Chapter 6 of 7
Batas Moral Yang Terkoyak
1.5k words
Ariel menggeser tubuhnya di tepi ranjang, merasakan kain seprai bergeser dingin di bawah kulit paha. Tatapan matanya lurus ke layar ponsel yang tegak bersandar, di sana, Luna masih ada. Wajah psikolog cantik itu begitu dekat, sorot matanya yang gelap memancarkan sesuatu yang tak bisa Ariel baca, namun mengikat. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, nyaris tak terlihat, sebuah janji yang mengawang di udara.
Elina terdiam di sampingnya, tubuhnya sedikit gemetar setelah ciuman panjang yang menguras napas. Ariel membiarkan jemarinya menjelajahi helai rambut Elina yang lembut, menyisirnya perlahan ke belakang telinga. Aroma sampo buah-buahan dari rambut Elina menguar, bercampur dengan bau samar tubuhnya yang mulai memanas. Sentuhan Ariel terasa seperti sengatan listrik, membiarkan kulit Elina meremang di bawahnya.
"Sayang..." suara Ariel berdesis, begitu rendah hingga nyaris seperti bisikan, namun penuh perintah. Ia merasakan getaran halus di tubuh Elina. "Lihat aku."
Elina mendongak, matanya yang sayu bertemu pandang dengan Ariel. Ada kepasrahan dan sedikit ketakutan di sana, sebuah campuran yang membuat Ariel merasa semakin berkuasa. Jemari Ariel bergerak dari rambut Elina, turun ke rahangnya, mengelus tulang pipinya yang lembut.
"Lebih dekat," bisik Ariel, mendorong dagu Elina perlahan. Gadis itu menurut, bergerak merapat. "Bagus."
Ariel kemudian menuntun bahu Elina, memberikan tekanan lembut, mengarahkannya untuk berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka. Gerakan Elina canggung pada awalnya, namun kemudian ia menyerah sepenuhnya, menempatkan diri dalam posisi yang diminta. Pandangan mata Elina melayang ke arah ponsel, ke wajah Luna yang terpaku di sana, seolah mencari izin atau kekuatan yang tak akan pernah datang.
"Itu..." Elina menelan ludah, suaranya tercekat. "Untuk Luna juga?"
Sudut bibir Ariel terangkat. Sebuah kekuasaan yang tak terucapkan. "Tentu saja, sayangku. Dia harus melihat setiap detailnya." Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, matanya tak pernah lepas dari layar ponsel, dari Luna yang menjadi saksi bisu. Ariel merasakan getaran di dadanya, bukan hanya karena Elina yang kini berlutut di hadapannya, tetapi juga karena pandangan Luna yang terasa membakar.
Ia melihat Luna di layar, rahangnya sedikit mengeras, matanya yang besar tampak lebih gelap dari biasanya, terpaku pada pemandangan di depannya. Dada Luna naik turun, ritmenya sedikit lebih cepat dari normal. Ariel bisa merasakan gairah Luna, bahkan dari jarak jauh, terpancar melalui piksel-piksel di layar. Sebuah permainan yang baru saja dimulai, dan Ariel adalah dalangnya.
---
Elina berlutut di antara kaki Ariel, kepalanya menunduk sedikit, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Tangan Ariel bergerak dari bahu Elina, turun ke pinggangnya, lalu melingkari punggung Elina. Jemarinya menarik ujung kaus Elina ke atas, menyingkap punggungnya yang mulus. Kulitnya terasa hangat di bawah sentuhan jari-jari Ariel. Sebuah desahan halus lolos dari bibir Elina, merespons sentuhan itu.
"Sekarang giliranmu, Kak," bisik Ariel, suaranya serak. Jemarinya perlahan beralih ke kancing celana jin yang ia kenakan. Mata Elina mengikutinya, bulu matanya bergetar. Ariel bisa melihat bagaimana pupil matanya melebar, memantulkan bayangan kejantanan adiknya yang sebentar lagi akan bebas. Ariel tak ingin berlama-lama. Ia ingin Elina melihat, merasakan, dan Luna menyaksikan.
Elina mengulurkan tangan, jemarinya yang ramping menyentuh kancing celana Ariel. Gerakannya sedikit gemetar, seolah ragu, namun dorongan dari Ariel terasa begitu kuat. _Sreeet..._ Resleting celana Ariel terbuka dengan suara pelan, menciptakan sensasi dingin yang merayap naik ke pangkal pahanya. Sebuah erangan tertahan keluar dari bibir Elina saat ia melihat kain dalam Ariel menyembul.
Ariel merasakan kain dalam yang mulai basah karena gairah melorot di bawah tarikan tangan Elina. Sebuah sentuhan yang lembut, namun penuh antisipasi. Kemudian, perlahan, Elina melucuti celana jin Ariel hingga lutut, lalu menariknya turun bersamaan dengan kain dalam. Sensasi dingin di kulit Ariel langsung berganti menjadi panas yang membakar, terutama di area kejantanannya yang kini terlepas bebas.
Kontol Ariel menyembul keluar, besar dan tebal, dengan urat-urat yang menonjol jelas di sepanjang permukaannya. Kepalanya yang berwarna merah keunguan tampak berkilau, basah oleh cairan gairah. Ariel mendengar napas Elina tercekat. Mata Elina terpaku pada kejantanan Ariel, bibirnya sedikit terbuka, seolah tak percaya pada ukuran yang kini terpampang nyata di hadapannya.
"_Hnggh..._" Elina mengeluarkan suara rendah, seperti rintihan. Jemarinya yang tadi gemetar kini terhenti, menatap horor sekaligus terpukau. Ariel tersenyum puas. Ia tahu Elina selalu terkejut dengan ukuran kejantanannya, dan kali ini, ia memastikan bahwa Luna di layar juga ikut terkejut.
Pandangan Ariel melayang ke layar ponsel. Wajah Luna di sana tampak begitu dekat, matanya membelalak, fokusnya terkunci sepenuhnya pada pemandangan di bawah sana. Ariel bisa melihat bibir Luna sedikit terbuka, napasnya memburu. Sebuah reaksi yang jelas, yang membuat Ariel merasa semakin digdaya. Ini bukan hanya tentang Elina, tapi juga tentang Luna, tentang batas moral yang kini mulai terkoyak di hadapan mereka.
---
Dengan kejantanan Ariel yang kini tegak dan berdenyut di hadapannya, Elina menelan ludah dengan susah payah. Matanya masih terpaku pada ukuran yang terasa begitu intimidasi. Ariel meraih dagu Elina, mengangkatnya agar tatapan mereka bertemu. Ia bisa merasakan getaran kecil di rahang Elina, tanda kegugupan dan antisipasi. Ariel ingin ini menjadi tontonan yang tak terlupakan untuk Luna.
"Buka mulutmu, Kak," bisik Ariel, suaranya rendah dan penuh otoritas. Ia sedikit mencondongkan tubuh, menunjuk ke arah ponsel dengan matanya, menegaskan bahwa ini bukan hanya untuk mereka berdua. Elina memejamkan mata sesaat, sebuah napas berat terembus dari bibirnya, lalu perlahan membuka mulutnya. Bibirnya yang penuh tampak begitu menggoda, basah dan siap menerima.
Ariel tak menunggu lagi. Dengan gerakan yang terkontrol namun penuh dominasi, ia mengarahkan kepala Elina turun ke area selangkangannya. Elina menurut, kepalanya bergerak ke bawah, rambutnya menjuntai di kedua sisi kejantanan Ariel. Pandangan Ariel terpaku pada layar ponsel, memastikan bahwa kamera benar-benar menangkap setiap inci dari aksi yang akan terjadi. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya saat ia melihat fokus Luna yang tak bergeser sedikit pun.
Elina membuka mulutnya lebih lebar, lidahnya sedikit menyembul, seperti seekor ular yang siap melahap mangsa. Ariel mendorong pinggulnya ke depan, membenamkan kepala kejantanannya ke dalam mulut Elina. _Slurp..._ Sebuah suara basah terdengar, diikuti oleh erangan tertahan dari Elina. Matanya terpejam erat, pipinya sedikit mengembung saat ia berusaha menampung ukuran Ariel.
"Lebih dalam, sayang," desis Ariel, menekan kepalanya lebih jauh. Elina berusaha, tenggorokannya bergerak naik turun dengan susah payah. Ariel bisa merasakan kehangatan dan kebasahan mulut Elina yang membungkus kejantanannya dengan begitu rapat. Sebuah sensasi yang memabukkan, yang membuat seluruh tubuh Ariel menegang. _Schhlup..._
Ariel mendorong lagi, lebih dalam. Elina merintih, suaranya tertahan di kerongkongan. Hidungnya sedikit mengerut, air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia tidak menyerah. Ia melahap kejantanan Ariel yang berukuran luar biasa dengan penuh kepasrahan, lidahnya bergerak melingkari batang yang tebal. Ariel merasakan tubuhnya berdenyut, sensasi itu begitu kuat hingga ia harus menahan napas. _Mm-ngh..._
Ariel merasa sangat digdaya. Ia melihat ekspresi di wajah Luna pada layar ponsel, campuran antara keterkejutan, hasrat, dan mungkin sedikit kecemburuan yang terselubung. Luna tidak berkedip, matanya terpaku pada pemandangan di depan, seolah takut melewatkan detail sekecil apa pun. Ariel bisa merasakan energi yang memancar dari Luna, sebuah gairah yang dibangun oleh setiap gerakan Elina. Permainan ini semakin memanas, dan Ariel menikmati setiap detiknya.
---
Elina melanjutkan aksinya, gerakannya kini lebih ritmis, kepalanya bergerak naik turun dengan irama yang tercipta sendiri. Mulutnya yang basah membungkus erat kejantanan Ariel, menciptakan bunyi isapan yang nyaris tak terputus. _Chup... slurp..._ Ariel menekan kepalanya ke belakang sandaran ranjang, matanya tertuju sepenuhnya pada layar ponsel, pada Luna. Ia ingin melihat setiap respons, setiap getaran kecil di wajah wanita itu.
Di layar, Luna tampak membatu. Rahangnya mengeras, bibirnya sedikit terbuka, menunjukkan gigi putihnya yang rapat. Matanya yang gelap memantulkan cahaya dari layar ponsel Ariel, sepenuhnya terserap oleh tontonan yang disajikan di hadapannya. Ariel bisa melihat pupil mata Luna melebar, seolah menampung seluruh adegan eksplisit itu ke dalam dirinya. Ada kilatan basah di sudut mata Luna, sebuah sinyal yang tak terucapkan.
Dada Luna bergerak naik turun, lebih cepat, lebih dalam dari sebelumnya. Kemeja silk berwarna krem yang ia kenakan menempel ketat pada kulitnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang penuh. Ariel bisa melihat bayangan putingnya yang menonjol samar di balik kain tipis itu, sebuah detail kecil yang semakin memanaskan situasi. Ariel tahu, Luna tidak hanya menonton, ia merasakan. Ia membayangkan apa yang Luna pikirkan, apa yang ia rasakan di balik ekspresi tenangnya.
Elina tiba-tiba mengeluarkan suara _hnggh..._ yang tertahan, tenggorokannya bergetar. Ia sedikit menarik diri, lalu kembali menekan ke depan, berusaha menampung ukuran Ariel yang begitu dalam. _Slurp... schhlup..._ Bunyi isapan basah semakin intens. Ariel bisa merasakan tubuhnya sendiri menegang, gairahnya melonjak tajam, terdorong oleh kepasrahan Elina dan tatapan Luna yang membakar.
Sebuah batuk halus lolos dari bibir Elina, disusul rintihan kecil. Ia sempat terhenti sesaat, matanya terbuka, menatap Ariel dengan tatapan memohon, namun Ariel hanya membalasnya dengan senyum tipis. Ia mendorong pinggulnya sekali lagi, memastikan Elina kembali tenggelam dalam aksi lisan itu. Pada saat yang sama, Ariel melihat tangan Luna di layar. Jemarinya perlahan terangkat, bergerak mendekat ke area dadanya. Ariel melihat kain kemeja Luna sedikit berkerut, sebuah tarikan kecil yang terlihat jelas. Sebuah gerakan nyaris tak terlihat, namun Ariel menangkapnya, seolah ada sesuatu yang kini ia remas di balik kemeja itu.