Chapter 6 of 14
Chapter 6: Serangan Balik Sang Gurita
1.0k words
Udara pagi menyapa dengan kehangatan ringan. Dua hari telah berlalu sejak kesuksesan di pelabuhan, sejak kargo jahe merah mendarat mulus, mengukir senyum di wajah Pak Danu dan harapan baru di benak Arsyad.
Pagi ini, Arsyad meninjau tumpukan karung jahe yang memenuhi gudang sewaan mereka. Aroma tanah dan rempah memenuhi udara. Angka-angka berputar di kepalanya, kalkulasi keuntungan, potensi pasar. Semuanya terasa berada di jalur yang benar.
Sebuah getaran ponsel memecah konsentrasi. Itu ponsel Pak Danu, tergeletak di meja kerja kecil mereka. Pria paruh baya itu mengangkatnya, alisnya berkerut. Wajahnya yang semula cerah, perlahan memudar.
"Apa?" suaranya tercekat. "Tapi... kenapa mendadak sekali?"
Arsyad menoleh, firasat buruk mulai merayapi punggungnya. Mata Pak Danu bertemu dengannya, dipenuhi kecemasan. Panggilan itu berakhir. Pak Danu masih memegang ponselnya, tangannya sedikit gemetar.
"Distributor Pak Harso," jelasnya, suaranya rendah. "Membatalkan kontrak. Katanya ada masalah internal."
Masalah internal? Arsyad merasa ada yang janggal. Pak Harso adalah mitra lama, jarang sekali bermasalah. Ini bukan sekadar masalah internal.
Baru saja Pak Danu meletakkan ponselnya, dering lain memekik. Kali ini, ekspresi Pak Danu langsung berubah panik. Ia buru-buru menjawab, namun kata-kata yang keluar dari bibirnya semakin mengecil.
"Pak Jono juga?" pekiknya, matanya membelalak. "Tidak bisa begitu! Kita sudah ada kesepakatan!"
Tidak ada gunanya. Suara di seberang sana terdengar tegas, tanpa kompromi. Pak Danu menutup telepon, wajahnya sepucat kertas. Jemarinya mencengkeram erat ponselnya.
"Semua," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. "Semua distributor. Pak Jono, Bu Sri, bahkan Pak Ahmad dari Pasuruan. Mereka semua membatalkan kontrak pasokan jahe merah kita. Serentak."
Napas Arsyad tercekat. Serentak? Ini bukan kebetulan. Ini bukan masalah internal. Ini adalah koordinasi, serangan yang terencana.
"Kenapa?" Arsyad bertanya, suaranya menipis. Otaknya berputar cepat, mencari celah, mencari alasan rasional. Tapi tidak ada. Mereka baru saja berhasil mengamankan pasokan besar, harga mereka kompetitif.
Pak Danu menelan ludah. "Mereka bilang... mereka tidak bisa bekerja sama dengan pihak yang... 'bermasalah'. Mereka tidak mau nama mereka masuk daftar hitam."
Daftar hitam. Otak Arsyad langsung menghubungkan titik-titik. Hanya satu pihak yang memiliki kekuatan sebesar itu di industri ini. Hanya satu nama yang bisa menggerakkan seluruh distributor dengan ancaman daftar hitam.
Grup Mahendra.
Emosi dingin mulai merayap naik, menggantikan euforia kesuksesan yang baru saja ia rasakan. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena kebahagiaan, melainkan karena alarm bahaya yang berdering nyaring di benaknya.
"Kita harus ke pasar induk," Arsyad memutuskan, suaranya terdengar lebih tegas dari yang ia rasakan. "Kita temui langsung para pedagang."
Pak Danu menggelengkan kepala. "Tidak akan semudah itu, Nak. Jika Mahendra sudah bergerak, tidak ada yang berani melawan."
Arsyad tidak mendengarkan. Ia sudah melangkah keluar, urgensi mendorongnya. Ia harus melihatnya sendiri, membuktikan bahwa ada cara, ada celah. Ia tidak bisa menyerah begitu saja. Tidak setelah semua ini.
---
Panas matahari menyengat di pasar induk. Keramaian yang biasanya memberinya energi, kini terasa menyesakkan. Arsyad menyusuri lorong-lorong, matanya mencari kios-kios yang biasa menjual jahe merah.
Seorang pedagang tua, Pak Budi, yang Arsyad kenal baik, sedang menata tumpukan jahe di depannya. Arsyad mendekat, mencoba tersenyum.
"Pak Budi," sapanya ramah. "Bagaimana kabar? Stok jahe merahnya bagus, ya?"
Pak Budi mengangkat kepala, matanya sedikit melebar saat melihat Arsyad. Senyumnya mengendur. Ia tiba-tiba sibuk menata jahe yang sudah tertata rapi. Tangannya gemetar ringan.
"Oh, Nak Arsyad," Pak Budi bergumam, tidak menatap Arsyad. "Baik-baik saja. Jahe ini... ya, lumayan."
"Saya mau memesan jahe merah untuk kebutuhan produksi, Pak," Arsyad melanjutkan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang. "Berapa harga terbaik yang bisa Bapak berikan untuk volume besar?"
Pak Budi akhirnya menatapnya, tatapan itu dipenuhi rasa bersalah dan sedikit ketakutan. "Maaf, Nak Arsyad. Stok saya ini... sudah dipesan semua. Tidak ada sisa untuk partai besar."
Kebohongan itu jelas. Arsyad melihat tumpukan jahe di belakang Pak Budi, jumlahnya jauh lebih banyak dari yang biasa dipesan pembeli eceran. Pak Budi tidak berani menatap matanya lagi, sibuk mengusap keningnya yang berkeringat.
Arsyad mengangguk perlahan, hatinya mulai mencelos. Ia bergerak ke kios berikutnya.
"Bu Aminah, saya Arsyad. Masih ingat saya? Saya mau cari jahe merah."
Bu Aminah, seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah yang selalu menyambutnya, kini memalingkan wajah. Ia berpura-pura sibuk menimbang bumbu. "Maaf, Nak. Saya sedang tidak ada stok jahe merah yang bagus. Coba di ujung sana."
Di ujung sana, Arsyad menemui hal yang sama. Kios demi kios, pedagang demi pedagang. Senyum yang dipaksakan, tatapan menghindar, alasan yang tidak masuk akal. Semua orang tahu. Semua orang menghindarinya.
Punggung Arsyad terasa dingin. Keringat membasahi pelipisnya, bukan karena terik matahari, melainkan karena gelombang kepanikan yang menghantam. Rasa terisolasi itu menusuknya sampai ke ulu hati.
Kakinya terasa berat. Setiap penolakan adalah pukulan, meninju langsung ke masa lalunya yang terkubur. Ia ingat ibunya. Wajah pucatnya, mata yang memohon di depan pemilik warung, mencoba meminjam beras untuk makan malam.
"Mohon Pak, hanya satu kaleng. Anak-anak saya belum makan."
Kata-kata itu terngiang di telinganya. Penolakan dingin dari pemilik warung, tatapan jijik dari para tetangga. Rasa malu yang membakar saat itu, Arsyad, yang masih kecil, hanya bisa menunduk, berharap bumi menelannya.
Saat itu, ia merasa tak berdaya. Ia merasa kecil, tidak signifikan. Sama seperti sekarang.
Setiap pedagang yang memalingkan muka, setiap alasan yang dipaksakan, adalah gema dari bisikan-bisikan masa lalu: *Dasar orang miskin. Jangan dekati mereka. Mereka hanya akan menyusahkan.*
Rasa takut itu, ketakutan akan kemiskinan, ketakutan akan tidak bisa melindungi keluarganya, kini bangkit kembali dengan kekuatan penuh. Mahendra tidak hanya menyerang bisnisnya. Mereka menyerang langsung ke inti ketakutannya. Mereka ingin memotong pasokan napas kehidupan keluarganya, membuatnya kembali ke titik nol, kembali ke masa itu.
Ini bukan hanya tentang uang. Ini tentang martabat. Tentang kelangsungan hidup.
Arsyad mengepalkan tangannya. Vena di pelipisnya berdenyut. Ia harus menemukan cara. Ia harus melawan. Ia tidak akan membiarkan sejarah terulang.
Ia berjalan kembali, langkahnya tegap meski hatinya bergemuruh. Kepala menegadah, menolak menunjukkan kerapuhan di hadapan mata-mata pasar yang mencuri pandang.
Kembali ke gudang, Pak Danu sedang mondar-mandir, gelisah. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam. Arsyad masuk, dan Pak Danu langsung menghampirinya, wajahnya pucat pasi.
"Nak Arsyad..." suaranya bergetar. Ia memegang selembar kertas di tangannya, dilipat rapi. Namun, lipatan itu tidak bisa menyembunyikan logo yang tercetak di sudut atas. Sebuah logo gurita, melambangkan cengkeraman tak terlihat Mahendra Grup.
Pak Danu menyerahkan surat itu. Arsyad membukanya. Itu adalah surat pembatalan sewa gudang mereka, ditandatangani langsung oleh anak perusahaan Mahendra yang memiliki lahan tersebut. Tertulis jelas, dengan tinta tebal yang seolah mengejeknya: Tenggat waktu pengosongan gudang adalah esok hari.