggenggam erat cangkir porselen hangat di atas meja kayu Cafe BYU.
Pandangannya lurus menatap kubah emas Dome of the Rock yang berkilau di bawah matahari sore Yerusalem.
---
"Kamu terlambat lagi," gumam Bianka pada kursi kosong di depannya.
Detak jantungnya berdegup tidak beraturan setiap kali bayangan pria itu muncul di kepala.
Betania, kota kecil tempat tinggalnya, terasa begitu jauh dan penuh kekangan hari ini.
Kuliah ilmu sosial di Universitas Ibrani Yerusalem biasanya menjadi pelarian yang sempurna dari tekanan orang tua.
Namun, siang ini pikiran Bianka sepenuhnya tersita oleh kenangan musim panas lalu.
Program jangka pendek kampus mempertemukan mereka, mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya bertolak belakang.
Langkah kaki tegap terdengar mendekat dari arah pintu masuk kafe.
Aroma parfum oud yang khas segera memenuhi udara di sekitarnya.
Bianka mendongak, mendapati sosok tinggi tegap dengan rahang kokoh yang selalu menghantui mimpinya.
Lord berdiri di sana dengan napas sedikit memburu.
Mata elangnya yang legam langsung mengunci tatapan Bianka, memancarkan bauran rasa bersalah dan kerinduan yang mendalam.
Pria itu mengenakan kemeja linen hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan urat-urat tangan yang menegang.
Perlahan, Lord menarik kursi di hadapan Bianka dan duduk.
"Maaf," bisik Lord, suaranya parau menahan emosi yang berkecamuk.
Jari-jemari Lord bergerak maju, nyaris menyentuh jemari Bianka sebelum akhirnya dia menariknya kembali dengan ragu.
Penolakan orang tua Bianka selalu membayangi setiap pertemuan rahasia mereka.
Di kapel tua Betania, ibunya pernah bersumpah tidak akan pernah merestui hubungan mereka.
Sementara Lord, dengan keyakinan teguh yang dibawanya sejak lahir, juga memiliki dinding tebal yang tidak mungkin runtuh.
"Aku tidak peduli tentang jarak, Lord," ucap Bianka, memecah keheningan yang menyiksa.
"Tapi aku peduli tentang kenyataan, Bianka," sahut Lord, matanya berkedip cepat menahan perih.
Sujudnya adalah sajadah yang menghadap kiblat, sementara altar tempat Bianka berdoa berdiri tegak dengan salib yang tak mungkin dilangkahi.
Perbedaan itu sudah cukup untuk menghancurkan mereka, namun ada satu duri yang jauh lebih tajam.
Lord memiliki seorang istri.
Pernikahan yang diatur oleh keluarga besarnya di Amman, Yordania, mengikatnya dalam rantai kewajiban yang tak kasat mata.
"Kenapa kita harus bertemu di program musim panas itu?" tanya Bianka, air matanya mulai menggenang di sudut mata.
"Tuhan sedang menguji kita, atau mungkin sedang menghukumku," jawab Lord, suaranya bergetar.
Tangan Lord akhirnya bergerak, menggenggam jemari dingin Bianka di atas meja.
Hangat telapak tangan pria itu mengalirkan rasa nyaman sekaligus kepedihan yang luar biasa.
Mereka berdua tahu bahwa setiap detik yang mereka habiskan bersama adalah dosa yang dipinjam dari masa depan.
"Istriku menelepon lagi pagi ini," lanjut Lord, tatapannya beralih ke cangkir kopi yang belum disentuhnya.
Kata 'istri' itu bagaikan sembilu yang menyayat dada Bianka tanpa ampun.
Dia menarik napas panjang, mencoba menahan tangis agar tidak pecah di depan pengunjung kafe lainnya.
"Dia menanyakan kapan aku pulang," tambah Lord, rahangnya mengeras.
"Lalu apa jawabanmu?" tanya Bianka, menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria itu.
Sunyi merayap di antara mereka, mengalahkan kebisingan kota Yerusalem di bawah sana.
Lord tidak langsung menjawab, dia hanya menatap Bianka dengan pandangan yang sarat akan keputusasaan.
---
Gerimis tipis mulai turun membasahi Bukit Zaitun, mengaburkan pemandangan kota tua di kejauhan.
Bianka merasakan getaran halus dari tas tangannya.
Ponselnya menyala, menampilkan nama ibunya di layar.
Dia mengabaikan panggilan itu, memilih untuk tenggelam dalam tatapan mata Lord yang menenangkan sekaligus mematikan.
"Aku mencintaimu, Bianka," bisik Lord, suaranya begitu rendah hingga nyaris hilang disapu angin.
"Kata-kata itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa kamu milik wanita lain," sahut Bianka, suaranya bergetar hebat.
"Aku tahu," jawab Lord singkat, cengkeramannya pada jemari Bianka semakin erat.
"Lalu kenapa kita masih di sini? Kenapa kita tidak mengakhirinya saja sekarang?" tangis Bianka akhirnya pecah, membasahi pipinya yang pucat.
Lord mengusap air mata di pipi Bianka dengan ibu jarinya, gerakan yang begitu lembut namun terasa menyakitkan.
"Karena aku tidak sanggup bernapas tanpamu," ucap Lord jujur, matanya sendiri mulai berkaca-kaca.
---
Tiba-tiba, ponsel Lord yang diletakkan di atas meja bergetar hebat.
Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat dikenal oleh Lord.
Pria itu terpaku, wajahnya seketika berubah pucat pasi saat membaca baris kalimat yang tertera di sana.
Bianka yang menyadari perubahan drastis pada ekspresi Lord ikut melirik ke arah layar ponsel tersebut.
Pesan itu ditulis dalam bahasa Arab, namun ada satu nama yang tertulis jelas di sana dalam huruf latin.
Nama itu adalah nama ibu Bianka.
"Ada apa, Lord?" tanya Bianka dengan perasaan cemas yang tiba-tiba memuncak.
Lord menatap Bianka dengan pandangan kosong, tangannya gemetar saat dia membalikkan ponselnya agar Bianka bisa melihat terjemahan pesan itu.
"Istriku," ucap Lord dengan suara tercekat, "dia baru saja mengirimkan foto ibumu yang sedang menunggunya di lobi hotel tempatnya menginap di Yerusalem Timur."