Chapter 1 of 1
Chapter 1: Langkah Pertama di Dwipantara
1.3k words
Gerbang besi hitam menjulang tinggi, seolah siap menelan siapa saja yang berani melangkah lewat di bawahnya.
Satria Mandala menghentikan langkah tepat di batas bayangan menara kembar Universitas Dwipantara.
Angin pegunungan yang dingin menusuk jaket denimnya, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang terasa seperti besi berkarat.
"Tempat ini tidak pernah berubah," gumam Satria, mengeratkan pegangan pada tali ransel hitam di pundaknya.
Matanya menyisir arsitektur kolonial yang mendominasi seluruh area kampus seluas puluhan hektar ini.
Dinding batu abu-abu ditumbuhi tanaman merambat yang telah mati, menyisakan sulur-sulur kering seperti cakar yang mencengkeram beton.
Rasa tidak nyaman merayap di tengkuknya sejak ia turun dari bus di persimpangan jalan berdebu tadi.
Langkah kakinya kembali terdengar, beradu dengan kerikil tajam di sepanjang jalan setapak menuju gedung administrasi.
Beberapa mahasiswa melintas dengan pakaian rapi, namun tak satu pun dari mereka yang saling menyapa atau sekadar tersenyum ramah.
Suasana di sini terlalu sunyi untuk sebuah institusi pendidikan tinggi yang konon sangat bergengsi.
Semua orang bergerak seperti robot tanpa jiwa, dengan kepala tertunduk dan mata yang terus menatap lurus ke depan.
Seolah-olah, ada aturan tidak tertulis yang melarang mereka untuk mengeksplorasi lingkungan sekeliling atau menatap mata orang lain.
Satria menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai berdetak tidak beraturan.
Tujuannya datang ke tempat ini bukanlah untuk mengejar gelar sarjana atau mencari jaringan pertemanan kelas atas.
Universitas Dwipantara sebenarnya berdiri di atas tanah leluhur keluarga Mandala yang sempat hilang dari silsilah resmi.
Puluhan tahun lalu, tanah ini diserahkan kepada pihak yayasan setelah sebuah peristiwa tragis yang merenggut nyawa kakek buyutnya.
Sejarah kelam itulah yang membuat nama Mandala menjadi hal yang sangat tabu di kalangan para pengurus tua kampus ini.
Enam bulan lalu, Yudha mengirimkan sebuah surat singkat yang sangat aneh sebelum dinyatakan hilang tanpa jejak dari asrama ini.
Surat itu hanya berisi satu kalimat pendek: "Jangan pernah datang ke Dwipantara, Satria, tempat ini memakan jiwa kita."
Namun, peringatan itu justru menjadi pemantik yang membakar rasa penasaran Satria hingga menyisakan abu kemarahan yang membara.
Perlahan, ia melangkah masuk ke dalam lobi gedung administrasi yang megah namun terasa sedingin ruang bawah tanah kastil kuno.
Lantai marmer putih mengkilap memantulkan bayangan dirinya dengan sangat jelas, hampir menyerupai cermin air yang tenang namun menipu.
Di ujung ruangan yang luas itu, sebuah meja resepsionis berbahan kayu jati kuno berdiri kokoh, dijaga oleh seorang wanita paruh baya.
Wanita itu mengenakan seragam biru tua yang kaku, rambutnya disanggul rapi tanpa sehelai pun yang dibiarkan lolos berantakan.
Kacamata tebal bertengger di hidungnya yang mancung, menutupi sepasang mata yang tampak sangat lelah dan kehilangan gairah hidup.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan suara monoton, bahkan tanpa mengangkat wajah sedikit pun dari tumpukan dokumen tebal.
"Saya mahasiswa baru, jalur pindahan khusus," jawab Satria, menyodorkan map plastik hitam berisi berkas-berkas administrasinya.
Tangan wanita itu bergerak lambat mengambil map tersebut, membukanya dengan gerakan mekanis yang sangat terlatih dan dingin.
Keheningan sempat meraja di antara mereka selama beberapa detik, hanya menyisakan suara ketukan konstan jemari Satria pada permukaan kayu meja.
Seketika, gerakan tangan wanita itu terhenti saat matanya membaca baris nama di lembar pertama berkas pendaftaran tersebut.
Matanya melebar di balik lensa kacamata tebalnya, dan hela napasnya terdengar tertahan di tenggorokan seolah tercekik udara dingin.
Satria memperhatikan perubahan drastis itu dengan saksama, mencatat setiap detail reaksi tubuh wanita yang kini menegang di hadapannya.
Jemari wanita itu gemetar hingga menjatuhkan pena hitam yang dipegangnya ke atas meja kayu dengan suara benturan pelan.
"Apakah ada masalah dengan berkas pendaftaran saya, Bu?" tanya Satria dengan nada suara yang sengaja dibuat tenang namun tajam.
Wajah wanita itu kini pucat pasi bagaikan kehilangan seluruh aliran darah, persis seperti seseorang yang baru saja melihat ajal menjemput.
Sepasang mata wanita itu menatap Satria dengan pandangan penuh ketakutan yang mendalam, seolah pemuda di depannya adalah pembawa kutukan kuno.
"Kau... kau memiliki hubungan darah dengan Yudha Mandala?" tanyanya dengan suara berbisik yang sangat lirih, hampir berupa desisan ketakutan.
"Benar, saya adiknya," jawab Satria, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan untuk memberikan tekanan psikologis yang lebih kuat.
"Apakah Ibu tahu di mana kakak saya sekarang? Atau mungkin, apa yang sebenarnya terjadi padanya sebelum pihak kampus menyatakan dia hilang?"
Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat wanita tersebut panik, matanya bergerak liar ke kiri dan ke kanan, mengamati lobi yang sunyi senyap.
Sambil merapikan kembali berkas Satria dengan gerakan yang tergesa-gesa dan kacau, ia menyodorkan sebuah kunci kuningan berkarat.
"Ambil ini dan segera pergi dari sini," potong wanita itu dengan cepat, menolak keras untuk menjawab pertanyaan Satria secara langsung.
"Gedung Cempaka, Wing Barat, Kamar 303. Itu adalah kamar yang sudah dialokasikan khusus untukmu sejak awal."
"Bu, tolong jawab saya, siapa yang mengalokasikan kamar itu?" desak Satria, menolak untuk melepaskan pandangannya dari mata wanita itu.
"Pergi sekarang juga!" desis wanita itu dengan nada mendesak yang dipenuhi ketakutan yang amat sangat, hampir menyerupai tangisan tertahan.
Langkah kakinya kembali terdengar menjauh dari meja resepsionis, meninggalkan wanita tua yang kini menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang masih gemetar.
---
Gedung Cempaka terletak di bagian paling belakang kompleks universitas, terisolasi secara geografis oleh deretan pohon pinus kuno yang menjulang tinggi.
Sinar matahari sore yang mulai meredup nyaris tidak mampu menembus rimbunnya dedaunan, menciptakan suasana temaram yang mencekam di sekitar area asrama.
Bangunan berlantai empat itu tampak sangat tua dan terbengkalai, dengan cat dinding putih yang mengelupas parah dan menyisakan noda-muda hitam akibat kelembapan tinggi.
Suara burung gagak terdengar bersahut-sahutan di kejauhan, menambah kesan mistis dan sunyi yang kental pada lingkungan tempat tinggal mahasiswa ini.
Satria menaiki anak tangga beton yang mulai retak dan ditumbuhi lumut tipis, menuju lantai tiga di mana kamar barunya berada.
Setiap langkah kaki yang ia ambil memicu suara derit lantai yang menggema panjang di sepanjang lorong yang sepi dan remang-remang.
Lampu-lampu lorong hanya berupa bohlam kuning redup yang berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan panjang yang tampak bergerak hidup di dinding semen.
Aroma debu tua, kertas basah, dan kayu lapuk menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya, memaksanya untuk menahan napas beberapa kali.
Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu dengan plat logam berkarat yang menampilkan angka 303 yang hampir pudar.
Jantungnya berdegup lebih kencang saat ia memasukkan kunci kuningan yang terasa sangat dingin ke dalam lubang kunci yang berkarat.
Dengan sekali putaran kuat yang dipaksakan, terdengar suara mekanis klik yang nyaring, memecah kesunyian lorong asrama yang mencekam itu.
Perlahan, Satria mendorong pintu kayu tebal itu hingga terbuka lebar, menyingkap isi di dalam ruangan yang telah lama terkunci rapat.
Debu tebal yang mengendap langsung beterbangan di udara, membuat Satria terbatuk kecil sambil mengibaskan tangan kanan di depan wajahnya.
Kamar itu sangat sederhana dan dingin, hanya berisi satu tempat tidur single dari besi, sebuah lemari pakaian kayu jati, dan meja belajar di dekat jendela.
Namun, yang langsung menarik perhatian tajam Satria adalah kondisi kamar yang tampak sangat berantakan, seolah-olah penghuni sebelumnya dipaksa pergi dalam kepanikan.
Beberapa helai pakaian rajut berwarna gelap masih tergantung di dalam lemari yang pintunya dibiarkan sedikit terbuka begitu saja.
Buku-buku catatan kuliah berserakan di atas lantai kayu yang berdebu, sebagian besar telah menguning dan rusak parah akibat paparan udara lembap.
Satria melangkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu di belakangnya hingga terdutup rapat dengan suara debuman keras yang bergema.
Kasur tanpa sprei yang tampak kusam itu menjadi tempat ia meletakkan ransel hitamnya, sebelum ia mulai memeriksa setiap sudut ruangan.
Nalurinya yang tajam mengatakan bahwa kamar ini bukan sekadar kamar biasa; ini adalah tempat perlindungan terakhir yang ditempati oleh Yudha.
Ketika ia mendekati meja belajar yang terletak di sudut ruangan dekat jendela, matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa pada permukaan kayu meja tersebut.
Ada bekas goresan dalam yang disengaja, membentuk sebuah simbol lingkaran dengan garis vertikal lurus yang membelah tepat di bagian tengahnya.
Simbol itu tampak sangat tidak asing bagi Satria, memicu ingatan samar tentang sebuah liontin tua milik mendiang kakeknya yang pernah ia lihat sewaktu kecil.
Sambil meraba goresan kasar yang terasa dingin di ujung jarinya, ia merasakan sensasi aneh yang merambat naik hingga ke tengkuknya.
Hawa dingin yang tidak masuk akal tiba-tiba saja memenuhi ruangan yang sempit itu, membuat embusan napas Satria berubah menjadi kabut putih tipis.
Pandangannya menyapu ke sekeliling ruangan dengan cepat, namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan orang lain di sana.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, ia memutuskan untuk memeriksa bagian bawah tempat tidur besi, menduga ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di sana.
Lututnya menyentuh lantai kayu yang sangat dingin, mengabaikan debu tebal yang mengotori celana jins hitam yang dikenakannya.
Sinar lampu senter dari ponsel pintarnya menyoroti permukaan lantai kayu yang tampak memiliki perbedaan mencolok di sudut paling dalam dekat dinding.
Satu papan kayu terlihat sedikit menonjol dan longgar jika dibandingkan dengan papan kayu lainnya yang terpasang rapi di sekitarnya.
Jemari Satria bergerak cepat menjangkau papan tersebut, mencoba mengangkatnya perlahan agar tidak menimbulkan suara bising yang mencurigakan.
Dengan sedikit usaha dan tekanan kuat dari jemarinya, papan kayu itu berhasil terangkat, memunculkan sebuah rongga rahasia berukuran kecil.
Di dalam rongga yang gelap dan pengap itu, terletak sebuah kotak besi kecil berwarna hitam pekat yang dilapisi oleh lapisan debu yang sangat tebal.
Kotak besi itu ternyata tidak dikunci dengan gembok, melainkan hanya diikat sangat erat dengan seutas tali kain berwarna merah darah.
Perlahan dan hati-hati, ia melepaskan ikatan tali tersebut, lalu membuka penutup kotak besi dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan bersampul kulit hitam tebal dengan lambang keluarga Mandala yang terukir indah dengan tinta emas.
Jantung Satria serasa berhenti berdetak sesaat ketika melihat lambang keluarganya berada di tempat rahasia yang terisolasi seperti ini.
Lembaran pertama buku harian tersebut langsung dibuka, menyingkap karakter tulisan tangan yang sangat akrab dan tidak mungkin salah ia kenali.
Tulisan tangan itu milik Yudha, kakaknya yang hilang tanpa kabar dan tanpa jejak setengah tahun yang lalu di lingkungan kampus ini.
Every halaman buku harian itu ia balik dengan cepat namun hati-hati, membaca setiap baris kalimat yang dipenuhi kecemasan mendalam.
Catatan itu menuliskan tentang ritual malam hari, tentang para petinggi yayasan kampus yang memuja entitas kuno di ruang bawah tanah rahasia.
Hingga akhirnya Satria sampai pada halaman terakhir yang ditulis dengan tinta berwarna merah pekat yang tampak menyerupai darah kering.
Tulisan di halaman terakhir itu terlihat sangat berantakan dan tidak beraturan, seolah ditulis dalam keadaan panik luar biasa di bawah kejaran sesuatu.
"Mereka tahu aku memilikinya. Warisan darah itu nyata, Satria. Jika kau membaca catatan ini, berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Jangan pernah mempercayai siapa pun di Universitas Dwipantara ini, bahkan bayanganmu sendiri saat berjalan di bawah sinar bulan."
Kata-kata terakhir dari sang kakak menusuk relung hati Satria seperti sebilah belati es yang sangat dingin, tajam, dan menyakitkan.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan keras dari arah pintu kamar kayu yang tertutup rapat, memecah keheningan sunyi yang mencekam.
*Tok! Tok! Tok!*
Sentakan suara keras itu membuat Satria tersentak hebat, hampir saja menjatuhkan buku catatan bersampul kulit di tangannya ke atas lantai.
Buku harian berharga itu segera ia masukkan ke dalam saku bagian dalam jaket denimnya, lalu ia berdiri tegak dengan sikap waspada penuh.
Ketukan itu terdengar kembali untuk kedua kalinya, kali ini jauh lebih keras, berirama cepat, dan terdengar sangat tidak sabaran dari luar lorong.
"Siapa di luar?" tanya Satria dengan nada suara yang sengaja diperberat dan tegas, mencoba menyembunyikan debaran jantungnya.
Sunyi menyelimuti lorong sesaat sebelum suara napas berat dan serak terdengar samar-samar bergesekan di balik celah pintu kayu.
Langkah kaki Satria bergerak sangat perlahan mendekati pintu, tangan kanannya bersiap mencari celah untuk menyerang jika situasi memburuk.
Gagang pintu kuningan yang terasa sedingin es batu mulai disentuh oleh jemarinya yang tegang, bersiap untuk membukanya dengan paksa.
Sebelum jemarinya memutar gagang pintu tersebut, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pintarnya dengan getaran yang sangat kuat dan nyaring.
Layar ponsel yang menyala terang di tangan kirinya menampilkan sebuah nomor tidak dikenal yang mengirimkan sebuah pesan peringatan darurat.
Pesan teks itu hanya terdiri dari satu kalimat singkat yang seketika membuat seluruh aliran darah di tubuh Satria terasa membeku seketika.
"Jangan buka pintunya, Satria, yang berdiri di luar kamarmu saat ini bukanlah manusia."
Tubuh Satria terpaku diam di tempatnya berdiri, matanya melebar menatap ngeri pada gagang pintu kuningan yang perlahan-lahan mulai bergerak turun ke bawah dari arah luar.