Chapter 30 of 30

Chapter 30: Peluncuran Pelan, Api Membara

693 words

Jemari Arick tiba-tiba menarik diri, meninggalkan kekosongan yang dingin dan mengejutkan di antara paha Helena. Sebuah sensasi mendadak membuat Helena tersentak, punggungnya melengkung tipis dari bantal, matanya terbelalak karena kehilangan. Udara dingin seketika menyergap kehangatan yang baru saja pergi, menciptakan getaran halus di seluruh tubuhnya. Desah napas yang tertahan, _ngh..._, lolos dari bibirnya, sebuah protes bisu yang memohon agar sentuhan itu kembali. Helena menatap Arick, pupil matanya membesar, dipenuhi pertanyaan dan kerinduan yang membakar. Rasa panik kecil menyergapnya, khawatir jika Arick akan berhenti di sana, meninggalkan dirinya terombang-ambing di puncak gairah yang belum tuntas. Wajahnya memerah padam, sebuah percampuran antara malu dan hasrat yang tak tertahankan. Jemari Helena mengepal erat di sisi tubuhnya, menahan diri agar tidak meraih Arick, tidak memohon secara gamblang. Arick mengamati reaksinya dengan tatapan puas, senyum tipis melengkung di bibirnya yang penuh. Tatapannya, begitu menghangatkan sekaligus menelanjangi, menari-nari di wajah Helena, turun ke leher jenjangnya, lalu mampir sejenak di puncak payudaranya yang masih memerah dan basah bekas cumbuan. Sebuah tawa kecil, _hmm-hh_, bergulir dari dadanya, seperti melodi yang menggoda dan memanjakan. Dia tahu persis apa yang Helena rasakan, apa yang Helena inginkan. “Kenapa terkejut, Sayang?” bisik Arick, suaranya serak dan dalam, sebuah cumbu rayu yang meninju tepat ke ulu hati Helena. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat, lututnya menyentuh paha bagian dalam Helena yang masih sedikit terbuka, menciptakan gesekan kain dan kulit yang halus. Kehangatan tubuhnya merambat, membalut kekosongan yang sempat ditinggalkan jemarinya. Aroma maskulin Arick, perpaduan mint dan keringat yang samar, memenuhi indra penciuman Helena, memabukkan. Helena menarik napas dalam, bibirnya sedikit bergetar. “Aku… aku kira kamu berhenti,” jawabnya, suaranya nyaris tak terdengar, sebuah pengakuan memalukan akan kebutuhannya. Pipinya semakin merona, menatap Arick dengan tatapan memelas yang justru semakin menyalakan nafsu pemuda itu. Otot-otot di perutnya menegang, menunggu, mendamba sentuhan Arick yang lebih mendalam, lebih penuh. Arick menyeringai, sebuah ekspresi nakal yang menawan. “Berhenti?” Tangan kanannya bergerak perlahan, menyingkap selimut satin yang semula menutupi area intim Helena. Mata Arick terpaku pada kebasahan yang berkilauan, pada kelopak yang sedikit membengkak, bukti nyata betapa siapnya Helena. Sebuah gelombang kebanggaan melingkupi Arick, melihat betapa dirinya bisa membuat wanita dewasa ini begitu tak berdaya dan bergairah. “Aku bahkan belum mulai yang sebenarnya, Sayangku.” Arick kemudian mengangkat tubuhnya sedikit, mencondongkan badan ke depan, lalu menempatkan dirinya di antara kedua paha Helena yang otomatis terbuka lebih lebar. Sensasi kulit bertemu kulit, kehangatan paha Arick yang kokoh menyentuh bagian dalam paha Helena, mengirimkan gelombang listrik ke seluruh sarafnya. Napas Helena tercekat, matanya terpaku pada Arick yang kini berada tepat di atasnya, ketelanjangan mereka hanya dipisahkan oleh udara tipis dan kain sprei. Dia merasakan beban Arick di atasnya, namun bukan beban yang menekan, melainkan beban yang mengancam untuk menenggelamkan dirinya dalam pusaran kenikmatan. Tatapan Arick mengunci tatapannya, sebuah janji tersirat akan hal-hal luar biasa yang akan datang. Jemari Arick membelai lembut pinggul Helena, merasakan kelengkungan tulangnya, kelembutan kulitnya, dan cengkeraman tangannya mengisyaratkan kendali penuh yang akan ia ambil. Sebuah desiran, _ssshh..._, melintas dalam diri Helena, perpaduan takut dan antisipasi. “Siap untuk ini, Sayang?” Arick bertanya, suaranya bergetar rendah, penuh gairah yang menular. Dia menggesekkan ujung kejantanannya yang keras dan hangat di bibir kewanitaan Helena, sebuah sentuhan awal yang membuat tubuh Helena menegang. Sensasi itu terlalu nyata, terlalu intens, sebuah peringatan akan apa yang akan terjadi. Helena memejamkan mata sesaat, sebuah gambaran dosa melintas di benaknya, namun segera terkubur di bawah gelombang hasrat yang jauh lebih besar. Kepala Helena menggeleng pelan, lalu mengangguk, sebuah kontradiksi yang jujur. Siap atau tidak, tubuhnya sudah memutuskan untuk sepenuhnya menyerah pada pemuda di atasnya ini. Dia menginginkannya, menginginkan sensasi penuh yang Arick tawarkan. Sebuah erangan pelan, _mmh-hh_, lolos dari tenggorokannya, sebuah undangan tanpa kata yang Arick pahami dengan sempurna. Helena mengangkat sedikit pinggulnya, naluri purbanya mendesak untuk lebih dekat, untuk menerima. Arick mengukir senyum tipis. “Bagus,” bisiknya, lalu perlahan, dengan gerakan yang begitu lambat dan hati-hati, dia mulai mendorong tubuhnya masuk. Ujungnya yang tumpul menekan lembut, mencari jalan masuk. Helena merasakan sensasi peregangan yang halus, sebuah tekanan yang asing namun mendebarkan. Kehangatan Arick menyelimuti bagian paling sensitifnya, perlahan meresap masuk, sedikit demi sedikit. Sebuah desahan panjang, _aah_, tercekat di tenggorokan Helena, matanya terpejam erat, menikmati setiap milimeter penetrasi yang begitu disengaja. ---

End of Chapter 30

Chapter 30: Chapter 30: Peluncuran Pelan, Api Membara - SELINGKUH: Selingan Indah Keluarga Utuh | Novel AI Studio