Raka menyandarkan punggungnya ke dinding kosan yang tipis, aroma lembap masih melekat dari sisa hujan kemarin. Kartu nama Anya Pramudita terasa licin di antara jemarinya, kertasnya tebal, dengan tulisan perak elegan yang memantulkan cahaya redup dari lampu neon di atas kepalanya. Sensasi sentuhan itu membawa kembali bayangan wanita itu, senyum tipisnya, tatapan mata yang dalam, dan aroma parfum mahal yang sekilas tercium saat mereka berdekatan di kafe.
Sebuah dorongan rasa ingin tahu menggerogotinya. Ia ingin tahu lebih banyak. Laptop bututnya terbuka di atas meja lipat, layarnya memancarkan cahaya biru ke wajah Raka. Jemarinya menari di atas keyboard, mengetik nama 'Anya Pramudita' di kolom pencarian. Pencarian awal dimulai dengan LinkedIn, profil profesional yang rapi terpampang di layar. Desainer interior terkemuka, proyek-proyek mewah di jantung kota, kolaborasi dengan arsitek-arsitek ternama.
Ia mengangguk-angguk kecil, membenarkan dugaannya. Wanita itu memang target yang tidak main-main. Sebuah Audi di garasinya, tas Hermes di bahunya, berlian melingkar di jemari. Semua itu bukan sekadar pamer, melainkan penanda status yang jelas, dinding pemisah yang tebal antara dunianya dan dunia Raka yang selama ini hanya berkutat di kosan sempit dan mi instan.
Pencarian berlanjut ke Instagram. Ribuan pengikut, unggahan estetis tentang desain interior, foto-foto di acara sosialita, gala dinner, peresmian galeri. Setiap foto memancarkan aura kemewahan yang tak tersentuh. Raka melihat Anya dalam balutan gaun koktail, tawa renyahnya seolah terdengar dari balik layar. Wanita itu tampak anggun, berkelas, tetapi ada semacam kesepian yang tersembunyi di balik senyum tipisnya, sebuah detail yang hanya bisa ditangkap oleh mata Raka yang kini semakin tajam.
Ia menggeser tetikusnya, menjelajahi setiap sudut profil itu, mencari celah, sebuah informasi kecil yang mungkin terlewat. Detak jantungnya sedikit mengencang. Ini bukan lagi tentang Lani, bukan lagi tentang lima juta rupiah yang hanya cukup untuk sebulan. Ini tentang lompatan, tentang Rp 100.000.000 dan janji 'Pecah Batas Limit' yang terus berputar di benaknya. Ambisinya terasa seperti api yang membakar di dalam dadanya, menuntut lebih dari sekadar bertahan hidup.
---
Raka mengklik sebuah tautan yang mengarah ke blog pribadi Anya, sebuah arsip foto-foto lama yang tidak diunggah ke media sosial utama. Di sana, di antara foto-foto proyek awal dan liburan pribadi, matanya terpaku pada sebuah gambar yang membuat napasnya tertahan. Sebuah foto pernikahan. Bingkai kayu sederhana, Anya dalam balutan gaun putih gading, berdiri di samping seorang pria. Senyumnya lebar, matanya memancarkan kebahagiaan murni, kebahagiaan yang belum pernah Raka lihat dalam pertemuan singkat mereka.
Lutut Raka terasa lemas. Otot-otot di rahangnya mengencang tanpa sadar. <i>Deg</i>. Rasa dingin menjalari tulang punggungnya. Pria itu, suaminya, memiliki perawakan tinggi, senyum ramah, dan aura kemapanan yang tidak bisa disembunyikan. Wajahnya tidak asing, samar-samar Raka merasa pernah melihatnya di berita lokal atau majalah bisnis. Seorang pengusaha sukses, mungkin, atau tokoh masyarakat.
Kepalanya berdenging. <i>Istri orang</i>. Kata-kata itu bergaung di benaknya, bukan lagi sebagai notifikasi Sistem yang menarik, melainkan sebagai sebuah fakta keras yang baru saja menamparnya. Selama ini, Raka mengira Anya adalah wanita lajang, target 'Tingkat Tinggi' yang akan memberinya 'Skill Karisma Instan'. Namun, kenyataan ini jauh lebih rumit, jauh lebih berbahaya.
Ia memundurkan kursor, kembali menatap wajah Anya yang tersenyum bahagia dalam balutan gaun pengantin. Perasaan campur aduk menyeruak. Ada kekecewaan, kejutan, dan sedikit rasa mual yang melilit perutnya. Batas moral yang selama ini ia coba singkirkan, kini berdiri kokoh di hadapannya, menjulang tinggi seperti tembok tak terlihat. Apakah ini yang dimaksud 'Sangat Tinggi' pada Ibu Amelia? Apakah ini risiko nyata yang harus ia hadapi?
Raka menutup laptopnya dengan suara <i>klik</i> pelan, mencoba menjernihkan pikirannya. Ruangan kosan terasa pengap, udara seolah menekan dadanya. Pikirannya melayang pada Kirana, pada alasan penolakan yang begitu menyakitkan. Lalu, pada Lani, pada perasaan bersalah yang samar-samar setelah mendapatkan uang lima juta rupiah. Ini berbeda. Ini bukan hanya tentang menaklukkan, ini tentang menghancurkan sebuah ikatan, sebuah janji suci.
---
Di tengah keheningan yang menyesakkan, sebuah suara mekanis yang familiar berdesir di dalam kepalanya, memecah kekacauan batin Raka. *“Notifikasi Sistem: Target ‘Istri Orang’ Teridentifikasi. Potensi Reward: Rp 100.000.000 dan ‘Pecah Batas Limit (Infinite Wealth)’. Risiko: Sangat Tinggi. Apakah Anda ingin melanjutkan?”*
Suara itu tanpa emosi, namun terasa seperti bisikan iblis yang menuntunnya ke jurang. Rp 100.000.000. Angka itu langsung menembus keraguannya, menusuk langsung ke inti ambisinya yang paling gelap. Raka membuka laptopnya lagi, menatap notifikasi yang kini terpampang jelas di sudut layar. Di bawahnya, foto pernikahan Anya seolah berkedip, memancingnya.
Ia mengingat kamar kos yang sempit ini, bau apek yang selalu menempel di pakaiannya. Ia teringat akan wajah Kirana yang datar saat mengatakan,
Raka menyandarkan punggungnya ke dinding kosan yang tipis, aroma lembap masih melekat dari sisa hujan kemarin. Kartu nama Anya Pramudita terasa licin di antara jemarinya, kertasnya tebal, dengan tulisan perak elegan yang memantulkan cahaya redup dari lampu neon di atas kepalanya. Sensasi sentuhan itu membawa kembali bayangan wanita itu, senyum tipisnya, tatapan mata yang dalam, dan aroma parfum mahal yang sekilas tercium saat mereka berdekatan di kafe.Sebuah dorongan rasa ingin tahu menggerogotinya. Ia ingin tahu lebih banyak. Laptop bututnya terbuka di atas meja lipat, layarnya memancarkan cahaya biru ke wajah Raka. Jemarinya menari di atas keyboard, mengetik nama 'Anya Pramudita' di kolom pencarian. Pencarian awal dimulai dengan LinkedIn, profil profesional yang rapi terpampang di layar. Desainer interior terkemuka, proyek-proyek mewah di jantung kota, kolaborasi dengan arsitek-arsitek ternama.Ia mengangguk-angguk kecil, membenarkan dugaannya. Wanita itu memang target yang tidak main-main. Sebuah Audi di garasinya, tas Hermes di bahunya, berlian melingkar di jemari. Semua itu bukan sekadar pamer, melainkan penanda status yang jelas, dinding pemisah yang tebal antara dunianya dan dunia Raka yang selama ini hanya berkutat di kosan sempit dan mi instan.Pencarian berlanjut ke Instagram. Ribuan pengikut, unggahan estetis tentang desain interior, foto-foto di acara sosialita, gala dinner, peresmian galeri. Setiap foto memancarkan aura kemewahan yang tak tersentuh. Raka melihat Anya dalam balutan gaun koktail, tawa renyahnya seolah terdengar dari balik layar. Wanita itu tampak anggun, berkelas, tetapi ada semacam kesepian yang tersembunyi di balik senyum tipisnya, sebuah detail yang hanya bisa ditangkap oleh mata Raka yang kini semakin tajam.Ia menggeser tetikusnya, menjelajahi setiap sudut profil itu, mencari celah, sebuah informasi kecil yang mungkin terlewat. Detak jantungnya sedikit mengencang. Ini bukan lagi tentang Lani, bukan lagi tentang lima juta rupiah yang hanya cukup untuk sebulan. Ini tentang lompatan, tentang Rp 100.000.000 dan janji 'Pecah Batas Limit' yang terus berputar di benaknya. Ambisinya terasa seperti api yang membakar di dalam dadanya, menuntut lebih dari sekadar bertahan hidup.--- Raka mengklik sebuah tautan yang mengarah ke blog pribadi Anya, sebuah arsip foto-foto lama yang tidak diunggah ke media sosial utama. Di sana, di antara foto-foto proyek awal dan liburan pribadi, matanya terpaku pada sebuah gambar yang membuat napasnya tertahan. Sebuah foto pernikahan. Bingkai kayu sederhana, Anya dalam balutan gaun putih gading, berdiri di samping seorang pria. Senyumnya lebar, matanya memancarkan kebahagiaan murni, kebahagiaan yang belum pernah Raka lihat dalam pertemuan singkat mereka.Lutut Raka terasa lemas. Otot-otot di rahangnya mengencang tanpa sadar. Deg. Rasa dingin menjalari tulang punggungnya. Pria itu, suaminya, memiliki perawakan tinggi, senyum ramah, dan aura kemapanan yang tidak bisa disembunyikan. Wajahnya tidak asing, samar-samar Raka merasa pernah melihatnya di berita lokal atau majalah bisnis. Seorang pengusaha sukses, mungkin, atau tokoh masyarakat.Kepalanya berdenging. Istri orang. Kata-kata itu bergaung di benaknya, bukan lagi sebagai notifikasi Sistem yang menarik, melainkan sebagai sebuah fakta keras yang baru saja menamparnya. Selama ini, Raka mengira Anya adalah wanita lajang, target 'Tingkat Tinggi' yang akan memberinya 'Skill Karisma Instan'. Namun, kenyataan ini jauh lebih rumit, jauh lebih berbahaya.Ia memundurkan kursor, kembali menatap wajah Anya yang tersenyum bahagia dalam balutan gaun pengantin. Perasaan campur aduk menyeruak. Ada kekecewaan, kejutan, dan sedikit rasa mual yang melilit perutnya. Batas moral yang selama ini ia coba singkirkan, kini berdiri kokoh di hadapannya, menjulang tinggi seperti tembok tak terlihat. Apakah ini yang dimaksud 'Sangat Tinggi' pada Ibu Amelia? Apakah ini risiko nyata yang harus ia hadapi?Raka menutup laptopnya dengan suara klik pelan, mencoba menjernihkan pikirannya. Ruangan kosan terasa pengap, udara seolah menekan dadanya. Pikirannya melayang pada Kirana, pada alasan penolakan yang begitu menyakitkan. Lalu, pada Lani, pada perasaan bersalah yang samar-samar setelah mendapatkan uang lima juta rupiah. Ini berbeda. Ini bukan hanya tentang menaklukkan, ini tentang menghancurkan sebuah ikatan, sebuah janji suci.--- Di tengah keheningan yang menyesakkan, sebuah suara mekanis yang familiar berdesir di dalam kepalanya, memecah kekacauan batin Raka. “Notifikasi Sistem: Target ‘Istri Orang’ Teridentifikasi. Potensi Reward: Rp 100.000.000 dan ‘Pecah Batas Limit (Infinite Wealth)’. Risiko: Sangat Tinggi. Apakah Anda ingin melanjutkan?”Suara itu tanpa emosi, namun terasa seperti bisikan iblis yang menuntunnya ke jurang. Rp 100.000.000. Angka itu langsung menembus keraguannya, menusuk langsung ke inti ambisinya yang paling gelap. Raka membuka laptopnya lagi, menatap notifikasi yang kini terpampang jelas di sudut layar. Di bawahnya, foto pernikahan Anya seolah berkedip, memancingnya.Ia mengingat kamar kos yang sempit ini, bau apek yang selalu menempel di pakaiannya. Ia teringat akan wajah Kirana yang datar saat mengatakan, “Maaf, Raka, kita tidak bisa. Kau tahu, kita beda.” Kata-kata itu, sederhana namun menusuk, berputar di benaknya seperti kaset rusak. Beda. Selalu beda. Status, uang, masa depan. Perbedaan itulah yang selalu menghalanginya, yang membuatnya terperangkap di lingkaran kemiskinan dan harapan palsu.Jemarinya menekan pelipisnya yang berdenyut. Moralitas. Sebuah kata yang terasa mewah, hanya bisa dipertimbangkan oleh mereka yang sudah kenyang dan aman. Baginya, moralitas terasa seperti halangan, beban yang diletakkan di pundaknya sementara orang lain melenggang bebas tanpa peduli. Rp 100.000.000 bukan sekadar uang. Itu adalah kunci. Kunci untuk keluar dari kosan ini, kunci untuk membuktikan pada Kirana, pada dunia, bahwa ia bisa menjadi ‘sama’. Atau bahkan ‘lebih’.Ia menatap lagi layar laptopnya. Foto pernikahan Anya, senyum bahagia itu, kini terasa seperti tantangan. Bisakah ia menghancurkan kebahagiaan itu? Atau justru, apakah ia akan menciptakan kebahagiaan baru, kebahagiaan versi dirinya, dengan menginjak-injak kebahagiaan yang ada? Pikirannya beralih pada ‘Pecah Batas Limit (Infinite Wealth)’. Sebuah janji yang terlalu manis untuk diabaikan, sebuah kebebasan finansial yang selama ini hanya bisa ia impikan.Risiko sangat tinggi. Kalimat itu mengancam. Namun, bukankah hidupnya sendiri sudah merupakan risiko? Setiap hari berjuang untuk bertahan, melawan kemiskinan yang mencekik, bukankah itu risiko yang jauh lebih besar dan tanpa imbalan yang jelas? Ia sudah terlalu lama bermain aman, dan lihatlah di mana ia sekarang. Terjebak.Sebuah tarikan napas kasar lolos dari bibirnya. Udara di ruangan itu terasa tebal, namun Raka mendapati dirinya menatap layar dengan tatapan dingin yang belum pernah ia kenali. Hatinya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena gejolak ambisi yang menggelegak. Ini adalah kesempatan, sebuah jalan keluar yang tidak pernah ia duga. Sebuah pilihan yang mengerikan, namun juga menjanjikan segalanya.Ia tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan selain moralitas yang selama ini pun tidak pernah memberinya makan. Rasa bersalah pada Lani, itu hanya lima juta. Ini seratus juta. Jauh berbeda. Raka mengangguk pelan, kepalanya terasa berat, namun matanya memancarkan tekad. Jemarinya terangkat, kaku, lalu menekan tombol ‘YA’ pada notifikasi sistem itu, mengabaikan bayangan gaun pengantin Anya yang seolah menatapnya dari layar. Ia akan melanjutkan. Apa pun risikonya, apa pun yang harus ia korbankan, ia akan melanjutkan. Ia akan mendapatkan Rp 100.000.000 dan ‘Pecah Batas Limit’ itu, meski harus menghancurkan kebahagiaan wanita bernama Anya Pramudita. Notifikasi sistem berkedip lagi, kali ini dengan tulisan berwarna merah menyala, “Target Terkunci. Misi Dimulai.”