Chapter 1 of 14

Chapter 1: Air Mata dan Beras Basah

1.8k words

Dingin menusuk hingga ke dalam sumsum tulang saat jarum jam dinding bergeser melewati angka delapan malam. Jemari Arsyad masih menari dengan ritme konstan di atas papan ketik laptop murah yang layarnya mulai berkedip redup karena baterai yang menipis. Setahun setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan, hidupnya telah menjelma menjadi sebuah siklus tanpa akhir yang melelahkan. Siang hari ia habiskan sebagai staf administrasi kontrak di sebuah perusahaan logistik kelas menengah, sementara malamnya diisi dengan proyek analisis data keuangan lepas yang ia dapatkan dari internet. Adaptasi di lingkungan kerja barunya tidak pernah berjalan dengan mulus bagi seorang pemuda berusia sembilan belas tahun tanpa koneksi. Rekan-rekan kerja yang lebih senior sering kali melimpahkan tumpukan berkas laporan yang rumit ke mejanya sesaat sebelum jam pulang tiba. Mereka menganggap anak magang atau karyawan baru yang pendiam sepertinya adalah sasaran empuk untuk diperas tenaganya. Arsyad menerima semuanya tanpa sepatah kata protes pun, bukan karena ia lemah, melainkan karena setiap detik di kantor adalah kesempatan baginya untuk mempelajari sistem perputaran uang. Otak kalkulatifnya yang luar biasa mampu membaca pola pengeluaran perusahaan logistik tersebut hanya dengan sekali lihat pada lembar neraca keuangan. Ia mampu menghitung margin keuntungan, memproyeksikan kerugian, dan menemukan celah efisiensi yang bahkan tidak disadari oleh manajer keuangannya sendiri. Kemampuan kalkulasi mutlak ini adalah bakat alami yang ia asah di tengah himpitan hidup yang terus mencekik leher keluarganya. Bagi Arsyad, angka-angka bukanlah sekadar simbol matematika biasa di atas kertas atau layar monitor. Angka adalah bahasa universal yang mengendalikan dunia, sebuah instrumen kekuasaan yang membedakan antara mereka yang menginjak dan mereka yang diinjak. Setiap sen rupiah yang berhasil ia kumpulkan dari pekerjaan sampingannya dikirimkan langsung ke rekening ibunya di kampung halaman untuk membiayai sekolah kedua adiknya. Ketakutan ekstrem akan kemiskinan selalu membayangi setiap keputusan yang diambil oleh pemuda berkacamata tipis ini. Trauma masa kecilnya terlalu dalam untuk dilupakan begitu saja oleh waktu yang terus berjalan. Ia masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana ibunya harus memohon-mohon di depan meja administrasi rumah sakit swasta saat dirinya terserang demam berdarah hebat sepuluh tahun lalu. Pihak rumah sakit menolak memberikan penanganan darurat hanya karena keluarga mereka tidak mampu membayar uang muka sebesar lima ratus ribu rupiah saat itu. Sejak malam yang mengerikan itu, Arsyad bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak pernah membiarkan hidupnya dikendalikan oleh belas kasihan orang lain. Ia mengembangkan obsesi paranoid untuk mengendalikan setiap variabel keuangan di sekitarnya, menolak mempercayai siapa pun secara penuh. Baginya, kepercayaan adalah sebuah liabilitas yang terlalu mahal untuk ditanggung oleh orang miskin. Hanya kalkulasi dingin dan angka pasti yang bisa menyelamatkan hidupnya dari kejamnya dunia modern yang dikuasai para oligarki. --- Suara gemuruh guntur yang sangat keras tiba-tiba membuyarkan konsentrasi Arsyad yang sedang menganalisis grafik pergerakan harga komoditas pangan. Kaca jendela ruang kantor yang luas bergetar hebat akibat hantaman angin badai yang melanda wilayah pinggiran kota malam itu. Satu panggilan masuk dari nomor adiknya, Ratih, bergetar di atas meja kerja kayu yang sudah mulai lapuk. Arsyad segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya dengan perasaan yang mendadak tidak tenang. "Kak, Bapak belum juga pulang sampai sekarang," suara Ratih terdengar gemetar di ujung telepon, diselingi isak tangis yang berusaha ia sembunyikan. Ratih menjelaskan bahwa ayah mereka pergi ke kompleks pergudangan pupuk milik Grup Mahendra sejak sore tadi untuk meminta kelonggaran pembayaran hutang pertanian. Darah Arsyad seolah berhenti mengalir mendengar nama korporasi raksasa itu disebut oleh adiknya. Grup Mahendra adalah sebuah dinasti bisnis raksasa yang memonopoli seluruh rantai pasok pupuk, benih, hingga jalur distribusi hasil bumi di wilayah mereka. Oligarki ini dikenal tidak pernah memiliki belas kasihan terhadap para petani kecil yang menjadi mitra kerja mereka di lapangan. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arsyad mematikan laptopnya dengan kasar dan memasukkannya ke dalam tas ransel hitamnya yang sudah mulai pudar warnanya. Ia menyambar jaket tipis dari gantungan pintu lalu berlari cepat menuju area parkir luar yang sudah mulai sepi dari kendaraan karyawan lain. Hujan deras langsung menyambut tubuhnya begitu ia melangkah keluar dari lobi gedung kantor yang diterangi lampu neon putih. Ia segera menyalakan mesin sepeda motor tua peninggalan almarhum ibunya yang sering mogok jika terkena air hujan terlalu banyak. Perjalanan menuju kompleks pergudangan Grup Mahendra terasa bagaikan sebuah ujian fisik yang sangat menyiksa bagi tubuhnya yang lelah. Jalanan aspal yang berlubang kini tertutup oleh genangan air keruh setinggi mata kaki, menyembunyikan bahaya yang siap menjatuhkan pengendara motor kapan saja. Arsyad memacu kendaraannya menembus badai dengan kecepatan tinggi, mengabaikan cipratan air kotor yang membasahi celana kain kerjanya hingga basah kuyup. Pikirannya dipenuhi oleh kalkulasi buruk tentang apa yang mungkin dilakukan oleh para pengawal dan kaki tangan Grup Mahendra terhadap ayahnya yang sudah tua. Sesampainya di gerbang besi raksasa kompleks industri tersebut, sorot lampu sorot berkekuatan tinggi langsung membutakan pandangannya sesaat. Kompleks pergudangan itu berdiri kokoh bagai benteng pertahanan abad pertengahan yang angkuh di tengah kawasan industri pinggiran kota. Arsyad memarkir motornya secara sembarangan di dekat pos penjagaan besi yang tampak sepi karena para petugas lebih memilih berteduh di dalam ruangan hangat mereka. Ia melangkah cepat menembus genangan air di halaman beraspal menuju area teras gudang penyimpanan pupuk utama yang diterangi oleh lampu halogen kuning. --- Bau menyengat dari bahan kimia pupuk urea bercampur dengan aroma tanah basah yang pekat langsung menusuk hidung Arsyad begitu ia mendekati teras gudang. Pandangannya langsung tertuju pada dua sosok manusia yang berdiri di bawah terangnya lampu sorot yang terpasang di langit-langit teras beton tersebut. Ayahnya, Pak Soemarta, berdiri dengan tubuh yang tampak sangat ringkih dan pakaian kerja yang basah kuyup akibat tampias air hujan yang deras. Di hadapan ayahnya, berdiri Setyo, asisten manajer wilayah Grup Mahendra yang dikenal sangat kejam dan arogan terhadap para buruh tani setempat. Setyo mengenakan setelan jas abu-abu yang licin tanpa noda sedikit pun, dilindungi oleh payung hitam besar yang dipegang erat oleh salah satu anak buahnya yang berbadan tegap. "Tolong beri kami waktu dua minggu lagi untuk melunasi semuanya, Pak Setyo," suara parau Pak Soemarta terdengar memelas di antara deru angin kencang yang bertiup. "Hasil panen padi kami hancur total diserang hama wereng bulan ini, kami benar-benar tidak memegang uang tunai sepeser pun saat ini," lanjutnya dengan nada gemetar. Setyo hanya mendengus sinis sambil memutar-mutar jam tangan emas mewah di pergelangan tangan kirinya dengan gerakan yang lambat. "Dua minggu?" ejek Setyo dengan tawa meremehkan yang membuat ulu hati Arsyad berdenyut kencang karena amarah yang mulai memuncak. Setyo menatap Pak Soemarta dari atas ke bawah seolah-olah pria tua di depannya itu hanyalah seonggok sampah yang mengotori teras gudangnya yang bersih. "Grup Mahendra bukanlah lembaga amal sosial yang bisa terus-menerus memaklumi ketidakmampuan para petani miskin seperti kalian," lanjut Setyo dengan nada suara yang sengaja dikeraskan. "Jika tenggat waktu hari ini dilewati tanpa pembayaran, maka seluruh jatah subsidi dan beras bulanan kalian akan langsung dihentikan tanpa pengecualian." Mendengar ancaman dingin yang dilontarkan oleh asisten manajer tersebut, tubuh renta Pak Soemarta tampak kehilangan seluruh kekuatannya untuk berdiri tegak. Secara perlahan, pria tua yang telah menghabiskan seluruh hidupnya di ladang lumpur itu menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai semen teras yang kotor. Beliau bersujud di depan sepatu kulit hitam mengkilap milik Setyo, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan air mata yang mulai bercampur dengan air hujan. "Saya memohon dengan sangat, Pak," ratap Pak Soemarta dengan suara yang bergetar hebat menahan rasa malu yang teramat sangat. "Anak-anak saya di rumah sangat membutuhkan beras jatah itu untuk bertahan hidup, tolong jangan ambil satu-satunya harapan kami." Pemandangan memilukan itu menghantam dada Arsyad bagaikan hantaman palu godam berkekuatan penuh yang menghancurkan sisa-sisa harga dirinya. Rasa bersalah yang mendalam karena ketidakberdayaannya di masa kecil kini bangkit kembali dengan kekuatan penuh, memicu kemarahan yang luar biasa di dalam kepalanya. Ketakutan ekstrem akan kemiskinan yang selama ini ia pendam dalam diam kini bertransformasi menjadi kebencian murni yang dingin terhadap oligarki yang berdiri di depannya. Setyo memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawakan sekantong beras jatah bulanan milik keluarga Soemarta yang berada di atas meja administrasi luar. "Kamu sangat menginginkan beras jatah murahan ini, Soemarta?" tanya Setyo sambil menerima kantong plastik berisi beras sepuluh kilogram tersebut dari tangan anak buahnya. Tanpa ragu sedikit pun, Setyo membalikkan kantong plastik itu tepat di atas kubangan lumpur hitam pekat yang berada di samping teras beton gudang. Butiran-butiran beras putih yang sangat berharga bagi keluarga Arsyad itu tumpah ruah, tenggelam ke dalam air keruh yang kotor dan tidak mungkin lagi bisa dikonsumsi. "Sekarang, silakan kamu pungut berasmu dari sana jika kamu memang sangat membutuhkannya untuk menyambung hidup," ucap Setyo dengan senyum kemenangan yang sangat keji di wajah tambunnya. Arsyad tidak mampu lagi menahan gelombang amarah yang meledak di dalam dadanya melihat penghinaan luar biasa yang diterima oleh ayahnya. Langkah kakinya melesat maju menembus tirai air hujan yang membatasi teras dengan halaman luar gudang yang gelap. Ia mencengkeram erat kedua pundak ayahnya, menggunakan seluruh tenaga mudanya untuk menarik paksa tubuh renta itu agar kembali berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri. "Cukup, Pak! Jangan pernah bersujud lagi di depan orang-orang berjiwa binatang seperti mereka!" teriak Arsyad dengan suara bariton yang bergetar hebat karena emosi yang menumpuk di tenggorokannya. Pak Soemarta tersentak kaget dan mendongak, menatap wajah putra sulungnya yang kini berdiri di sampingnya dengan napas yang memburu cepat. "Arsyad... kenapa kamu datang ke sini, Nak?" bisik ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca, memancarkan rasa malu yang teramat sangat karena memperlihatkan kehancurannya di depan sang anak. Arsyad tidak menjawab pertanyaan ayahnya, melainkan langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah wajah Setyo yang berada tepat di hadapan mereka. Tatapan mata pemuda sembilan belas tahun itu begitu dingin, tajam, dan penuh dengan kebencian mendalam yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya. Tangan kanan Arsyad yang berada di dalam saku celana kain kerjanya menggenggam erat selembar kertas tua yang terlipat rapi dan sudah mulai menguning di bagian ujungnya. Kertas tersebut berisi formula resep jamu kesehatan legendaris warisan almarhum ibunya, sebuah resep rahasia yang memiliki khasiat luar biasa dan belum pernah diproduksi secara massal oleh industri mana pun. Otak kalkulatif Arsyad yang cerdas langsung bekerja dengan kecepatan penuh di balik wajahnya yang kaku dan sedingin es. Ia mulai menghitung struktur biaya produksi, memetakan rantai pasok alternatif, dan merancang strategi bisnis rahasia untuk menghancurkan monopoli pasar herbal yang dikuasai oleh anak perusahaan Grup Mahendra. "Kita pulang sekarang, Pak," kata Arsyad dengan nada suara yang mendadak drop menjadi sangat tenang, namun sarat akan ancaman terselubung yang menakutkan. Ia merangkul pundak ayahnya yang masih gemetar karena kedinginan, menuntun pria tua itu untuk berbalik arah meninggalkan area teras gudang yang megah tersebut. Langkah kaki mereka berdua bergerak perlahan menjauhi cahaya lampu sorot, kembali melangkah masuk ke dalam kegelapan malam yang dingin di bawah guyuran hujan badai yang belum juga reda. Setyo mendengus kasar melihat kepergian kedua orang miskin itu tanpa ada tanda-tanda ketakutan atau kepatuhan yang biasa ia terima dari para buruh tani lainnya. --- Saat Arsyad membalikkan badan, asisten tersebut meludahi tanah dan berbisik, 'Bulan depan, tanah pertanian keluargamu akan disita jika utang satu miliar itu tidak lunas.'—sebuah kenyataan pahit yang tidak pernah diceritakan ayahnya.

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter
Chapter 1: Chapter 1: Air Mata dan Beras Basah - Membangun Dari Langkah Pertama | Novel AI Studio