Chapter 22 of 30

Puting Mengeras, Sentuhan Liar

1.2k words

Bibir Arick menutup puting Helena. Bukan sekadar sentuhan lembut, melainkan isapan dalam dan penuh percaya diri yang membuat Helena tersentak. “Aah—!” Sensasi itu begitu asing dan intens, seolah setiap saraf di dadanya terbangun dari tidur panjang. Putingnya, yang sebelumnya hanya mengeras karena udara dingin dan antisipasi, kini terasa semakin sensitif. Lidah Arick bergerak perlahan dengan ritme yang membuat tubuh Helena semakin tegang. Napas panasnya menyentuh kulit Helena, menambah suhu yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Helena memejamkan mata dan sedikit memiringkan kepala, menyerah pada gelombang sensasi yang membanjiri indranya. Satu tangannya mencengkeram seprai katun di bawah tubuhnya, sementara tangan lainnya bergerak tanpa tujuan, seolah mencari pegangan di tengah gejolak emosinya. Setiap sentuhan Arick menariknya semakin dalam ke dalam pusaran gairah. Sensasi hangat di dadanya memicu gelombang panas yang menjalar turun hingga ke perutnya. Rasanya seperti api yang perlahan mencairkan lapisan dingin yang telah lama menyelimuti hatinya. “Kau sangat cantik, Helena,” bisik Arick dengan suara serak. Bibirnya kemudian bergeser, mencium area di sekitar puting sebelum kembali memberikan perhatian yang sama. Helena menarik napas panjang. Ia tidak lagi merasa malu. Sebaliknya, ada perasaan aneh karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar diperhatikan dan diinginkan. Tubuhnya menegang. Otot perutnya mengencang dan napasnya berubah menjadi lebih berat. Telapak tangan Arick kemudian menangkup payudaranya yang lain, memberikan sentuhan lembut dan perlahan. Kontras berbagai sentuhan itu membuat pertahanannya semakin runtuh. Sebuah erangan lembut keluar dari bibir Helena. “Mmm-hh...” Itu bukan suara kesakitan, melainkan luapan emosi yang selama bertahun-tahun terkunci di dalam dirinya. Kini, suara itu seolah menemukan jalan keluar. Pikiran Helena melayang pada tahun-tahun pernikahannya yang dingin. Sentuhan suaminya selalu terasa formal, seperti kewajiban yang harus dijalankan tanpa kehangatan. Tidak pernah ada tatapan penuh kekaguman seperti yang diberikan Arick kepadanya. Tidak pernah ada suara serak yang membuatnya merasa bahwa dirinya benar-benar cantik dan berharga. Ia merasa seperti bunga yang telah lama layu lalu kembali mendapatkan air. Kelopaknya perlahan terbuka, seakan menemukan kehidupan baru. Arick tidak sekadar menyentuh tubuhnya. Kehadirannya seolah menyentuh bagian terdalam dari jiwa Helena, membangunkan sisi dirinya yang selama ini terkubur. “Kau suka ini, sayang?” tanya Arick. Ia mengangkat kepala sejenak dan menatap Helena. Tatapan gelapnya bertemu dengan mata Helena yang masih terpejam. Bibirnya tampak basah, sementara ekspresinya menunjukkan bahwa ia sepenuhnya menyadari reaksi Helena. Helena hanya mampu menggeleng samar. Ia terlalu larut dalam perasaannya untuk menjawab. Tenggorokannya terasa tercekat dan napasnya tidak teratur. Arick tersenyum tipis, lalu kembali mendekat. Sensasi yang sama kembali terasa, kali ini lebih kuat. Helena mendongakkan kepala dan tubuhnya menegang. “Nngghh—aaah!” Ia tidak lagi mampu berpikir jernih. Semua perhatian dan kesadarannya terserap oleh apa yang sedang terjadi. Kekhawatiran mengenai risiko dan konsekuensi perlahan tersingkir oleh dorongan emosional yang semakin kuat. Tangan Arick yang lain mulai bergerak dari sisi tubuh Helena, menyusuri tulang rusuknya, lekuk pinggangnya, lalu naik perlahan ke punggungnya. Setiap sentuhan terasa jelas di kulit Helena yang semakin sensitif. Napas panas Arick menyentuh lehernya. Setiap kali bibirnya meninggalkan kulit Helena, ia kembali merasakan sentuhan lembut yang membuat tubuhnya semakin tegang. Helena kembali mengerang. Kali ini lebih panjang dan lebih putus asa. Arick menyesuaikan posisinya dan memeluk tubuh Helena lebih erat. Kaki mereka bersentuhan, sementara paha mereka bergesekan ringan. Perbedaan suhu kulit mereka membuat Helena semakin menyadari kedekatan itu. Aroma tubuh Arick memenuhi indra penciumannya—campuran sabun mandi, sedikit keringat, dan aroma alami tubuhnya. Helena menarik napas perlahan, seolah ingin menyimpan aroma itu lebih lama. “Kau seperti samudra, Helena,” bisik Arick. Suaranya semakin dalam. “Begitu luas, begitu dalam, dan aku ingin menjelajahi setiap sudutnya.” Helena merasakan senyum Arick di dekat kulitnya. Perutnya kembali bergejolak. Tangannya mencengkeram bahu Arick. Kukunya sedikit menekan kulit pemuda itu, sebuah reaksi spontan yang tidak lagi mampu ia kendalikan. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Helena merasa hidup kembali. Arick terus mendekapnya. Setiap sentuhan dan perubahan gerakannya membuat Helena semakin sulit mempertahankan kendali atas dirinya sendiri. Gelombang sensasi datang silih berganti, membuat seluruh tubuhnya terasa semakin peka. “Kau semakin manis, Helena,” bisik Arick. Napasnya menyentuh sisi leher Helena. Jari-jarinya bergerak perlahan di sepanjang punggung Helena, mengikuti lekuk tubuhnya sebelum kembali menuju bahunya. Sentuhan itu lembut, tetapi memiliki maksud yang jelas. Helena mengerang dan tubuhnya melengkung secara refleks. Ia tidak tahu harus berpegangan pada apa. Arick terasa seperti api, sedangkan dirinya seperti sesuatu yang telah lama kering dan siap terbakar. Selama ini Helena mengira hidupnya sudah lengkap. Namun kedekatannya dengan Arick membuatnya menyadari adanya kekosongan yang selama ini ia abaikan. Arick kemudian mengangkat kepalanya. Bibirnya berpindah ke bawah rahang Helena, lalu mendekati telinganya. “Aku bisa mendengarmu, Helena,” bisiknya. “Setiap desahan, setiap erangan... itu musik bagiku.” Helena menegang ketika Arick memberikan perhatian pada telinganya. “Nghh... aaah!” Ia menggenggam tangan Arick dengan erat, seolah tangan itu menjadi satu-satunya pegangan yang dapat membuatnya tetap tenang. Arick kemudian kembali mendekat ke lehernya. Helena merasakan sentuhan hangat itu dan semakin sulit mengatur napas. “Kau sangat haus, bukan?” tanya Arick dengan suara rendah. Ia menarik kepalanya sedikit ke belakang dan menatap wajah Helena yang memerah, matanya yang setengah terpejam, serta bibirnya yang sedikit terbuka. Helena hanya mampu mengangguk perlahan. Matanya tampak berkaca-kaca, bukan karena kesedihan, melainkan karena emosi yang terlalu kuat untuk ditahan. Tangan Arick bergerak ke perut Helena. Jari-jarinya membelai perlahan, mengikuti garis tubuhnya hingga mendekati pusar. Helena menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan suara yang hendak keluar. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak ingin Arick berhenti. Tubuh mereka semakin dekat. Helena merasakan kehangatan tubuh Arick, kekuatan punggung dan lengannya, serta pelukan yang membuatnya merasa aman sekaligus gelisah. Dunia di luar kamar itu seolah menghilang. Untuk sesaat, hanya ada dirinya dan Arick. “Biarkan aku menunjukkan betapa indahnya rasanya ketika kau benar-benar melepaskan dirimu, Helena,” bisik Arick. Jantung Helena berdetak semakin cepat. Tangannya sendiri bergerak menuju belakang leher Arick. Ia menggenggam rambutnya dan menariknya perlahan lebih dekat—sebuah jawaban tanpa kata. Ia telah menyerahkan dirinya pada momen itu, pada kedekatan dan perasaan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan. Tangan Arick yang sebelumnya berada di perut Helena kemudian bergerak menuju pinggulnya. Sentuhan itu membuat Helena kembali menegang. Arick tidak terburu-buru. Ia berhenti sejenak, seolah sengaja membiarkan Helena merasakan ketegangan dan antisipasi yang semakin besar. “Kau gemetar, Helena,” bisiknya. “Apa yang kau rasakan?” Helena hanya menggeleng. Ia tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan gejolak yang memenuhi dirinya. Arick menatapnya. Ada senyum tipis di wajahnya. “Begitu responsif,” gumamnya. Tatapan mereka bertemu. Helena merasakan wajah dan lehernya semakin panas. Bukan semata karena malu, tetapi karena ia sadar bahwa Arick mengetahui dengan jelas bagaimana kehadirannya memengaruhinya. Ibu jari Arick bergerak perlahan di sepanjang lekuk pinggulnya. Helena kembali menarik napas tajam. Tubuhnya bergerak secara refleks mendekati Arick. Ia ingin kedekatan itu terus berlanjut. Helena mendengar napasnya sendiri yang tersengal, bercampur dengan napas Arick yang lebih dalam. Udara di kamar terasa berat oleh ketegangan yang belum terucapkan. Ia menyadari setiap detail di sekelilingnya: kehangatan tubuh Arick, udara dingin yang menyentuh kulitnya, suara napas mereka, dan detak jantungnya sendiri. Semuanya terasa berpusat pada Arick. Dan jauh di dalam hatinya, Helena tahu bahwa apa yang terjadi di antara mereka baru saja dimulai. “Kau sudah menunggu ini, kan, Helena?” bisik Arick. Kata-kata itu mengenai bagian dirinya yang paling dalam. Ya. Ia telah menunggu seseorang untuk benar-benar melihatnya. Seseorang yang membuatnya merasa dihargai, diperhatikan, dan hidup kembali. Bertahun-tahun kekeringan emosional seakan mulai runtuh. Tatapan Arick turun sejenak, lalu kembali bertemu dengan mata Helena. Helena tidak menghindar. Ia hanya diam, membiarkan perasaan yang selama ini terkubur perlahan muncul ke permukaan.

End of Chapter 22