Chapter 27 of 30

Ereksi Keras, Bisikan Nakhoda

2.4k words

Udara di kamar tamu terasa tebal, dipenuhi aroma manis mawar dan gairah yang baru saja meledak, masih menyisakan jejak panas di antara paha Helena. Jemari Arick baru saja mencumbunya, membawa jiwanya melayang hingga mencapai puncak kenikmatan, membuatnya menjeritkan nama pemuda itu tanpa sadar. Sekarang, ciuman Arick yang intens perlahan melonggar, bibirnya melumat bibir Helena sekali lagi, mmmuach, sebelum akhirnya menarik diri, menyisakan Helena yang terengah-engah dan memejamkan mata, merasakan denyutan nikmat masih merambat di sekujur tubuhnya. Sebuah sentuhan lembut mendarat di pipinya, ibu jari Arick mengusap area bawah mata Helena, menyingkirkan jejak air mata yang entah sejak kapan telah mengalir. Kelopak matanya terbuka perlahan, menangkap sorot mata Arick yang gelap, penuh kemenangan dan puja. Ada senyum tipis yang bermain di bibir pemuda itu, senyum yang memancar dari dalam, seolah ia baru saja meraih harta karun terbesar di dunia. Helena merasa pipinya memanas, rasa malu menjalar perlahan, menyadari betapa liarnya ia baru saja bersikap, betapa telanjangnya jiwanya di hadapan pemuda belia ini. Arick tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Helena, seolah mengukir setiap inci wajah wanita itu dalam ingatannya, lalu tatapannya turun, menyusuri leher jenjang, bahu polos yang terbuka, hingga berhenti di dadanya yang masih naik turun dengan cepat. Jemari Arick yang semula di pipi, kini menelusuri garis rahang Helena, lalu perlahan bergerak turun, menyentuh lehernya yang berkeringat dingin. Sensasi sentuhan itu begitu lembut, namun mampu membakar lagi sisa-sisa gairah yang masih berdenyut di nadinya. Helena merasakan detak jantungnya kembali menggila, iramanya bertalu-talu di rongga dada. Ia menelan ludah, mencoba mencari kata, namun tenggorokannya terasa kering, tercekat oleh gelombang emosi yang baru. Rasa takjub, malu, sekaligus keinginan yang tak terlukiskan melingkupi dirinya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Otaknya masih kabur, dipenuhi kabut kenikmatan yang memabukkan. Arick menggeser posisinya. Ia duduk di sisi ranjang, menghadap Helena sepenuhnya, kakinya menjejak lantai. Kemudian, dengan gerakan yang disengaja, perlahan namun pasti, ia mendorong selimut yang semula menutupi area intim Helena, menurunkannya hingga hanya menutupi pinggang wanita itu. Tubuh bagian atas Helena kembali telanjang di hadapannya, kulitnya yang berkilau di bawah temaram lampu menyuguhkan pemandangan yang menggoda. Mata Arick kembali menelanjangi dirinya, menyapu setiap lekuk tubuhnya dengan tatapan lapar yang tak pernah Helena dapatkan dari suaminya. “Kau cantik sekali, Bu Helena,” bisik Arick, suaranya serak, rendah, dan penuh getar. Ia tidak menyentuh, hanya menatap, namun tatapan itu sendiri terasa seperti sentuhan yang membakar. Helena merasakan bulu kuduknya meremang, bukan karena takut, melainkan karena gejolak gairah yang kembali menyerbu. Ia ingin membalas, mengucapkan terima kasih, namun bibirnya hanya mampu terbuka sedikit, tanpa suara. Matanya terpaku pada Arick, mengikuti setiap gerakannya, setiap perubahan ekspresi di wajahnya. Perlahan, Arick bangkit berdiri. Gerakannya anggun, namun penuh kekuatan yang tersembunyi. Helena menahan napas, matanya tak berkedip. Ia menyaksikan Arick berdiri tegak di samping ranjang, sosoknya menjulang di hadapan Helena yang masih setengah berbaring, hanya ditutupi selimut sebatas pinggang. Cahaya remang-remang dari lampu tidur menciptakan siluet yang dramatis, membingkai tubuh tegap pemuda itu. Kemudian, Arick melakukan sesuatu yang membuat napas Helena tercekat di tenggorokan, sesuatu yang memicu gelombang kejut di seluruh sistem sarafnya. Arick sengaja membiarkan bagian depan celana dalam boxernya yang berwarna abu-abu itu sedikit melorot, mengekspos pemandangan yang membuat mata Helena terbelalak. Di sana, tegak sempurna, membengkak penuh gairah, adalah ereksi Arick yang keras. Itu adalah penampakan yang paling eksplisit, paling nyata, dan paling menggoda yang pernah Helena lihat. Ukurannya, ketegangannya, urat-urat yang menonjol di permukaannya—semua itu adalah bukti fisik dari janji yang baru saja Arick bisikkan, janji akan kenikmatan yang lebih dalam, lebih liar. Helena merasakan darahnya berdesir hebat, panas menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia menelan ludah, keras, seolah ingin meredakan kekeringan di tenggorokannya, namun yang ada hanyalah desiran gairah yang semakin menjadi. Tubuhnya bereaksi secara insting, inti kewanitaannya berdenyut-denyut, basah dan siap, seolah memohon untuk disentuh, untuk diisi. Pemandangan di hadapannya terlalu nyata, terlalu intens, untuk bisa diabaikan. Ini bukan lagi sekadar impian atau fantasi, ini adalah kenyataan yang berdiri tegak di depannya, menantang segala batas yang selama ini ia patuhi. Arick menatapnya, senyum tipis masih terukir di bibirnya, seolah ia bisa membaca setiap pikiran liar yang melintas di benak Helena. Matanya memancarkan kombinasi nakal dan penuh kemenangan, seolah berkata, ‘Lihatlah apa yang sudah kau bangkitkan.’ Helena merasa pipinya semakin membara, namun ia tidak bisa mengalihkan pandangan. Matanya terpaku pada ereksi Arick yang membusung, seolah ada magnet tak terlihat yang menariknya. Itu adalah pemandangan yang menakutkan, namun pada saat yang sama, begitu memikat, begitu mengundang. Sebuah erangan halus, ngh, nyaris tak terdengar, lolos dari bibir Helena. Ia mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh, namun segera menurunkannya, rasa takut dan hasrat saling tarik ulur di dalam dirinya. Ia belum pernah melihat ereksi sekuat ini, sejelas ini, di kehidupan pernikahannya. Suaminya, selama bertahun-tahun, selalu terburu-buru, selalu redup, tidak pernah sepercaya diri atau sejelas ini dalam menunjukkan gairahnya. Arick adalah anomali, sebuah badai yang siap meluluhlantakkan dinding-dinding pertahanan Helena. Ia merasa tubuhnya gemetar halus. Bukan karena kedinginan, melainkan karena antisipasi yang membakar. Panas merambat naik dari pangkal pahanya, menyebar ke seluruh inti tubuhnya, membuat perutnya terasa melilit. Jantungnya berdebar kencang, dentumannya mengisi telinganya, mengalahkan suara napasnya sendiri yang semakin memburu. Ada desakan kuat dari dalam dirinya, sebuah bisikan primal yang menginginkannya, menginginkan Arick, menginginkan apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Ia tahu ini berbahaya, tabu, terlarang, tapi ia sudah terlanjur jatuh terlalu dalam. Terlalu dalam untuk kembali. Arick melangkah maju, perlahan, hingga ia berdiri tepat di antara kedua kaki Helena yang masih terlentang di ranjang, tersembunyi di balik selimut. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa inci, begitu dekat hingga Helena bisa merasakan panas tubuh Arick memancar, menembus selimut tipis yang membalutnya. Ia bisa mencium aroma maskulin pemuda itu yang khas, bercampur dengan wangi mawar dan bau gairah mereka yang baru saja meledak. Aroma itu memabukkan, membius, membuat Helena semakin kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Arick mencondongkan tubuhnya, sedikit membungkuk. Wajahnya kini berada sangat dekat dengan wajah Helena, napasnya yang hangat menerpa bibir wanita itu. Sorot matanya yang gelap menghunjam langsung ke dalam mata Helena, seolah mencari tahu seberapa jauh ia bisa mendorong batas-batas ini. Sebuah senyum nakal terukir di bibirnya, bibir yang baru saja mencumbunya hingga ia menjeritkan namanya. Helena merasakan darahnya berdesir lagi, panasnya naik ke pipi, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. “Bagaimana, Bu Helena? Sudah siap berlayar lebih jauh?” bisik Arick, suaranya rendah, serak, namun penuh otoritas. Kata-kata itu, ‘berlayar lebih jauh’, terdengar begitu menggoda, begitu menantang. Helena merasakan jantungnya berdebar kencang, iramanya memukul-mukul dadanya. Ia menelan ludah lagi, merasakan kekeringan di tenggorokannya. Siap? Apakah ia siap untuk ini? Apakah ia siap untuk menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada pemuda ini, kepada candu terlarang yang ditawarkannya? Tubuhnya sudah menjawab, basah dan berdenyut, jauh sebelum otaknya sempat memproses pertanyaan itu. Arick menunggu, tatapannya lekat, tanpa sedikit pun keraguan. Ia tahu ia memegang kendali. Ia tahu Helena sudah berada di bawah pengaruhnya. Ia adalah nakhoda, dan Helena adalah kapalnya, siap untuk dibawa ke mana pun ia mau. Helaan napas Helena terdengar sedikit gemetar. Ia mencoba mencari suara, mencari kata-kata penolakan, namun yang keluar hanyalah desahan tipis, aah, yang lebih terdengar seperti persetujuan. Tangannya bergerak, meraih selimut, namun tidak untuk menutupi dirinya, melainkan untuk menggenggamnya erat, seolah mencari pegangan di tengah badai gairah yang sedang melanda. “Jangan takut, Bu Helena,” bisik Arick lagi, nadanya berubah menjadi lebih lembut, lebih meyakinkan, namun masih menyimpan jejak dominasi. “Saya akan jadi nakhodamu. Saya akan membawamu ke samudra kenikmatan yang belum pernah kau jelajahi. Percayalah padaku.” Jemari Arick yang semula memegangi selimut, kini menyelinap masuk ke bawahnya, menyentuh pinggang Helena yang ramping. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik, membakar kulitnya yang sensitif, membuat tubuhnya melengkung sedikit secara refleks. Ia merasakan jemari Arick perlahan merayap, menyusuri lekuk pinggulnya, berhenti tepat di atas paha dalamnya. Panas, begitu panas, di mana pun kulit Arick menyentuhnya. Helena menutup matanya, merasakan napasnya tertahan di paru-paru. Ia tidak bisa menolak. Ia tidak ingin menolak. Ia ingin berlayar, ia ingin merasakan samudra kenikmatan itu, apa pun risikonya. Arick adalah candu yang ia butuhkan, api yang menghidupkan kembali jiwanya yang mati rasa. Suara jantungnya berdebar kencang, berpacu dengan detak jantung Arick yang kini bisa ia rasakan dari kedekatan mereka. Aroma keringat mereka bercampur, menciptakan wewangian baru, wewangian gairah yang tak terbantahkan. Arick tersenyum lagi, senyum penuh percaya diri, seolah sudah tahu jawabannya. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan, menenangkan. Kemudian, ia mendekat lagi, menempelkan bibirnya di telinga Helena. Kehangatan napasnya, ditambah bisikan serak, membuat seluruh tubuh Helena merinding, dari tengkuk hingga ujung kaki. Sensasi geli dan panas menjalar di area sensitif itu, memicu denyutan baru di inti kewanitaannya. Ia bisa merasakan denyut nadi di pelipisnya sendiri, berpacu dengan liar. “Siap-siap, Bu,” bisik Arick, suaranya penuh janji, penuh godaan yang tak terbantahkan. Jemarinya yang tadi di paha dalam, kini bergerak naik, menyentuh tepi celana dalam Arick sendiri yang sedikit melorot, memperjelas pemandangan ereksi kerasnya yang siap untuk beraksi. Sebuah getaran halus, aah, melintas di tubuh Helena. Ia merasakan inti tubuhnya meremas, basah dan berdenyut, memohon untuk disentuh lebih jauh. Ia membuka mata, menatap Arick dengan tatapan yang penuh hasrat, penuh kepasrahan. Ia bukan lagi dirinya sendiri, ia adalah Helena yang baru, Helena yang liar, Helena yang menginginkan Arick sepenuhnya. Arick tidak menunggu jawaban. Bibirnya bergerak, menempel di leher Helena, menghisap kulit di sana dengan lembut, sluurp, meninggalkan jejak kemerahan yang akan menjadi buktinya. Helena mendongakkan kepalanya, memberikan akses lebih, sebuah desahan pasrah, aah, yang tertahan di tenggorokan. Jemari Arick yang semula di pinggang, kini bergerak turun, menyentuh paha bagian dalam Helena yang masih ditutupi selimut. Ia tidak menyentuhnya langsung, hanya membelai area di dekatnya, menciptakan ketegangan yang lebih intens. Panas tubuh Arick, melalui celana dalamnya yang tipis, terasa begitu dekat, begitu mengundang. Helena merasakan otot-otot di perutnya menegang, kakinya sedikit bergetar. Sebuah sensasi aneh, campuran antara ketakutan dan kegembiraan, membanjiri dirinya. Ini adalah sebuah petualangan, perjalanan ke samudra yang belum pernah ia bayangkan. Dan Arick, pemuda belia yang memancarkan kekuatan dan daya pikat ini, adalah nakhodanya. Ia akan menyerahkan kemudi sepenuhnya, membiarkan Arick membawanya ke mana pun ia mau. Tidak ada lagi penolakan, tidak ada lagi keraguan. Hanya ada keinginan yang membara, keinginan untuk merasakan Arick sepenuhnya, untuk membiarkan Arick mengisi kekosongan yang selama ini menggerogoti jiwanya. Arick mengangkat kepalanya dari leher Helena, menatapnya lagi, matanya yang gelap kini berkilat-kilat penuh nafsu. Ia bisa melihat bayangan dirinya di mata Helena, pantulan dari keinginan yang sama-sama membara. Nafas Arick terdengar berat, grrr, menahan gejolak dalam dirinya. Ia mencondongkan tubuhnya lagi, bibirnya nyaris menyentuh bibir Helena, namun tidak. Ia ingin membuat Helena menunggu, ingin membangun ketegangan ini sampai mencapai puncaknya. Ia ingin Helena sepenuhnya menjadi miliknya, bahkan dalam setiap bisikan dan setiap tatapan. Ia adalah pemburu, dan Helena adalah mangsanya, siap untuk ditaklukkan. “Jangan khawatir, Bu,” bisik Arick, suaranya kini kembali pada nada menggoda yang nakal. Ia mengusap pipi Helena, ibu jarinya membelai tulang pipi wanita itu dengan sentuhan yang begitu intim. “Perjalanan kita baru saja dimulai. Dan saya jamin, ini akan menjadi pelayaran yang paling indah, paling liar, dan paling tak terlupakan dalam hidupmu.” Helena merasakan dadanya bergemuruh, sebuah bisikan kuat dari dalam dirinya, mengatakan bahwa ia percaya pada setiap kata yang diucapkan Arick. Ia percaya bahwa Arick akan membawanya ke puncak kenikmatan yang belum pernah ia raih. Ia percaya bahwa Arick adalah jawaban atas doa-doanya yang tersembunyi. Arick tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih bersih. Senyum itu memancarkan pesona yang luar biasa, pesona yang mampu meluluhkan setiap pertahanan Helena. Ia menggeser posisinya, kini berlutut di antara kedua kaki Helena yang masih tertutup selimut. Tangannya bergerak, meraih selimut tipis itu, lalu perlahan menariknya ke bawah, menyingkap sepenuhnya bagian bawah tubuh Helena. Helena merasakan hembusan napasnya sendiri tercekat, matanya terpejam sejenak karena rasa malu yang menyeruak, namun juga karena antisipasi yang membakar. Ia telanjang sepenuhnya di hadapan Arick, tanpa sehelai benang pun. Arick membiarkan pandangannya menyapu tubuh telanjang Helena, matanya menelanjangi setiap inci kulitnya dengan tatapan memuja. Sebuah desahan panjang, mmm-hh, lolos dari bibirnya. Ia melihat Helena seperti sebuah mahakarya, sebuah dewi yang baru saja turun dari langit. Wajahnya memancarkan kekaguman yang tulus, kekaguman yang membuat Helena merasa begitu berharga, begitu diinginkan, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasakan inti tubuhnya berdenyut lebih keras, basah dan siap, seolah merespons tatapan Arick yang membakar. “Kau sungguh sempurna, Bu Helena,” bisik Arick, suaranya nyaris seperti gumaman, penuh pemujaan. Jemarinya bergerak, menyentuh paha dalam Helena yang mulus. Sentuhan itu ringan, namun memicu gelombang sensasi yang tak tertahankan. Ia menyusuri paha itu perlahan, naik ke atas, semakin dekat ke area inti kewanitaan Helena. Helena merasakan seluruh tubuhnya menegang, napasnya tersangkut di tenggorokan, menunggu sentuhan Arick yang akan datang. Ia bisa merasakan panas tubuh Arick, bau maskulinnya, dan denyutan ereksi kerasnya yang kini berada sangat dekat dengan inti tubuhnya. Itu adalah sensasi yang memabukkan, sebuah janji kenikmatan yang sudah di ambang mata. Arick mendekatkan tubuhnya, mencondongkan kepalanya lebih jauh. Bibirnya kini menyentuh area intim Helena, sebuah sentuhan ringan, namun mampu membuat Helena melengkungkan punggungnya, sebuah desahan, ngh, lolos dari bibirnya. Ia merasakan lidah Arick bermain-main di sana, membelai kelitorisnya dengan lembut, sluurp. Sebuah gelombang kenikmatan baru menyerbu, lebih intens, lebih dalam dari sebelumnya. Ia merasakan inti tubuhnya berdenyut hebat, cairan gairah membanjiri area itu, memohon untuk disentuh lebih jauh. Ini adalah perjalanan yang ia inginkan, pelayaran yang akan membawanya jauh ke dalam samudra gairah yang tak terbatas. Arick mengangkat kepalanya sejenak, menatap mata Helena yang kini sudah sayu, penuh hasrat. Sebuah senyum kemenangan terukir di bibirnya. Ia tahu ia telah memenangkan Helena, ia telah menaklukkan setiap keraguan yang ada di dalam diri wanita itu. Ia adalah nakhoda, dan Helena adalah kapalnya, siap untuk dibawa berlayar, siap untuk merasakan setiap ombak, setiap badai kenikmatan yang akan Arick ciptakan. Ia mencondongkan tubuhnya lagi, bibirnya kembali menyentuh area intim Helena, dan sebuah ciuman basah, cplok... cplok, mendarat di sana, sebuah janji akan kenikmatan yang tak terhingga. Helena merasakan kakinya gemetar, inti tubuhnya berdenyut hebat, dan sebuah bisikan liar dari dalam dirinya memohon Arick untuk tidak berhenti. Ia ingin lebih, ia ingin semuanya. Ia ingin merasakan Arick mengisi kekosongan yang ada di dalam dirinya, mengisi setiap inci tubuhnya dengan kehangatan dan gairahnya. Ia tidak peduli lagi dengan dunia luar, dengan suaminya, dengan segala batasan yang ada. Saat ini, hanya ada Arick, hanya ada dirinya, dan samudra kenikmatan yang terbentang luas di hadapan mereka. Arick memegang erat pinggang Helena, jemarinya meremas lembut kulit di sana, sebuah sentuhan yang mengirimkan gelombang listrik ke seluruh tubuh Helena. Ia menarik napas dalam, matanya berkilat-kilat penuh gairah yang tak lagi bisa ia sembunyikan. “Kita akan berlayar lebih jauh, Bu.”

End of Chapter 27

Chapter 27: Ereksi Keras, Bisikan Nakhoda - SELINGKUH: Selingan Indah Keluarga Utuh | Novel AI Studio