Rasa sakit yang teramat sangat menghantam kesadaranku bagai gada besi raksasa yang menghancurkan tulang belulang.
Dinginnya lantai batu altar kuil yang runtuh ini tidak mampu meredakan sensasi terbakar yang menjalar liar di setiap jengkal kulitku.
Udara di sekelilingku terasa begitu pekat, berbau karat besi bercampur dengan aroma menyengat dari karet sintetis yang terbakar hebat.
Kucoba membuka mata, namun pandanganku kabur oleh kabut merah yang berdenyut kencang di pelupuk mata.
Sesuatu yang dingin dan lengket mulai merayap di atas paha dan pinggulku yang telanjang.
Cairan hitam pekat yang mengalir dari sela-sela batu altar mulai merayap naik ke dada dan lenganku.
Perlahan, cairan tersebut mengeras, menyatu erat dengan pori-pori kulitku hingga ke tingkat sel yang paling dalam.
Setiap jengkal dagingku terasa ditarik dan dipelintir secara paksa, dipaksa menyatu dengan material sintetis yang licin itu.
Kakiku berkedut hebat, mencoba melawan cengkeraman lapisan hitam mengkilap yang kini mulai membentuk kulit kedua yang tebal.
Di ujung altar, bayangan seorang pria berdiri tegak, membelakangi kegelapan reruntuhan kuno yang sunyi ini.
Arkan berdiri di sana, menatapku dengan sepasang mata yang sedingin es kutub, sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan.
Bilah belati ritual berwarna perak berkilau di tangan kanannya, mengalirkan tetesan darah segar yang jatuh lambat ke lantai batu.
Mengapa kau melakukan ini padaku, Arkan?
Kenangan masa kecil kami mendadak melintas di kepalaku, memperparah rasa sakit yang kini mencabik-cabik dada.
"Maafkan aku, Baskara," ucapnya dingin, suaranya datar tanpa ada sedikit pun getaran penyesalan di dalamnya.
"Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan kekuatan yang dijanjikan oleh Yang Mulia Malakor," lanjutnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia berbalik dan melangkah mundur perlahan, menyimpan belati ritual itu ke balik jubahnya.
Tubuhku terus menggelembung kaku, dipaksa melebar oleh pertumbuhan otot-otot buatan yang tidak alami di bawah lapisan sintetis yang basah dan licin.
Keputusasaan mulai merayap masuk ke dalam relung jiwaku, meremukkan sisa-sisa kewarasan yang coba kupertahankan di tengah siksaan ini.
Suara langkah kaki kakakku terdengar semakin menjauh, meninggalkan diriku yang terkapar tak berdaya di atas altar terkutuk.
Dengan sisa-sisa tenaga manusianya, kucoba membuka mulut untuk memanggil namanya, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk.
Panas membara menjalar ke tenggorokanku, membakar pita suaraku hingga hancur dan menyusunnya kembali secara kasar.
Tenggorokanku terasa seperti dialiri cairan logam panas yang melelehkan setiap serat otot di dalamnya.
Ketika suara itu akhirnya keluar, yang terdengar bukanlah jeritan manusia yang meminta pertolongan, melainkan geraman monster yang sangat berat.
Bunyi geraman itu bergemuruh rendah, menggetarkan debu-debu di lantai kuil dan memantul di dinding-dinding batu yang retak.
Kesadaran bahwa aku telah dikhianati secara kejam membuat dadaku terasa sesak oleh amarah yang membara.
Rasa hangat yang aneh mulai menjalar dari balik topeng banteng yang kini menutupi seluruh kepalaku dengan sangat rapat.
Aku harus bertahan, aku tidak boleh membiarkan kesadaran manusianku lenyap ditelan kegelapan yang ditawarkan oleh kutukan ini.
Napasku berembus cepat dan berat melalui celah penutup wajah, menghasilkan uap hangat yang langsung mengembun di udara malam.
Lantai batu di bawah kakiku retak seketika saat aku memaksa tubuh raksasa ini untuk bangkit berdiri tegak.
Kulihat lenganku sendiri yang kini terbungkus rapat oleh bodysuit lateks hitam mengkilap, memantulkan sisa-sisa cahaya obor dengan kesan basah.
Otot-otot lenganku terlihat sangat besar dan kokoh, berkilau licin bagaikan kulit monster rawa yang baru saja bangkit.
Bodysuit ini menutupi seluruh tubuhku tanpa ada celah sedikit pun, membentuk lekukan otot dada dan perut yang sangat kekar.
Kesunyian malam terasa semakin mencekam ketika aku melangkah terseok-seok meninggalkan altar ritual yang kini telah kehilangan cahayanya.
---
Langkah kakiku yang berat meninggalkan jejak debu yang tebal, diiringi suara dentuman yang menggetarkan fondasi kuil kuno ini.
Rasa takut yang teramat sangat mulai mengikis keberanianku saat bayangan tubuhku sendiri mulai terlihat samar di depan cermin tua.
Angin malam berembus kencang melalui celah atap yang runtuh, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering yang dingin.
Berhenti tepat di depan cermin besar yang tergantung miring, aku membiarkan mataku menatap langsung ke arah pantulan sosok di depanku.
Sosok di dalam cermin itu sama sekali bukan lagi Baskara yang kukenal selama puluhan tahun hidup sebagai manusia biasa.
Kepala banteng berwarna hitam pekat dengan moncong gahar kini menggantikan wajah manusiaku secara permanen.
Tanduk melengkung raksasa tumbuh kokoh di atas kepalaku, berkilau tajam di bawah siraman cahaya bulan merah yang redup.
Mulut topeng banteng tersebut sedikit terbuka, menampilkan deretan gigi putih yang tajam di balik lapisan lateks hitam yang licin.
Sepasang mata di balik topeng itu berwarna merah menyala bagaikan bara api yang terus menyala tanpa bisa kupadamkan.
Bagaimana mungkin aku bisa membalas dendam jika seluruh dunia kini akan memburuku sebagai iblis pembawa petaka yang mengerikan?
Kemarahan yang tak terkendali kembali berbisik di dalam kepalaku, mendesakku untuk segera mencari monster lain untuk dibantai habis-habisan.
Jika aku berhenti membantai monster lain bahkan untuk sedetik saja, jiwa manusianya akan sepenuhnya ditelan oleh naluri binatang buas ini.
Kutukan Penyihir Agung Malakor ini benar-benar dirancang untuk menyiksaku lahir dan batin, menjadikanku senjata pembunuh tanpa jiwa yang menakutkan.
Aku mengepalkan kedua tanganku yang kini dilapisi material lateks tebal, merasakan kekuatan dahsyat yang siap meledak dari setiap gerakan.
Pria yang kusebut kakak itu harus membayar mahal atas setiap tetes air mata dan darah yang tumpah di tempat terkutuk ini.
Namun, sebelum semua itu terjadi, aku harus bisa mempertahankan kewarasanku dari tarikan naluri liar yang terus menggerogoti pikiran.
Suara embusan napasku yang berat kembali bergema di dalam kuil yang sunyi, membawa keheningan malam yang terasa semakin mencekam.
Saat Baskara mencoba meraih wajahnya, jemarinya yang kini berupa cakar hitam mengilap menyentuh topeng banteng keras yang tidak bisa dilepas, dan sepasang mata merah di cermin kuil mulai berkedip sendiri.