Chapter 25 of 30

Liar dan Dalam, Jiwa Terbakar

1.8k words

Jari-jari Arick bermain nakal di balik renda tipis celana dalamnya, menggesek perlahan, begitu hati-hati, seolah takut mengusik sesuatu yang rapuh di sana. Jemarinya yang panjang dan hangat menelusuri lekukan intim, membelai kulit halus yang kian memanas. Helena menarik napas tajam, bibirnya sedikit terbuka, merasakan gelenyar aneh yang menyebar dari titik sentuhan itu, merambat cepat ke seluruh saraf tubuhnya. “Kau sudah sangat basah, Bu Helena,” bisik Arick, suaranya serak dan dalam, bergetar di telinga Helena. Hembusan napasnya yang panas menggelitik daun telinga, mengirimkan getaran tak terduga yang membuat bulu kuduk Helena meremang sekaligus nyaris membuatnya berteriak. Kata-kata itu, diucapkan begitu gamblang, tanpa tedeng aling-aling, menusuk langsung ke inti kesadarannya, menelanjangi segala kepura-puraan yang selama ini ia kenakan. Helena hanya bisa mendesah, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Malu merambat di wajahnya yang memerah, namun gairah yang membakar jauh lebih kuat, menenggelamkan rasa itu ke dasar jurang. Ia mendapati dirinya memejamkan mata, kepalanya sedikit mendongak, pasrah pada setiap sentuhan Arick yang seolah memiliki sihir tersendiri. Jemari Arick kini tidak lagi sekadar menggesek, melainkan mulai meremas pelan gundukan lembut di balik rendanya, memilin perlahan titik paling sensitif yang telah berdenyut hebat. Sensasinya begitu intens, begitu memabukkan, membuat perut Helena bergejolak, mendamba lebih. “Apa ini yang Ibu inginkan?” tanya Arick lagi, suaranya kini terdengar seperti bisikan iblis yang menggoda, penuh janji kenikmatan. Ia menarik tangannya sejenak, membuat Helena terkesiap, nyaris merengek protes. Kekosongan itu terasa begitu menyiksa, sebuah kehilangan yang begitu cepat datang dan pergi. Helena membuka mata, menatap Arick yang kini duduk tegak di antara kedua kakinya yang sedikit terbuka. Wajahnya begitu dekat, mata Arick menatapnya lekat, nyaris menembus jiwanya. Ada senyum tipis di bibir pemuda itu, senyum penuh kemenangan, senyum yang tahu persis apa yang sedang terjadi dalam diri Helena. Arick mengangkat tangannya, melepaskan renda celana dalam Helena dengan gerakan yang lambat dan penuh perhitungan. Setiap gerakan seolah disengaja, untuk memperpanjang ketegangan, untuk membiarkan antisipasi menggerogoti Helena hingga ke tulang. Kain tipis itu melorot, membebaskan area intimnya dari belenggu. Udara dingin seketika menyentuh kulitnya yang basah, menambah sensasi geli yang aneh. Helena merasakan seluruh darahnya berdesir, terfokus pada satu titik di antara pahanya. Ia melihat Arick mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat, begitu dekat hingga napas hangatnya menerpa langsung ke sana. Jantung Helena berdebar kencang, menggila, rasanya seperti ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia tidak pernah merasakan kegugupan dan gairah sedahsyat ini seumur hidupnya. Bahkan di malam pernikahannya yang dulu, perasaannya tidak pernah sekuat dan seliar ini. Ini adalah sebuah sensasi yang benar-benar baru, sebuah penjelajahan ke wilayah yang tidak pernah ia duga akan ia kunjungi. Keanggunannya yang selama ini terjaga rapat, kini runtuh di hadapan pemuda itu, seolah tak berdaya melawan magnet yang Arick pancarkan. “Aku ingin mendengar suaramu, Bu Helena,” bisik Arick, sebelum akhirnya menundukkan kepalanya. Lidahnya yang hangat dan lembut menyentuh titik sensitifnya, *sluurp*, sebuah sentuhan langsung yang mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuh Helena. Ia menjerit tertahan, *Nngghh...*, punggungnya melengkung secara refleks, jemarinya mencengkeram erat seprai kasur di bawahnya. Sensasi itu begitu asing, begitu mendalam, jauh melampaui segala sentuhan yang pernah ia rasakan sebelumnya. Lidah Arick mulai bergerak, melingkari, menyesap, menghisap dengan ritme yang lambat namun pasti. Setiap gerakan kecil adalah sebuah ledakan baru bagi Helena, sebuah gelombang kenikmatan yang tak terlukiskan. Helena terengah-engah, matanya terpejam erat, menikmati setiap cumbuan Arick. Ia merasa jiwanya ditarik keluar dari tubuhnya, melayang di antara kabut gairah. Pikiran warasnya seolah raib, digantikan oleh insting murni yang hanya tahu satu hal: lebih. Ia ingin lebih dari sentuhan memabukkan ini. Tubuhnya bergerak tanpa sadar, pinggulnya sedikit terangkat, mencari kontak yang lebih dalam, lebih intens. Lidah Arick, sungguh, adalah candu terlarang yang kini merasuk ke dalam setiap sel tubuhnya, menjeratnya dalam pusaran kenikmatan yang begitu manis dan berbahaya. Ia tidak peduli lagi akan apa pun, tentang suaminya yang tertidur pulas di kamar sebelah, tentang janji-janji kesetiaan yang pernah ia ucapkan. Yang ada hanyalah Arick, sentuhannya, dan gairah yang membakar hingga ke sumsum tulang. --- Arick terus mencumbui, tidak memberikan jeda sedikit pun, seolah ingin memastikan Helena benar-benar tenggelam dalam lautan gairah. Lidahnya bergerak lincah, menyesap, menghisap, memilin dengan intensitas yang kian bertambah. *Sluuurp... cplok... cplok...*, suara basah yang erotis itu memenuhi ruangan, berpadu dengan desahan Helena yang kian tak terkendali. Helena menjerit pelan, *Aah--!*, punggungnya melengkung tajam, kakinya merapat, kemudian terbuka lagi secara refleks, bergerak tak beraturan. Gelombang kenikmatan itu begitu kuat, begitu membanjiri, seolah menghantamnya bertubi-tubi tanpa ampun. Otot-ototnya menegang, meregang, tubuhnya bergetar hebat. Ia mencengkeram seprai dengan lebih kuat, buku-buku jarinya memutih, seolah itu satu-satunya jangkar yang tersisa dalam badai sensasi ini. “Arick... Oh, God...” desahnya, namanya lolos dari bibirnya seperti sebuah doa, sebuah permohonan yang putus asa. Ia tidak tahu lagi harus berpegangan pada apa. Suara Arick yang mendalam, grrr..., sesekali terdengar di antara cumbuannya, seolah ia menikmati setiap reaksinya, setiap jeritan tertahan yang Helena keluarkan. Ini bukan sekadar sentuhan fisik, ini adalah invasi total terhadap segala indranya, sebuah pembebasan jiwa yang terkurung dalam sangkar pernikahan yang dingin. Ia merasa benar-benar hidup, seolah baru pertama kali bernapas dengan benar setelah sekian lama. Tubuhnya kejang, menggelinjang. Ia merasakan sensasi geli yang luar biasa, berpusat di titik yang Arick cumbui, menyebar ke seluruh tubuhnya seperti api. Panas menjalari kulitnya, darahnya mendidih, dan ia tahu, ia tahu ini akan datang. Puncak itu. Puncak yang belum pernah ia alami dengan intensitas seperti ini. *Nngghh--aaah!* jeritannya tertahan, suaranya tercekat di tenggorokan, namun getaran tubuhnya tak bisa dibohongi. Sebuah ledakan kecil, sebuah pelepasan singkat, membuat otot-ototnya mengendur sesaat, hanya untuk kembali menegang lagi karena Arick tidak berhenti. Dia tidak memberi ampun. “Enak, Bu Helena?” bisik Arick di antara *sluurp*-nya yang memabukkan. Ia tidak mengangkat kepala, hanya suaranya yang terdengar berat, penuh kemenangan. Bisikan itu, di tengah-tengah rentetan cumbuan liarnya, seolah menstimulasi Helena lebih jauh lagi. Rasa malu dan gairah bertarung dalam dirinya, namun gairah itu selalu keluar sebagai pemenang. Ia merasa telanjang, bukan hanya secara fisik, tapi juga jiwanya, di hadapan pemuda ini yang melihat dan merasakan setiap getarannya. Ini adalah kerentanan yang mengerikan, sekaligus membebaskan. Helena hanya bisa mengangguk, napasnya terputus-putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, kontras dengan panas yang membakar di seluruh tubuhnya. Rambutnya menempel lepek di pelipis. Seluruh fokusnya hanya tertuju pada mulut Arick, pada lidahnya yang bekerja tanpa henti, pada setiap gesekan, setiap hisapan, setiap putaran yang membuat tubuhnya serasa di awang-awang. Ia merasa seolah ditarik ke dalam pusaran air, semakin dalam dan dalam, tanpa tahu bagaimana caranya kembali ke permukaan. Dan ia tidak ingin kembali. Ia ingin tenggelam, larut dalam kenikmatan ini hingga tak bersisa. Tangannya tanpa sadar naik, menggapai rambut Arick, jemarinya tersangkut di antara helai-helai rambutnya yang lembut, menariknya sedikit, sebuah tindakan yang lebih merupakan refleks dari kebutuhan akan kontak, sebuah pegangan dalam badai. Arick, seolah mengerti, tidak menolak, bahkan semakin menekan kepalanya ke bawah, seolah ingin memberikan lebih banyak lagi, lebih dalam lagi. --- Arick tidak melonggarkan cumbuannya sedikit pun. Gerakan lidahnya kian cepat, kian ritmis, menciptakan pusaran kenikmatan yang tak terhingga. *Plak... plak... plak...*, bukan suara kulit beradu, melainkan suara bibir Arick yang begitu fokus menyentuh area intim Helena, menciptakan ritme tersendiri yang memacu detak jantung Helena lebih cepat. Helena kini benar-benar kehilangan kendali atas tubuhnya. Ia tidak lagi peduli dengan jeritan kecil yang lolos dari bibirnya, atau bagaimana tubuhnya melengkung tak beraturan di atas seprai. Yang ia tahu, ia ingin ini terus berlanjut, selamanya jika mungkin. Ia ingin Arick terus mencumbunya hingga ia benar-benar hancur, luluh lantak dalam gairah yang liar dan dalam ini. *Aah--! Oh, God--! Nnggh--!*, pekikannya kini lebih keras, lebih lepas. Air mata menggenang di sudut matanya, bukan karena sakit, melainkan karena intensitas kenikmatan yang membanjiri, sebuah luapan emosi yang tak tertahankan. Ia merasa selembar jiwanya terbakar, api gairah itu menyambar, melalap habis segala batasan dan kekangan yang selama ini ia pikul. Ini adalah sebuah kebebasan yang brutal, sebuah kebahagiaan yang menyakitkan, sekaligus sebuah pengakuan akan betapa laparnya ia akan sentuhan, akan perhatian, akan gairah yang selama ini mati suri dalam dirinya. Arick telah membangunkannya, menghidupkan kembali bagian dirinya yang telah lama terkubur. Hembusan napas Arick yang panas menerpa kulit pahanya, naik ke perut, bahkan terasa sampai ke dadanya. Bau maskulin Arick yang bercampur dengan aroma tubuhnya sendiri yang memanas, menjadi aroma candu yang memabukkan. Ia bisa merasakan otot-otot di tubuh Arick menegang seiring dengan intensitas cumbuannya. Seolah Arick pun ikut terhanyut, merasakan gairah yang sama, merasakan gelombang yang sama. Itu membuat Helena merasa lebih terhubung, lebih diinginkan, lebih dicintai. Bukan sekadar transaksi benih, ini adalah sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih intim dari yang pernah ia bayangkan. Helena menekan punggungnya ke bawah, semakin dalam, semakin kuat, seolah ingin menyatu dengan mulut Arick. Sensasi itu terus menanjak, membangun, membangun, tanpa henti. Ia merasa tubuhnya meregang, menegang, dan kemudian, *Nngghh--aaah! Kyaa--!*, sebuah jeritan panjang dan lepas, sebuah tarikan napas tajam yang disertai getaran hebat di seluruh tubuhnya. Gelombang kenikmatan itu menghantamnya seperti tsunami, menjungkirbalikkan seluruh dunianya. Ia merasakan semburan hangat dan pekat menyebar mendadak di area intimnya, sebuah pelepasan yang begitu kuat, begitu memuaskan, hingga membuatnya limbung. Kakinya lemas, tubuhnya terkulai di atas kasur, terengah-engah, mata terpejam, menikmati sisa-sisa getaran yang masih menjalar di sekujur tubuhnya. Ia baru saja mencapai puncak, sebuah orgasme yang begitu dahsyat hingga ia tidak pernah tahu itu mungkin terjadi. Namun, Arick tidak berhenti. Dia kembali mencumbui, menghisap, menjilat perlahan, seolah ingin memastikan Helena benar-benar terpuaskan, atau mungkin, ingin memancingnya ke puncak yang lain. Helena hanya bisa mendesah pasrah, *Mmm-hh...*, kepalanya menggeleng lemah. Tubuhnya masih bergetar, namun sensasi itu kembali membangun perlahan, sebuah kejutan yang tak terduga. Arick, dia memang iblis yang menyenangkan, yang tahu persis bagaimana memanipulasi setiap syaraf di tubuhnya. Dia adalah seniman kenikmatan, dan Helena adalah kanvasnya yang pasrah. “Jangan berhenti,” bisik Helena, suaranya serak dan nyaris tak terdengar, namun penuh permohonan. Ia tidak ingin momen ini berakhir. Tidak setelah semua yang Arick berikan. Ini adalah janji kehangatan dan kesenangan yang Arick ucapkan, dan ia membayarnya lebih dari yang Helena duga. Arick mengangkat kepalanya, napasnya sedikit terengah-engah, matanya gelap dan penuh hasrat. Ia menatap Helena, bibirnya sedikit bengkak dan basah, dengan senyum tipis yang begitu memikat. Matanya yang tajam menelisik wajah Helena yang memerah, rambutnya yang acak-acakan, dan matanya yang berair karena luapan emosi. Ada kepuasan yang terpancar jelas di sana, kepuasan seorang penakluk yang telah berhasil menaklukkan benteng. Hati Helena berdesir melihat tatapan itu, tatapan yang begitu mendamba, begitu mengagumi. Ia merasa seperti wanita paling diinginkan di dunia. Arick menyeka sedikit cairan di sudut bibirnya dengan punggung tangan, gerakannya begitu santai, begitu menggoda, membuat Helena kembali menahan napas. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke wajah Helena, hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. “Sudah siap, Bu Helena?”

End of Chapter 25