Chapter 8 of 8
Chapter 8: Bisikan dari Dimensi Lain
1.3k words
Napas hangat Evelyn menerpa leher Rian, membawa aroma alkohol mahal dan parfum vanila yang manis.
Wanita kaku yang beberapa jam lalu memandangnya dengan tatapan penuh hinaan kini melata di bawah kakinya bagaikan pelayan yang haus akan perhatian.
Jari-jari lentik Evelyn mencengkeram erat bahu Rian, kuku-kukunya yang terawat rapi memerah karena menekan kulit bahunya terlalu keras, menyalurkan rasa lapar yang tidak tertahankan.
Gemetar hebat menjalar di sepanjang tubuh molek itu saat Rian bergerak maju.
Ruang VIP yang remang-remang ini menjadi saksi bagaimana keangkuhan seorang sosialita papan atas hancur berkeping-keping.
Lembaran sutra sprei yang kusut bergesekan dengan kulit mereka, menciptakan suara gesekan kasar yang memicu gairah liar di antara mereka berdua.
Perlahan, Rian menunduk untuk mengecup bibir Evelyn, menikmati dominasi mutlak yang diberikan oleh Sistem Eksibionis.
Setiap detak jantungnya terasa lebih bertenaga, mengirimkan aliran darah yang mendidih ke seluruh penjuru tubuhnya.
Setiap sentuhan memancarkan aura pemikat yang tak kasat mata, menarik kesadaran Evelyn lebih dalam ke jurang kenikmatan yang tanpa batas.
Gairah ini terasa begitu nyata, begitu memabukkan hingga membuat Rian hampir lupa akan luka masa lalu yang selalu menggerogoti jiwanya bagai parasit yang tak pernah mati.
Luka saat ia dibuang seperti sampah oleh cinta pertamanya, Sarah.
Gadis itu tidak hanya menolaknya, tetapi juga mempermalukannya secara seksual di depan teman-teman gengnya, menertawakan ketidakberdayaan Rian dan menyebutnya pria yang tidak berguna.
Rasa malu yang membakar harga dirinya hingga hancur tak bersisa itu kini terbayar lunas.
Kehadiran Sistem Eksibionis telah mengubah segalanya, menempatkannya di puncak rantai makanan di mana para wanita tercantik, seperti Evelyn yang sombong ini, bersujud memohon sentuhannya.
Rian selalu mendambakan momen seperti ini, di mana ia memegang kendali penuh atas harga diri orang lain yang dulu selalu meremehkannya.
Sistem ini telah mengubahnya dari seorang pecundang yang tidak berharga menjadi sosok dewa pemikat yang memiliki senjata pamungkas di balik celananya.
Senjata kesempurnaan mutlak yang memancarkan daya pikat magis yang tidak bisa ditolak oleh hukum alam mana pun.
Ia merasa berkuasa, merasa bahwa seluruh dunia kini berada di bawah genggaman jemarinya yang hangat.
Setiap desahan Evelyn adalah melodi kemenangan yang membasuh bersih sisa-sisa trauma masa lalunya yang kelam.
Namun, kehangatan itu mendadak menguap ketika Rian menatap mata Evelyn secara langsung di tengah pergulatan mereka.
Manik mata wanita itu yang biasanya tajam, cerdas, dan penuh perhitungan kini terlihat sangat kosong, seolah jiwanya telah ditarik paksa keluar.
Bola matanya bergerak-gerak tidak teratur di bawah kelopak mata yang setengah tertutup, menatap ke arah langit-langit ruangan dengan pandangan hampa.
Tubuh Evelyn yang semula lentur dan responsif mendadak menjadi kaku, bergerak dengan ritme yang tidak alami.
"Rian..." bisik Evelyn, suaranya terdengar sangat serak, jauh berbeda dari nada manja yang ia keluarkan beberapa saat yang lalu.
"Ya, sayang? Katakan apa yang kamu inginkan dari saya," jawab Rian dengan senyum kemenangan yang dipaksakan, meski dadanya tiba-tiba dilingkupi rasa tidak nyaman.
Bukannya menjawab dengan desahan manja, Evelyn justru mengangkat kedua tangannya dengan gerakan lambat yang patah-patah.
Jemarinya yang dingin mencengkeram kedua sisi kepala Rian dengan kekuatan yang sangat luar biasa, jauh melampaui batas kemampuan fisik seorang wanita biasa.
Cengkeraman itu begitu kuat hingga membuat pelipis Rian berdenyut sakit dan pandangannya sedikit kabur.
"Berikan lebih banyak..." gumam Evelyn, bibirnya bergerak lambat seolah ada kekuatan asing yang sedang memanipulasi otot-otot wajahnya secara paksa.
"Biarkan Dia berpesta melalui darahmu. Sang Pemilik Kegelapan sedang lapar akan persembahan ini."
Jantung Rian serasa berhenti berdetak mendengar kalimat mengerikan itu keluar dari mulut sang sosialita cantik.
Suara Evelyn terdengar berlapis, seolah ada suara berat bernada rendah dan parau yang bergema serentak di balik pita suaranya yang lembut.
Udara di dalam ruangan mewah itu mendadak turun drastis, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang dan membekukan keringat di tubuh Rian.
Dingin yang mencekam ini membuat bulu kuduk Rian meremajang tegak di bawah siraman cahaya lampu VIP yang temaram.
Ia mencoba menarik dirinya mundur, berniat melepaskan diri dari dekapan Evelyn yang terasa semakin ganjil dan menakutkan.
Namun, tubuh wanita itu mendadak menjadi sekeras batu, mengunci pinggul Rian dengan kakinya dan menolak membiarkan pria itu menjauh bahkan satu inci pun.
"Evelyn, lepaskan aku! Apa yang sedang kamu bicarakan?" gertak Rian, suaranya tertahan di tenggorokan karena rasa panik yang mulai menjalar ke seluruh sistem sarafnya.
Tatapan kosong wanita itu kini terfokus tepat pada pupil mata Rian, menguncinya dalam keheningan yang mencekam.
Di dalam kegelapan manik mata Evelyn, Rian tidak melihat pantulan wajahnya sendiri yang sedang ketakutan.
Ia justru melihat hamparan kegelapan tanpa batas yang dipenuhi oleh ribuan pasang mata merah yang mengawasinya dengan rasa lapar yang amat sangat.
"Ritual harus diselesaikan," sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi tiba-tiba berdenting keras di dalam kepala Rian, memecah kepanikannya.
[PERINGATAN SISTEM: Batas waktu ritual harian tersisa 4 menit 12 detik. Kegagalan menyelesaikan ritual akan mengakibatkan penolakan energi secara brutal dan kematian instan bagi pengguna.]
Angka digital berwarna merah menyala berkedip cepat di sudut pandang Rian, menghitung mundur waktu hidupnya dengan kejam.
Detik demi detik yang sangat berharga terus berkurang tanpa ada kesempatan untuk bernegosiasi sedikit pun.
Ketakutan akan kematian yang mengerikan seketika mengalahkan rasa ngeri yang ia rasakan terhadap perubahan aneh pada diri Evelyn.
Akhirnya, Rian memejamkan mata erat-erat, membuang semua keraguan dan membiarkan insting bertahan hidupnya mengambil alih kesadarannya sepenuhnya.
Ia bergerak lebih cepat dan kasar, mengabaikan tatapan aneh Evelyn yang masih terus mengawasinya tanpa berkedip sedikit pun.
Setiap sentakan yang ia lakukan kini terasa seperti perjuangan hidup dan mati yang melelahkan, bukan lagi tentang pemuasan ego atau kesenangan seksual belaka.
Kepuasan fisik itu akhirnya datang juga setelah perjuangan yang melelahkan, namun rasanya benar-benar hambar dan dipenuhi rasa cemas yang sangat mendalam.
Saat energi kehidupan Evelyn tersedot masuk ke dalam tubuhnya melalui sistem, Rian tidak merasakan ledakan kekuatan yang menyegarkan seperti biasanya.
Sebaliknya, ia merasa seolah ada cairan hitam yang kotor dan dingin sedang ikut mengalir ke dalam nadinya, meracuni jiwanya perlahan-lahan.
Begitu badai gairah itu mereda, Evelyn langsung terkulai lemas di atas kasur sutra yang berantakan, tidak sadarkan diri sepenuhnya.
Napasnya terdengar teratur namun sangat lemah, seolah ia baru saja melintasi batas antara hidup dan mati.
Wajah cantiknya yang biasa memancarkan keangkuhan kini pucat pasi, seperti mayat yang baru saja dikuras seluruh darahnya.
Rian buru-buru turun dari ranjang dengan tubuh yang gemetar hebat akibat sisa kepanikan dan kelelahan fisik yang luar biasa.
Ia menyambar pakaiannya yang berserakan di lantai, mengenakannya kembali dengan tergesa-gesa tanpa memedulikan kancing kemejanya yang terpasang berantakan.
Perasaan bersalah, jijik pada diri sendiri, dan ketakutan yang luar biasa kini berkecamuk di dalam dadanya yang bergemuruh.
*Apakah sistem ini benar-benar hanya sebuah alat bantu untuk membalas dendam dan bertahan hidup?*
*Atau... apakah aku sebenarnya hanyalah seekor domba persembahan yang sedang menuntun monster kegelapan ke dunia manusia?*
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya bagai lingkaran setan yang tidak memiliki ujung pangkal.
Selama ini ia berpikir bahwa dialah sang pengendali tunggal atas kekuatan luar biasa yang bersemayam di balik celananya ini.
Ia berpikir bahwa para wanita yang ia taklukkan hanyalah korban dari pesona mutlaknya yang tak tertahankan.
Namun sekarang, keyakinan itu hancur berantakan tanpa sisa.
Langkah kegelapan yang terasa seberat timah membawanya menuju kamar mandi pribadi yang terletak di sudut ruang VIP mewah tersebut.
Ia sangat membutuhkan air dingin untuk menyiram kepalanya dan menjernihkan pikirannya yang kacau balau akibat kejadian barusan.
Ia perlu meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah halusinasi akibat kelelahan fisik yang ekstrem.
Suara gemercik air yang mengalir dari keran wastafel berlapis emas sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang bagai senar gitar yang siap putus.
Rian menangkupkan air dingin ke wajahnya berulang kali, menikmati sensasi dingin yang membekukan kulit wajahnya yang panas.
Ia mencoba menghalau bayangan mata merah yang terus berkedip di balik kelopak matanya setiap kali ia memejamkan mata.
Perlahan, Rian mengambil handuk bersih berlogo hotel bintang lima dan menyeka sisa-sisa air di wajahnya dengan gerakan lambat.
Keheningan yang tidak wajar mendadak menyelimuti ruangan kamar mandi itu, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat bulu kuduknya kembali berdiri.
Bahkan suara musik dentuman bas yang sangat keras dari lantai dansa di luar ruangan VIP seolah-olah memudar sepenuhnya, digantikan oleh kesunyian yang mati.
Rian mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih berdetak liar di dalam rongga dadanya.
Ia kemudian mengangkat wajahnya perlahan untuk menatap cermin besar berbingkai perak yang terpajang kokoh di hadapannya.
Ia ingin melihat wajahnya sendiri, ingin memastikan bahwa ia masih tetaplah Rian yang ceria dan karismatik, bukan sosok lain yang asing.
Namun, apa yang ia lihat di dalam pantulan cermin itu membuat seluruh darah di dalam tubuhnya mendadak membeku seketika.
Tepat di belakang pantulan dirinya, kegelapan di sudut kamar mandi yang remang-remang tampak mengental dan bergerak membentuk pusaran kabut hitam yang pekat.
Rian menahan napasnya dalam-dalam, matanya membelalak lebar dengan pupil yang mengecil saat melihat sesosok bayangan hitam bertanduk samar mulai muncul dari balik kegelapan tersebut.
Bayangan itu memiliki siluet yang menyerupai tubuh manusia jangkung, namun dengan tanduk melengkung tajam yang mencuat dari kepalanya.
Aura kegelapan yang pekat menyelimuti seluruh tubuhnya, memancarkan hawa dingin yang begitu ekstrem hingga membuat permukaan cermin mulai berembun tipis.
Rian mencoba membalikkan badannya untuk melihat ke belakang secara langsung, namun tubuhnya mendadak kaku total, terkunci oleh rasa takut purba yang melumpuhkan seluruh ototnya.
Napasnya memburu, tenggorokannya terasa tersumbat hingga ia tidak mampu mengeluarkan suara teriakan sekecil apa pun untuk meminta bantuan.
Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan dalam kondisi lumpuh itu adalah menatap cermin di hadapannya dengan pandangan ngeri yang tak terlukiskan oleh kata-kata.
Bayangan di cermin itu tidak mengikuti gerakan Rian; ia malah menyeringai lebar dan menjilat bibirnya sendiri.