Chapter 1 of 1
Chapter 1: Unwanted Vows, Unseen Chains
1.1k words
Napasnya tertahan. Gaun sutra terasa membelenggu tubuhnya, setiap jahitan seolah mengikat erat. Ruangan mewah ini, yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan, justru terasa seperti ruang eksekusi yang gemerlap. Zhiwei merasakan pandangan ratusan pasang mata tertuju padanya, semua tersenyum, semua puas, kecuali dirinya sendiri. Kebencian membara di dadanya. Perjodohan ini adalah lelucon kejam. Sebuah takdir yang dipaksakan. Ini bukan pilihan, melainkan vonis.
Memutar kepala perlahan, pandangannya menyapu ke seberang aula. Di sana, di antara kerumunan tamu yang berbisik dan tertawa, berdiri Xhuhei. Calon suaminya. Pria yang akan berbagi hidupnya, meski ia tak menginginkannya. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Tatapannya dingin, tak terjangkau.
Sikapnya yang acuh tak acuh itu menyulut api kemarahan dalam diri Zhiwei. Bagaimana bisa seseorang begitu pasif? Begitu menerima nasib? Xhuhei terlihat seperti patung sempurna yang dipajang, bagian dari dekorasi megah ini. Gerakannya terukur, senyum tipisnya terlatih. Ada kekosongan dalam sorot matanya yang tak terbaca.
Zhiwei merasa hatinya mencelos, bukan karena kesedihan, melainkan karena frustrasi yang mendalam. Kebencian itu semakin mengental, bercampur dengan rasa tak berdaya yang dingin. Ia yakin perlawanannya adalah api yang berkobar, siap membakar habis semua tradisi usang ini.
Namun, Xhuhei bahkan tidak melihatnya. Pandangannya lurus ke depan, tertuju pada panggung kecil tempat orang tua mereka akan segera berpidato. Ia hanya melihat pertunjukan yang telah diatur, sebuah drama yang harus dimainkan dengan sempurna. Zhiwei merasa seperti figuran dalam sandiwara absurd ini.
---
Semilir AC berhembus lembut, namun Zhiwei merasa keringat dingin menetes di punggungnya. Gaun putih bersih yang dipilihkan ibunya, dengan renda rumit dan taburan mutiara, kini terasa seperti belenggu. Bukan pakaian pengantin, melainkan baju tahanan.
Senyum palsu di bibirnya mulai terasa kaku. Otot-otot wajahnya menegang. Ia ingin berteriak, merobek gaun ini, dan lari sejauh mungkin. Tapi ia tidak bisa. Kedua orang tuanya, Tuan dan Nyonya Chen, berdiri di sisi panggung, menatapnya dengan tatapan tajam yang mengancam.
Tekanan dari mereka begitu besar, begitu menyesakkan. Sejak kecil, ia selalu diajari untuk patuh, untuk menjadi putri yang sempurna. Kini, kesempurnaan itu berarti menerima perjodohan ini. Menikahi pria yang tidak ia kenal, tidak ia cintai.
"Zhiwei, tersenyumlah. Ingat reputasi keluarga kita," bisik ibunya beberapa menit lalu, desisannya seperti racun yang menembus pertahanan terakhirnya. Kata-kata itu berulang di benaknya, sebuah mantra yang menindas.
Ia memaksakan senyum yang lebih lebar. Itu adalah topeng yang sempurna. Tidak ada yang tahu badai di dalam dirinya. Tidak ada yang melihat air mata yang tertahan di balik kelopak matanya. Semua orang hanya melihat Zhiwei yang cantik, calon istri dari keluarga kaya.
---
Xhuhei, di sisi lain, tampak seolah-olah lahir untuk momen ini. Tinggi, tegap, dengan setelan jas hitam yang pas di tubuh atletisnya. Rambutnya disisir rapi, menampilkan dahi mulus dan mata tajam. Ia adalah definisi kesempurnaan yang dingin.
Zhiwei sudah mencoba. Beberapa minggu lalu, setelah berita perjodohan ini disampaikan, ia mencoba berbicara dengan Xhuhei. Ia berharap menemukan sekutu, seseorang yang juga merasa terjebak. Ia membayangkan mereka bisa merencanakan pelarian, atau setidaknya protes bersama.
"Ini absurd," ia memulai, suaranya gemetar saat itu. "Kita tidak bisa menerima ini. Ini hidup kita."
Xhuhei hanya menatapnya, tanpa berkedip. "Orang tua kita sudah memutuskan. Apa yang bisa kita lakukan?" Nadanya datar, nyaris tanpa emosi. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan fakta yang tak terbantahkan.
Responsnya membuat Zhiwei hancur. Bukan karena ia mencintai Xhuhei dan ditolak, melainkan karena ia menyadari betapa sendiriannya ia dalam perjuangan ini. Xhuhei telah menyerah sebelum pertarungan dimulai. Ia adalah cerminan dari kepasrahan yang paling menjijikkan.
---
Ayah Xhuhei, Tuan Liang, kini melangkah maju ke panggung. Suaranya bergema melalui pengeras suara, dipenuhi kebanggaan. Ia berbicara tentang dua keluarga besar yang bersatu, tentang tradisi yang dijunjung tinggi, tentang masa depan cerah yang menanti.
Zhiwei mendengarkan, namun kata-kata itu terasa jauh, seperti dengungan lebah di kejauhan. Pikirannya kembali ke masa kecilnya, ke peraturan-peraturan tak tertulis yang mengikat. Kesuksesan bukan pilihan, melainkan kewajiban. Kebahagiaan pribadi adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli.
Ibunya selalu berkata, "Seorang wanita dari keluarga baik harus tahu tempatnya. Suami adalah kepala rumah tangga. Tugasmu adalah mendukungnya." Zhiwei tidak pernah membayangkan bahwa 'mendukung' berarti menyerahkan seluruh kehendaknya.
Ia menoleh lagi pada Xhuhei. Pria itu kini tersenyum tipis, mengangguk pada ayahnya di panggung. Senyum itu tidak sampai ke matanya. Mata itu masih sama dinginnya, sama kosongnya. Apakah ia benar-benar patuh, ataukah ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya?
Ada rumor tentang Xhuhei. Sebuah desas-desus bahwa ia adalah seorang jenius, menguasai banyak hal. Ia dengar Xhuhei adalah master kuliner, ahli taekwondo, bahkan seorang pelukis berbakat. Tetapi tidak ada satupun dari bakat itu yang terlihat sekarang. Hanya ada kepasifan yang sempurna.
---
Ruangan dipenuhi sorakan saat Tuan Liang menyelesaikan pidatonya. Tepuk tangan membahana. Kemudian, Nyonya Liang, ibu Xhuhei, berbicara. Suaranya lembut namun tegas, memuji keanggunan Zhiwei, betapa ia akan menjadi istri dan menantu yang sempurna.
Setiap pujian terasa seperti pisau yang menusuk. Sempurna. Kata itu begitu sering ia dengar, hingga kehilangan makna. Sempurna di mata siapa? Sempurna untuk tujuan siapa? Bukan dirinya. Bukan untuk kebahagiaannya.
Zhiwei menundukkan kepala sedikit, berpura-pura rendah hati. Dalam hatinya, ia merasa seperti bom waktu. Setiap detik yang berlalu di aula ini, di bawah tatapan semua orang ini, adalah detik yang mendekatkannya pada ledakan. Ledakan yang tak seorang pun akan sangka.
Ia mengangkat pandangannya lagi. Kali ini, Xhuhei menoleh sedikit ke arahnya. Hanya sepersekian detik. Mata mereka bertemu. Tidak ada pengakuan, tidak ada simpati, hanya sebuah tatapan kosong yang memantulkan cahaya lampu gantung kristal. Kemudian, pandangannya beralih lagi.
Sikapnya itu membuat Zhiwei gemetar. Bukan karena takut, tapi karena murka. Ia ingin menggoncang Xhuhei, menuntut jawaban. Apakah ia boneka? Apakah ia benar-benar tidak punya keinginan sendiri? Atau ada sesuatu yang lebih gelap di balik ketenangan palsu itu?
---
Para pelayan mulai berkeliling, membawa nampan berisi gelas sampanye. Kilau keemasan minuman itu memantulkan cahaya, menambah kemewahan yang menyesakkan. Sudah saatnya bersulang. Saatnya merayakan awal dari penderitaannya.
Zhiwei meraih gelasnya, jemarinya terasa dingin. Ia merasakan tatapan ibunya lagi, memastikan ia tidak membuat keributan. Ia menyesuaikan topengnya lagi. Tersenyum. Mengangguk.
Ia melihat Xhuhei juga meraih gelasnya. Gerakannya lambat, disengaja. Seperti robot yang diprogram untuk melakukan setiap tugas dengan presisi. Ia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, menunggu aba-aba dari para orang tua.
"Untuk masa depan yang cerah!" seru Tuan Chen, ayah Zhiwei, dengan suara riang. Suaranya bergema, dipenuhi kebahagiaan yang kontras dengan suasana hati Zhiwei.
"Untuk persatuan keluarga Liang dan Chen!" tambah Tuan Liang, suaranya tegas dan penuh wibawa. Gelas-gelas berdenting pelan saat semua orang mengangkatnya tinggi-tinggi. Sebuah momen yang tak terhindarkan.
Zhiwei memejamkan mata sesaat. Ia ingin menolak minuman ini, menolak seluruh perayaan ini. Tetapi ia tahu ia tidak bisa. Ia harus bermain peran. Memainkan perannya hingga akhir.
Dibuka kembali matanya, ia melihat Xhuhei di seberang sana. Pria itu sedang mengangkat gelasnya, seperti orang lain. Wajahnya masih tanpa ekspresi, seolah-olah semua ini adalah rutinitas belaka. Sebuah prosesi yang harus dilalui. Ia mengawasinya dengan saksama.
Saat semua keluarga bersulang, sebuah getaran samar, nyaris tak terlihat, menjalar melalui tangan Xhuhei saat ia mengangkat gelasnya, retakan kecil di balik topengnya yang sempurna, yang Zhiwei, untuk sepersekian detik, nyaris melewatkannya.