Chapter 1 of 10
Bisikan Sistem: Hadiah Terlarang
1.3k words
Langkah Raka menyeret di atas aspal gang sempit, pantat sandalnya bergesek malas, memecah keheningan malam yang pengap. Udara panas Jakarta terasa menempel di kulit, lembap dan berat, serupa beban di dadanya yang tak kunjung terangkat. Aroma sampah basah bercampur asap knalpot menyengat, kontras dengan wangi parfum manis yang masih sedikit menempel di lengan kemejanya. Parfum milik Kirana. Kilasan senyum Kirana saat menolak ajakan kencannya tadi sore kembali menari di pelupuk mata. Senyum itu cantik, tapi ada keraguan yang terselip di sana, sebuah jeda yang Raka kenali dengan baik. Jeda dari seseorang yang sedang mencari alasan halus untuk menolak tanpa menyakiti.
“Maaf ya, Raka. Bukannya aku gimana-gimana, tapi… aku lagi fokus sama karier. Kamu tahu kan, sekarang biaya hidup makin tinggi.”
Kata-kata Kirana masih terngiang, tajam seperti belati dingin. Raka memejamkan mata sesaat, otot rahangnya mengeras. Bukan pertama kalinya. Sudah tak terhitung berapa gadis yang memandangnya dengan tatapan serupa, tatapan yang penuh penilaian terhadap isi dompetnya, bukan terhadap dirinya. Ia merasa seperti lukisan indah yang harganya tidak pas di galeri. Bukan dia yang kurang, tapi harganya yang tak sesuai ekspektasi.
Kepalanya tertunduk, pandangannya lurus ke depan, ke arah gubuk kosannya yang berjejer rapat, tanpa jendela, seperti kuburan bertingkat. Cahaya remang-remang dari lampu jalan menerangi genangan air kotor di selokan, memantulkan bayangan kakinya yang lesu. Setiap langkah terasa semakin berat, seperti ia membawa karung beras di pundaknya, karung berisi kekecewaan dan impian yang terkubur dalam-dalam. Tenggorokannya terasa kering, kerongkongannya bergerak saat ia menelan ludah hambar.
Ia berhenti di depan pintu kayu triplek yang sudah mengelupas catnya, menghela napas panjang, dan menarik gagang pintu. Di dalam, kegelapan menyambut. Raka meraba dinding, mencari sakelar lampu. Jemarinya menyentuh permukaan plastik yang dingin, lalu menekannya. Sebuah bohlam 20 watt berkedip, memancarkan cahaya kuning redup yang nyaris tak cukup menerangi kamar seukuran kandang ayam itu. Debu halus menari di udara, terlihat jelas di bias cahaya, seolah menyambut kepulangannya yang merana.
---
Raka menjatuhkan dirinya di atas ranjang single yang pegasnya sudah mencelat di beberapa sisi. Kain sprei yang tipis terasa kasar di kulit. Ia telentang, menatap langit-langit kamar yang penuh retakan, bercak jamur hitam menghiasi sudut-sudutnya. Bau apek pengap menyeruak, perpaduan aroma keringat, lembap, dan sedikit sisa mi instan. Sekali lagi, ia merenungi nasibnya, sebuah monolog tanpa suara yang terputar di kepala.
*Kenapa harus begini? Kenapa semua harus tentang uang? Aku tidak meminta banyak. Hanya ingin hidup layak, punya cukup untuk tidak terus ditolak. Apa salahnya?*
Napasnya terasa berat, dadanya naik turun dengan irama tidak beraturan. Matanya panas, namun tidak ada air mata yang jatuh. Sudah terlalu banyak yang ia tangisi. Kini yang tersisa hanya rasa kebas, sebuah mati rasa yang perlahan menggerogoti. Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan menelannya, berharap bisa menghilang saja dari kenyataan ini. Saat itulah, sebuah suara tiba-tiba menginterupsi kesunyian, begitu jelas, seolah berbicara langsung di dalam kepalanya.
*«Sistem Kompensasi Takdir telah aktif.»*
Suara itu bersih, mekanis, tanpa emosi, namun entah mengapa terdengar begitu nyata. Raka membuka matanya, terkejut. Ia menegakkan tubuh, jantungnya berdebar kencang. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, mencari sumber suara. Tidak ada siapa-siapa. Pintu tertutup rapat. Jendela satu-satunya pun terkunci mati. Bulu kuduknya meremang. Ia menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di samping bantal, layarnya mati. Bukan dari sana.
*«Pengguna tunggal telah teridentifikasi: Raka Aditya.»*
Suara itu kembali, kali ini terdengar lebih dekat, lebih dalam, seolah mengalir langsung ke dalam otaknya, memanipulasi sinaps-sinaps sarafnya. Raka mengusap telinganya, mencoba menghilangkannya, tapi suara itu bukan berasal dari luar. Otaknya berdenyut, seolah ada entitas asing yang baru saja bersemayam di sana. Ia merasakan keringat dingin mengucur di punggung. Apakah ia sudah gila? Atau hanya terlalu lelah hingga berhalusinasi?
*«Selamat datang, Raka Aditya. Anda telah terpilih sebagai pengguna Sistem Kompensasi Takdir. Sistem ini didesain untuk memberikan keuntungan 100% tanpa efek negatif, tanpa karma buruk, dan tanpa beban moral sedikit pun.»*
Sistem? Keuntungan? Beban moral? Raka menggigit bibir bawahnya, sensasi aneh menjalar di perutnya. Ia tidak tahu harus merasa takut, bingung, atau justru penasaran. Kepalanya terasa ringan sekaligus berat, seperti baru saja diserang migrain. Ia mencoba berbicara, namun suaranya tercekat. Tenggorokannya terlalu kering. Ia hanya bisa menatap kosong ke depan, napasnya memburu.
---
*«Aturan dasar sistem sangat sederhana,»* suara mekanis itu melanjutkan, mengabaikan kebingungan Raka yang memuncak. *«Untuk mencairkan hadiah uang tunai dan variasi hadiah lainnya secara legal dan bersih, Anda hanya perlu melakukan satu hal: berhubungan intim dengan seorang wanita.»*
Napas Raka tertahan. Berhubungan intim? Matanya membelalak. Ini gila. Ini… ini nyata? Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya, mencari kehangatan, mencari kepastian. Otaknya memproses informasi yang baru saja diterima, kata demi kata. Tidak ada efek negatif. Tidak ada beban moral. Hanya… berhubungan intim?
*«Nominal uang pada tingkat awal sengaja dibatasi, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sederhana Anda. Jika Anda menginginkan kemewahan atau naik kelas sosial, Anda harus meningkatkan frekuensi interaksi atau menargetkan wanita dengan status yang lebih sulit.»*
Sebuah layar transparan, hanya terlihat oleh mata Raka, muncul di hadapannya. Huruf-huruf putih melayang di udara pengap, menjelaskan skala hadiah: Tingkat Dasar (Gadis / Wanita Lajang) – cukup untuk kos, makan, kebutuhan bulanan. Tingkat Tinggi (CEO Dingin, Artis Terkenal, Janda Kaya) – uang lebih, bonus skill karisma instan. Dan yang terakhir, yang paling mencolok, berkedip-kedip dengan warna emas.
*«Tingkat Tertinggi (Istri Orang): Ini adalah satu-satunya jalan pintas menuju kekayaan tanpa batas. Hanya dengan meniduri istri orang lain, sistem akan menjebol batas limit reward, memberikan Anda hadiah hingga 100 juta Rupiah atau lebih.»*
Seratus juta. Angka itu berputar di benak Raka, sebuah melodi yang memabukkan. Sebuah jendela kesempatan terbuka, terang benderang di tengah kegelapan yang selama ini melingkupinya. Rasa putus asa tadi mendadak tergantikan oleh getaran aneh, sesuatu yang liar dan memicu adrenalin. Namun, belum sempat ia mencerna lebih jauh, suara sistem kembali.
*«Sebagai penyambut selamat datang dan modal awal untuk misi pertama Anda, sistem telah memodifikasi dan merestrukturisasi aset fisik paling vital Anda secara instan.»*
Dalam sekejap, sebuah sensasi aneh menjalari tubuh bagian bawah Raka. Bukan rasa sakit, sama sekali tidak ada rasa sakit. Sebaliknya, itu adalah perasaan penuh, padat, dan begitu… *hidup*. Sebuah gelombang panas mendadak menyapu area selangkangannya, seolah ada sesuatu yang mengembang, memanjang, dan mengeras dari dalam. Otot-otot di sana menegang, membesar, terasa seperti ditekan dari dalam, memaksa celana kainnya menonjol dengan tekanan baru yang tak biasa.
Ia memegang area itu, jari-jarinya meraba melalui kain celana yang terasa sempit. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang *jauh* lebih besar. Urat-urat di permukaannya terasa menonjol, seperti akar pohon yang kuat, mengisi penuh telapak tangannya. Sensasi ini begitu asing, sekaligus begitu… *kuat*. Tubuhnya menegang, napasnya memburu. Sebuah kekuatan baru, sebuah *potensi* yang belum pernah ia rasakan, kini bersemayam di sana, nyata dan tak terbantahkan.
---
Raka bangkit berdiri, celananya terasa begitu ketat hingga ia nyaris tidak bisa bergerak bebas. Ia berjalan terseok-seok menuju cermin usang yang menempel di dinding, permukaannya buram dan penuh noda, pantulan dirinya terlihat samar. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Di cermin, ia melihat dirinya. Laki-laki 18 tahun dengan mata lelah, wajah kusam karena kurang tidur, dan bahu yang selalu melorot.
Namun, ada yang berbeda. Ada aura baru yang terpancar, meskipun tipis, dari siluetnya. Matanya, meski masih lelah, kini memancarkan kilatan penasaran, sedikit gairah yang tersembunyi. Postur tubuhnya yang tadi ringkih, kini terasa sedikit lebih tegap, seolah ada tiang tak terlihat yang menyangga punggungnya. Sebuah kepercayaan diri yang asing, namun begitu membakar, mulai merambat di setiap serat tubuhnya.
Tangannya secara refleks kembali menyentuh area vitalnya, meraba tonjolan yang kini begitu kentara di balik kain celananya. Sensasi itu masih ada, bahkan lebih intens. Sebuah denyutan tak asing, berirama, mengisi setiap inchi ruang di sana. Denyutan yang berbicara tentang kekuatan, tentang potensi, tentang sebuah takdir yang baru saja ditulis ulang. Ia menelan ludah, tenggorokannya kering, namun kali ini bukan karena takut atau putus asa. Ini adalah kegembiraan yang bercampur kebingungan, sebuah lonjakan adrenalin yang memacu darah di nadinya.
Ia menatap pantulan dirinya, siluetnya yang kini memancarkan aura berbeda, dan merasakan denyutan tak asing di selangkangannya—sebuah bukti nyata bahwa hidupnya, dalam satu kedipan mata, takkan pernah sama lagi.