Chapter 6 of 8

Chapter 6: Bayangan Putih yang Mengintai

1.2k words

Keringat dingin mengalir lambat di sepanjang tulang punggung Rian, membasahi kaus tipis yang ia kenakan di balik jaket denim hitamnya. Langkah kakinya terseret pelan di atas lantai marmer Grand Metropolitan Mall yang berkilau bersih di bawah sorotan lampu gantung raksasa. Aroma kopi panggang yang kuat dari kedai waralaba populer bercampur dengan wewangian parfum mahal dari butik-butik kosmetik di sekitarnya, menciptakan atmosfer kelas atas yang biasanya terasa nyaman. Hari ini, semua kemewahan itu justru terasa mencekik leher Rian. Suara bising pengunjung mall, tawa sepasang kekasih yang berjalan bergandengan tangan, dan denting sendok dari area pujasera terdengar seperti dengung statis yang merusak konsentrasinya. Pikiran Rian masih tertinggal di sofa kulit kantor Detektif Linda, di mana beberapa jam lalu ia baru saja mempertaruhkan segalanya untuk menyerap energi kehidupan wanita itu demi memperpanjang usianya. "Sialan," bisik Rian pelan, merapatkan jaketnya saat embusan pendingin ruangan menerpa wajahnya yang pucat. Panel hologram berwarna biru redup melayang di batas pandangannya, hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri. [Sistem Eksibionis: Waktu tersisa hingga batas penyerapan energi berikutnya: 21 jam 14 menit.] [Peringatan: Jejak energi asing dari faksi 'Kultus Suci Chastity' terdeteksi pada aura Anda. Tingkatkan kewaspadaan.] Tulisan berwarna merah menyala itu terus berkedip-kedip di sudut kiri atas penglihatannya, seolah-olah sedang menertawakan ketakutan yang kini mencengkeram dadanya erat-erat. Rian mengepalkan tangannya di dalam saku celana, merasakan buku-buku jarinya memutih akibat tekanan yang terlalu keras karena ia berusaha menahan gejolak kecemasan. Kenangan lama tiba-tiba menyeruak tanpa diundang, membawa kembali rasa sakit mendalam yang telah lama ia kubur di balik senyum cerianya selama ini. Wajah Melati, cinta pertamanya, muncul di benaknya dengan senyuman dingin dan meremehkan yang sanggup merobek harga dirinya hingga tidak bersisa. "Kamu itu lemah, Rian. Laki-laki tidak berguna seperti ini tidak akan pernah bisa memuaskanku atau membuatku bangga," suara Melati berbisik di kepalanya, persis seperti malam jahanam beberapa tahun lalu saat wanita itu mencampakkannya. Napas Rian memburu saat ingatan itu memicu denyut hangat di bagian bawah perutnya, tempat di mana aset rahasia pemberian sistem berada. Alat vitalnya yang kini telah diubah menjadi lambang kesempurnaan mutlak terasa bereaksi, seolah menuntut untuk dipamerkan dan digunakan kembali untuk menaklukkan ego wanita lain agar ia bisa merasakan validasi. Hanya dengan cara itulah Rian merasa benar-benar hidup, merasa berkuasa, dan merasa aman dari bayang-bayang penolakan yang selalu menghantuinya. "Aku butuh target baru untuk hari esok. Aku tidak boleh mati konyol hanya karena kehabisan waktu," gumamnya pada diri sendiri, mengedarkan pandangan ke sekeliling atrium mall yang ramai. Matanya memindai barisan wanita yang berjalan melewatinya dengan ketajaman seorang predator yang sedang mencari mangsa potensial. Seorang wanita muda berambut pirang buatan dengan gaun mini merah jambu berjalan beberapa meter di depannya, membawa beberapa tas belanjaan mewah. Rian mengamati lekuk tubuh wanita itu, mencoba memicu respons dari sistemnya, namun tidak ada reaksi khusus atau notifikasi kecocokan tinggi yang muncul. "Bukan dia," batin Rian, mengembuskan napas kecewa seraya melanjutkan langkah kakinya melewati deretan toko perhiasan. Aroma melati dan vanila yang menguar dari seorang wanita paruh baya yang berjalan melintas justru membuat perutnya mual, mengingatkannya pada aroma tubuh Linda yang baru saja ia eksploitasi. Gairah liar yang biasanya meledak-ledak di dalam dirinya kini terasa tertutupi oleh kabut kecemasan yang semakin tebal seiring berjalannya waktu. Kultus Suci Chastity—nama faksi itu terus berputar-putar di kepalanya seperti kutukan kuno yang siap menerkamnya dari balik kegelapan malam. Siapa sebenarnya mereka? Bagaimana bisa sebuah kelompok asketis rahasia melacak energi spiritual yang diberikan oleh sistem mutakhir ini? --- Langkah Rian terhenti di depan sebuah kolam dekoratif dalam ruangan yang terletak di tengah-tengah atrium utama pusat perbelanjaan tersebut. Gemercik air yang jatuh ke kolam batu hitam di bawahnya biasanya memberikan rasa tenang bagi siapa saja yang mendengarnya, namun hari ini suara itu terdengar seperti detak jam pasir kematiannya. Rasa dingin yang tidak biasa tiba-tiba merayap naik dari ujung kaki Rian, menembus sol sepatu kulitnya yang tebal. Suhu udara di sekitarnya mendadak merosot drastis dalam hitungan detik, membuat beberapa pengunjung di dekatnya reflek mendekap tubuh mereka sendiri. "Kenapa pendingin ruangan di area ini dingin sekali secara tiba-tiba?" keluh seorang wanita yang berjalan melintas di samping kolam. Bulu kuduk Rian berdiri tegak, bukan karena embusan udara dingin biasa, melainkan karena insting bertahannya menjeritkan alarm bahaya yang sangat nyaring di dalam kepalanya. Perlahan, ia memutar tubuhnya, mengikuti dorongan tak kasat mata yang memaksa matanya untuk menatap ke arah lantai dua mall. Berdiri di dekat pagar kaca pembatas lantai dua, tepat di depan pilar beton besar yang kokoh, seorang wanita sedang berdiri diam. Sosoknya begitu mencolok di tengah kerumunan pengunjung mall yang sibuk berlalu-lalang dengan pakaian kasual berwarna-warni. Wanita itu mengenakan gaun panjang serba putih dengan potongan yang sangat anggun namun tertutup rapat dari ujung kaki hingga batas lehernya. Rambut hitam pekatnya yang panjang dibiarkan terurai lurus, membingkai wajahnya yang pucat dengan simetrisitas yang hampir tidak manusiawi. Sebuah kalung perak melingkar di leher jenjangnya, menonjolkan sebuah liontin berbentuk salib perak tanpa palang horizontal—hanya sebuah tiang vertikal tunggal yang tajam seperti paku bumi. Pandangan mata wanita itu langsung mengunci posisi Rian di lantai dasar, tidak beralih sedikit pun sejak Rian mendongak menatapnya. "Siapa dia?" bisik Rian dengan tenggorokan yang tiba-tiba terasa sangat kering seperti tersumbat pasir. Garis wajah wanita itu sangat tegas, dihiasi sepasang mata abu-abu dingin yang tidak memancarkan emosi manusiawi apa pun—seperti sepasang batu es yang tertanam kuat. Rasa aman yang selama ini dibangun Rian di balik kekuatan Sistem Eksibionis runtuh sepenuhnya di bawah tatapan tajam wanita itu. Tatapan itu tidak seperti pandangan wanita-wanita lain yang biasanya dipenuhi gairah atau rasa penasaran saat melihat pesona fisik Rian yang luar biasa. Sebaliknya, pandangan dingin itu seolah-olah memiliki kekuatan fisik yang nyata, menembus lapisan pakaian tebal yang dikenakan Rian dan langsung tertuju pada rahasia terdalam di balik celananya. Rian merasakan bagian intimnya menegang kesakitan, bukan karena gairah seksual, melainkan karena rasa nyeri yang tajam seperti ditusuk oleh ribuan jarum es tak kasat mata. [Peringatan Keras: Keberadaan entitas 'Pembersih Chastity' terdeteksi dalam jarak dekat. Energi spiritual Anda sedang ditekan secara paksa oleh domain asing.] Panel hologram di depan mata Rian berubah menjadi warna merah darah yang pekat, berkedip dengan cepat diiringi suara dengung yang memekakkan telinga di dalam kepalanya. Lutut Rian terasa lemas seketika, memaksanya untuk berpegangan erat pada pinggiran marmer kolam dekoratif di belakangnya agar tidak ambruk ke lantai. --- Sunyi seolah merayap menguasai seluruh penjuru mall, meredam semua suara bising pengunjung menjadi keheningan yang mencekam bagi indra pendengaran Rian. Wanita berpakaian putih itu masih menatapnya dari lantai atas, tanpa melakukan gerakan agresif apa pun selain mengamati mangsanya yang sedang gemetar ketakutan. Rian mencoba menggerakkan kakinya untuk melarikan diri ke arah pintu keluar terdekat, namun otot-ototnya terasa kaku dan membeku, menolak untuk mematuhi perintah otaknya sendiri. "Jangan takut... aku harus melawan pengaruh ini," batin Rian, mencoba memanggil kekuatan sistem untuk memulihkan kendali atas tubuhnya sendiri. [Gagal: Tekanan energi eksternal terlalu kuat. Sistem memasuki mode perlindungan pasif untuk menghemat sisa energi kehidupan.] Sialan, sistem yang selama ini ia agung-agungkan sebagai dewa penolong ternyata tidak berdaya menghadapi kehadiran wanita misterius utusan kultus ini. Ketakutan masa lalu kembali menghantam dadanya—ketakutan akan menjadi sosok yang lemah, tidak berdaya, dan menjadi sasaran empuk untuk dihancurkan oleh kekuatan yang lebih besar. Gigi Rian bergemeletuk keras, menahan gelombang dingin yang kini mulai merambat naik dari perut ke dadanya, mengancam akan membekukan jantungnya yang berdetak tidak keruan. Wanita itu perlahan mengangkat satu tangannya yang mengenakan sarung tangan putih bersih, menyentuh liontin salib tanpa palang di dadanya dengan gerakan yang sangat anggun namun dingin. Bibirnya yang pucat bergerak sedikit, seolah membisikkan sebuah kalimat penghakiman tanpa suara yang langsung bergema keras di dalam kepala Rian. "Pendosa," sebuah suara hampa terdengar jelas di benak Rian, membuat kepalanya terasa seperti dihantam oleh palu godam tak kasat mata. Rian mengerang kesakitan, memegangi kepalanya dengan kedua tangan sementara tubuhnya mulai gemetar hebat di tepi kolam. Beberapa pengunjung mall yang lewat mulai menatapnya dengan pandangan heran dan berbisik-bisik, namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari pertempuran energi spiritual yang sedang terjadi. Bagi orang-orang biasa di sekelilingnya, Rian hanyalah seorang pemuda biasa yang sedang mengalami sakit kepala mendadak atau serangan panik di dekat area kolam. Wanita berpakaian putih itu tampaknya sudah merasa cukup dengan peringatan pertama yang diberikannya kepada sang pembawa sistem mesum itu. Saat wanita itu berbalik pergi, genangan air di dekat kaki Rian membeku seketika, meninggalkan lambang bunga lili yang layu.

End of Chapter 6