Chapter 1 of 1

Chapter 1: Kebutaan di Atas Karang Zamrud

2.5k words

Rasa mual menghantam ulu hati Hafa seperti hantaman palu godam berkarat yang diayunkan tanpa ampun. Kepalanya berdenyut sangat kencang, menampung jutaan fragmen ingatan asing yang saling berbenturan dan berebut ruang di dalam tempurung kepalanya yang terasa mau pecah berkeping-keping. Aspal jalanan yang basah oleh hujan malam, raungan sirene mobil polisi yang memekakkan telinga, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang dingin di bawah langit abu-abu, dan rasa sakit menusuk di punggung akibat dikhianati oleh asisten kepercayaannya sendiri berkelebat cepat bagaikan gulungan film bisu berkecepatan tinggi yang rusak. Kilasan memori dari kehidupan masa lalunya itu kemudian hancur lebur, digantikan secara paksa oleh pemandangan menakjubkan sekaligus mengerikan tentang langit biru tak berujung yang membentang luas tepat di bawah kedua kakinya sendiri. Dinginnya angin gunung yang menusuk tulang langsung merayap di balik kulit tipisnya, memaksa kelopak matanya yang terasa seberat timah panas untuk terbuka dengan paksa demi menghadapi realitas baru yang membingungkan. "Tenanglah, anakku, takdirmu sedang memanggilmu di depan sana," sebuah suara berat bernada monoton bergema dari kejauhan, memantul di antara pilar-pilar marmer putih kuno yang melayang anggun di udara tipis. Berdiri di atas altar batu yang terapung bebas di angkasa, Hafa menyadari dengan sangat cepat bahwa dirinya tidak lagi berada di ruang kantornya yang nyaman di lantai tiga puluh sembilan gedung korporasi miliknya. Pulau-pulau hijau raksasa melayang di sekelilingnya bagaikan zamrud raksasa yang digantung oleh benang gaib tak kasat mata di angkasa raya, dengan air terjun raksasa yang tumpah bebas langsung menuju jurang tak berdasar di bawah sana tanpa pernah menyentuh tanah. Ratusan remaja seusianya berbaris sangat rapi di sepanjang jembatan batu tanpa pagar pengaman yang menghubungkan pulau-pulau melayang tersebut, wajah mereka dipenuhi ketegangan yang bercampur dengan gairah yang sulit disembunyikan dari mata jeli Hafa. Menatap telapak tangannya yang terasa asing, jauh lebih kecil, dan lebih halus dari ingatan dewasanya, Hafa mencoba meraba dadanya yang berdegup kencang, berusaha keras mencari sisa-sisa rasionalitas yang selalu menjadi senjata andalannya di masa lalu untuk tetap tenang di bawah tekanan ekstrem. "Aku benar-benar bereinkarnasi ke dunia antah-berantah yang penuh keajaiban aneh ini," bisiknya sangat pelan, nyaris tenggelam sepenuhnya oleh desau angin gunung yang terus menerpa jubah putih tipis yang melekat di tubuh barunya. Sialnya, ingatan dari kehidupan lamanya sebagai seorang perencana strategi politik dan bisnis ulung yang dingin tidak memberikan petunjuk praktis apa pun tentang aturan main di tempat mistis yang sangat asing ini. Tidak ada suara robot yang ramah atau dingin dalam kepalanya, tidak ada panel hologram biru yang melayang menawarkan misi-misi penyelamatan dunia, dan tidak ada aliran energi magis tak terbatas yang mengalir hangat di dalam nadinya saat ini. Tepat di depan barisan mereka yang panjang, seorang gadis berambut perak berkilau melangkah maju dengan penuh percaya diri yang meluap-luap menuju sebuah batu hitam besar yang melayang statis di tengah-tengah altar suci berlapis emas. Batu Oracle namanya, pusat dari seluruh upacara inisiasi sakral yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali di Kepulauan Zamrud untuk menentukan kasta dan masa depan setiap anak yang beranjak dewasa. Begitu telapak tangan gadis itu menyentuh permukaan batu yang kasar dan gelap itu, seberkas kilatan cahaya keemasan yang sangat terang meledak ke udara, menyelimuti seluruh tubuh sang gadis dalam kehangatan yang menyilaukan mata semua orang. Senyuman lebar yang terlihat hampir tidak wajar karena terlalu bahagia terkembang di bibir gadis itu, matanya terpejam rapat saat seberkas ingatan masa depan merayap masuk dan tertanam kokoh di dalam jiwanya yang terdalam. "Aku melihatnya dengan sangat jelas! Aku akan menjadi komandan ksatria penjaga gerbang barat kerajaan yang agung!" teriak gadis itu dengan air mata bahagia yang berlinang deras di pipinya yang memerah karena luapan emosi. Sorak-sorai membahana dengan sangat meriah dari arah tribun penonton yang melingkar di atas tebing batu, dipenuhi oleh para tetua klan dan orang tua yang mengangguk puas melihat takdir anak-anak mereka yang tampak mulia dan terjamin. Di dunia yang sangat aneh ini, setiap manusia yang lahir diberkati dengan satu fragmen penting bernama Ingatan Masa Depan—sebuah petunjuk absolut dari dewa yang menuntun mereka menuju puncak kehidupan masing-masing tanpa perlu merasa tersesat. Mereka tahu kapan mereka akan meraih kesuksesan finansial yang melimpah, bagaimana mereka akan memenangkan pertempuran besar yang menentukan, bahkan tanggal serta cara pasti kematian mereka sendiri sudah tertulis rapi di dalam ingatan tersebut. Mengetahui masa depan membuat semua orang di pulau melayang ini berjalan dengan penuh rasa percaya diri yang cenderung arogan dan mengerikan, seolah-olah hidup hanyalah sebuah panggung sandiwara yang naskahnya sudah mereka hafal di luar kepala sejak usia belia tanpa ada ruang untuk kesalahan sedikit pun. Kecemasan yang sangat asing mulai merayap naik di tengkuk Hafa saat barisan di depannya semakin menyusut dengan kecepatan yang menakutkan, menyisakan hanya beberapa anak lagi sebelum giliran namanya dipanggil ke depan batu terkutuk itu. Sambil meremas ujung jubah putihnya yang kasar untuk meredakan gemetar halus di jemarinya yang mulai mendingin, ia mencoba memanggil kekuatan apa pun atau sistem tersembunyi yang mungkin masih tertidur di lubuk jiwanya yang paling dalam. Namun, tidak ada apa-apa selain keheningan dingin yang hampa dan memori kelam tentang pengkhianatan di masa lalu yang terus berputar seperti piringan hitam rusak yang sangat menjengkelkan dalam pikirannya. Dekat dengannya, seorang anak laki-laki bertubuh gempal bernama Caleb tampak tersenyum lebar setelah menyentuh batu tersebut, menggumamkan ramalan tentang dirinya yang akan menjadi saudagar kaya raya pemilik tiga kapal dagang besar di pelabuhan selatan. "Berikutnya, Hafa dari klan luar, segera maju ke depan altar!" panggil seorang pendeta tinggi bertopeng perunggu dengan suara berat yang membelah keheningan altar, mengarahkan tongkat peraknya yang dihiasi permata biru langsung ke arah Hafa. Kaki Hafa terasa sangat berat bagaikan timah seberat ratusan kilogram saat ia dipaksa melangkah maju oleh tatapan ratusan pasang mata, melewati barisan anak-anak lain yang kini menatapnya dengan pandangan meremehkan serta penuh cemoohan karena status sosialnya sebagai anak buangan tanpa asal-usul yang jelas. Langkah demi langkah ia lalui dengan penuh perhitungan yang dingin, matanya yang tajam mengamati setiap detail lingkungan sekitar, mulai dari jarak antar pilar melayang, pergerakan angin yang tidak menentu, hingga kedalaman jurang di bawah jembatan batu yang tampak sangat mematikan bagi siapa saja yang terjatuh. Di ujung altar yang paling tinggi dan megah, sebuah singgasana obsidian hitam melayang dengan anggunnya di udara, ditempati oleh sesosok pria paruh baya dengan jubah keemasan bersulam benang perak yang berkilau menyilaukan di bawah terik sinar matahari siang. Archon Vaelis namanya, sang Pemimpin Tertinggi sekaligus High Oracle yang mengendalikan seluruh jalannya takdir dan kebenaran ramalan di Kepulauan Zamrud ini dengan tangan besi yang tak pernah mengenal belas kasihan. Tatapan mata Vaelis begitu dingin, datar, dan menusuk, bagaikan sepasang belati es yang siap menguliti siapa saja yang berani menunjukkan kelemahan atau ketidakpatuhan di hadapan pengadilan takdirnya yang agung dan tak tergoyahkan. Langkah kakinya terhenti tepat di depan Batu Oracle raksasa yang kini bergetar pelan di atas tumpuan batunya, memancarkan aura tekanan kuno yang sangat berat hingga menindas dadanya dan membuatnya kesulitan untuk menghirup oksigen dengan normal. "Letakkan telapak tanganmu di atas permukaan batu suci ini, dan terimalah dengan tulus tuntunan masa depanmu yang agung," perintah pendeta bertopeng itu dengan nada suara monoton yang tidak lagi menyembunyikan rasa tidak sabar dan kejijikannya terhadap anak dari klan luar tersebut. Menarik napas sedalam mungkin untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak, Hafa mencoba sekuat tenaga menstabilkan detak jantungnya yang berkejaran liar seperti kuda liar yang lepas dari kekangannya di tengah badai. Perlahan namun pasti dengan gerakan yang sangat terukur, ia mengangkat tangan kanannya yang sedikit gemetar, lalu menempelkan seluruh permukaan telapak tangannya pada bagian hitam yang kasar, dingin, dan dipenuhi ukiran rune kuno dari Batu Oracle tersebut. --- Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang semakin terasa mencekam dan berat, membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Hafa berdiri tegak di balik jubah tipisnya yang melambai ditiup angin kencang. Pemuda itu memejamkan kedua matanya rapat-rapat, menunggu dengan cemas ledakan cahaya keemasan yang seharusnya membakar kesadarannya dan memberikan penglihatan gaib tentang masa depannya yang baru di dunia reinkarnasi ini. Ia menunggu keajaiban spiritual, atau setidaknya sebuah petunjuk kecil yang bisa ia gunakan sebagai senjata taktis untuk bertahan hidup dan menavigasi jalannya di tengah kerasnya konspirasi politik pulau melayang ini yang sangat kejam. Namun, kegelapan pekat di balik kelopak matanya yang tertutup rapat tidak kunjung terusir oleh kilatan cahaya keemasan atau warna apa pun yang ia harapkan sejak tadi dengan sisa-sisa harapannya. Permukaan Batu Oracle tetap berwarna hitam legam, sedingin es kutub utara yang membeku selama ribuan tahun, tanpa ada riak energi terkecil sekalipun yang terpancar dari dalam inti batunya yang tetap diam membisu bagai benda mati biasa. Panik yang sangat hebat mulai mencengkeram tenggorokan Hafa dengan cakar-cakarnya yang tajam dan tak terlihat, membuat dadanya terasa sangat sesak dan sulit untuk bernapas saat ia perlahan membuka kelopak matanya kembali untuk menyaksikan kenyataan pahit di depannya. Angin yang tadinya berdesau kencang seolah-olah berhenti berembus seketika di sekitar altar suci tersebut, meninggalkan keheningan yang begitu pekat dan menindas hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar sangat nyaring dan memalukan di telinganya sendiri. "Bagaimana mungkin hal mengerikan ini bisa terjadi di altar suci kita?" bisik pendeta bertopeng perunggu itu dengan suara yang gemetar hebat, melangkah mundur satu langkah penuh ketakutan dengan mata yang terbelalak lebar di balik celah sempit topeng logamnya yang berkilau dingin. Bisik-bisik yang awalnya hanya terdengar samar kini mulai menjalar dengan sangat cepat di antara ribuan kerumunan penonton di tribun tebing, menyebar luas bagaikan api yang membakar padang rumput kering di tengah musim kemarau yang paling ekstrem dan panjang. Mereka menunjuk-nunjuk ke arah Hafa dengan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa jijik yang mendalam, ngeri, dan kebingungan yang sangat besar, seolah-olah mereka sedang dipaksa melihat sosok monster paling menjijikkan yang merayap keluar dari kegelapan neraka terdalam. Ketiadaan masa depan di dunia yang teratur ini adalah sebuah anomali yang sama sekali tidak bisa dimaafkan oleh hukum adat maupun hukum agama, sebuah noda hitam yang kotor, dan tanda mutlak dari jiwa yang terkutuk serta tidak diakui oleh para dewa pencipta garis takdir manusia. Seseorang tanpa ingatan masa depan dianggap sebagai sebuah lubang hitam yang mengerikan dalam jalinan takdir kosmis, sebuah variabel bebas yang sangat berbahaya karena dapat merusak tatanan harmoni sosial serta meramalkan kekacauan yang telah dijaga dengan genangan darah selama ribuan tahun lamanya oleh para leluhur klan. Dengan cepat, Hafa segera menarik telapak tangannya kembali dari permukaan batu suci itu, merasakan seluruh jemari tangan kanannya mati rasa akibat rasa dingin luar biasa yang tidak wajar yang ditinggalkan oleh batu purba yang baru saja menolaknya dengan kejam tanpa ampun. Keringat dingin mengalir deras membasahi pelipisnya yang tegang, mengalir turun melewati pipinya dan membasahi kerah jubah putihnya yang tipis hingga menempel ketat pada kulit lehernya yang terasa kaku bagaikan batu. Otak kalkulatifnya yang biasa berpikir dengan dingin dan logis kini dipaksa bekerja dengan kecepatan maksimal melampaui batas kemampuannya, memutar otak berulang kali untuk mencari celah sekecil apa pun atau jalan keluar darurat dari situasi hidup dan mati yang sangat mematikan ini. Tanpa adanya kekuatan fisik yang memadai untuk bertarung, tanpa adanya sihir pelindung yang bisa ia rapalkan, dan sekarang tanpa adanya ramalan masa depan yang bisa menjamin nilai kelangsungan hidupnya di mata masyarakat ini, ia tahu betul dirinya hanyalah seekor domba tak berdaya yang sedang menunggu giliran untuk disembelih di atas mezbah suci para penguasa. Dari atas singgasana obsidian hitam melayangnya yang megah, Archon Vaelis perlahan memiringkan kepalanya dengan gerakan yang sangat anggun namun dingin, mengalihkan pandangan matanya yang tajam bagaikan mata elang pemangsa langsung ke arah wajah Hafa yang pucat pasi menahan ketakutan. Sepasang mata kelabu milik sang Archon menyipit dengan sangat berbahaya, memancarkan aura penindasan spiritual murni yang begitu berat hingga udara di sekitar Hafa terasa mengental dan lututnya gemetar hebat, nyaris memaksa tubuhnya untuk jatuh berlutut di atas lantai marmer altar yang dingin. Vaelis sama sekali tidak melihat Hafa sebagai seorang anak manusia biasa yang sedang kebingungan dan membutuhkan bimbingan spiritual, melainkan melihatnya sebagai sebuah cacat fisik yang sangat menjijikkan, sebuah kesalahan cetak yang fatal pada kanvas takdir suci yang harus segera disingkirkan dan dimusnahkan demi menjaga kesempurnaan ramalannya sendiri. Di bawah tatapan mematikan yang menindas dari sang penguasa tertinggi tersebut, Hafa tiba-tiba menyadari satu hal penting yang membuat aliran darah di dalam nadinya berdesir kencang dengan kehangatan baru yang aneh: ketiadaan ramalan masa depan ini memanglah kelemahannya yang paling fatal saat ini, namun di saat yang sama, hal ini juga bisa menjadi senjata rahasia terbesarnya yang paling mematikan jika ia berhasil bertahan hidup melewati hari yang terkutuk ini. Ia menyadari bahwa dirinya adalah sebuah variabel bebas yang sesungguhnya di dunia ini, satu-satunya orang di seluruh penjuru negeri melayang yang setiap tindakan, keputusan, dan langkah kakinya tidak akan pernah bisa diprediksi atau dibaca oleh ramalan masa depan milik siapa pun, bahkan oleh sang High Oracle yang agung sekalipun. Namun, semua potensi kebebasan dan kekuatan tak terduga itu tidak akan pernah ada gunanya sedikit pun jika kepalanya harus terpenggal dan menggelinding dingin di atas altar suci ini sebelum matahari sore benar-benar tenggelam ke dalam pelukan awan merah di ufuk barat. "Seorang yang buta takdir..." gumam Vaelis dengan nada suara yang sangat pelan namun bergaung dengan kekuatan sihir yang sangat dahsyat ke seluruh penjuru altar melayang, seketika membungkam semua bisik-bisik ketakutan dari ribuan penonton yang hadir dalam sekejap mata. Suasana di sekitar altar suci tersebut berubah menjadi begitu tegang, sunyi, dan mencekam, hingga suara kepakan sayap dari seekor burung elang hitam yang melintas jauh di atas langit mereka pun terdengar sangat jelas dan tajam di telinga setiap orang yang sedang menahan napas mereka masing-masing. Sambil menahan perih, Hafa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di balik lipatan jubah putih tipisnya yang melambai-lambai liar ditiup angin gunung yang semakin kencang, merasakan kuku-kukunya yang tajam menusuk dalam ke dalam kulit telapak tangan sendiri hingga cairan merah hangat mulai menetes perlahan membasahi lantai marmer putih di bawah kakinya. "Aku sama sekali tidak akan membiarkan kalian memutuskan akhir dari kehidupan baruku di tempat konyol yang dipenuhi orang-orang fanatik ini," batin Hafa dengan rahang yang mengeras kencang, menolak dengan keras untuk tunduk pada rasa takut primitif yang terus mencoba melumpuhkan akal sehatnya yang tajam. Pikiran pragmatisnya yang terlatih di dunia modern berbisik dengan dingin bahwa dunia ini tidak benar-benar digerakkan oleh kehendak suci para dewa takdir, melainkan oleh rantai informasi tersembunyi, manipulasi psikologis massa, dan monopoli kekuasaan yang bisa ia retak serta hancurkan berkeping-keping jika ia diberikan cukup waktu untuk menyusun strategi perlawanannya. Sayangnya, waktu adalah sebuah kemewahan terbesar yang sama sekali tidak dimiliki oleh seorang terdakwa bidah di hadapan sang penguasa mutlak Kepulauan Zamrud yang menganggap segala bentuk ketidakpastian sebagai ancaman terbesar yang paling mematikan bagi kelangsungan takhtanya yang megah dan suci. Langkah kaki para ksatria pelindung yang mengenakan baju zirah perak tebal mulai terdengar mendekat dengan presisi yang mengerikan dari arah belakang jembatan batu, ujung tombak-tombak panjang mereka yang terbuat dari baja pilihan berkilau memantulkan cahaya matahari sore yang mulai meredup merah bagaikan genangan darah segar di langit. Dalam keheningan itu, Hafa tetap berdiri tegak tanpa menggeser langkah kakinya sedikit pun, tatapan matanya yang dingin dan penuh perhitungan tetap terkunci rapat pada sosok pria bergaun emas megah yang kini mulai berdiri perlahan dari singgasana obsidian hitamnya yang melayang di udara dengan keagungan yang menakutkan dan menindas jiwa siapa pun di sekitarnya. Vaelis perlahan bangkit dari takhtanya, mengacungkan tongkat obsidiannya ke leher Hafa sembari berbisik, 'Seorang yang buta takdir tidak boleh mengotori kanvas masa depan kita—eksekusi dia sekarang.'

End of Chapter 1