Udara di sekitar bergetar hebat. Sebuah gelombang kejut yang tak terlihat menghantam Lin Fan, mendorong paru-parunya keluar dari ritme normal. Detak jantungnya melonjak, membentur rusuk dengan irama keras. Di retina matanya, antarmuka Neural HUD-nya berkedip merah menyala. “*Peringatan: Gelombang kejut terdeteksi. Integritas struktural lingkungan: 7% dan terus menurun.*” Suara A.R.I.A. terdengar datar, namun urgensi datanya menampar kesadarannya.
Sebuah *BOOMM* yang memekakkan telinga meledak dari arah jalanan utama. Tanah di bawah kaki mereka bergetar, seolah-olah raksasa purba baru saja menghentakkan kakinya. Lin Fan merasakan getaran itu naik melalui tumitnya, merambat ke tulang punggungnya, hingga membuat giginya bergemeletuk. Debu dan kerikil berhamburan ke udara, menebalkan selubung malam yang sudah pekat. Bau belerang yang tajam, pekat, dan memabukkan menusuk hidungnya, disusul aroma hangus kayu dan daging terbakar yang mengerikan.
Mei Lan tersentak. Tubuhnya menegang di samping Lin Fan, seolah-olah dia adalah busur yang ditarik hingga titik putus. Mata cokelatnya membelalak sempurna, memantulkan kilat oranye dari kejauhan. Sebuah desahan pendek, tersengal, lolos dari bibirnya. Dia mencengkeram lengan baju Lin Fan, jari-jarinya menekan kuat hingga ujungnya memutih. Rasa sentuhan itu memicu anomali lagi. “*Anomali Biometrik Tingkat Kritis Terdeteksi. Detak jantung 180 bpm. Dopamin: 400%. Kortisol: 350%. Rekomendasi: Pemisahan kontak fisik.*” A.R.I.A. tidak berhenti. Sistemnya terus berteriak, sebuah peringatan yang kini terasa absurd di tengah kekacauan ini. Lin Fan mengabaikannya.
Dia menarik Mei Lan lebih dalam ke celah antara dua dinding bata yang retak, hampir menyeretnya. Kakinya bergerak otomatis, mengikuti rute evakuasi yang sudah dipetakan A.R.I.A. *“Jalur evakuasi diaktifkan. Probabilitas deteksi: 15%. Risiko runtuhan sekunder: 25%.*” Angka-angka itu menari di matanya, namun perhatian Lin Fan terpecah. Ia bisa merasakan tarikan kuat di lengannya, Mei Lan yang berusaha mengintip keluar, matanya penuh kengerian yang dalam. Itu bukan hanya kejutan. Itu adalah ketakutan. Ketakutan yang nyata, menusuk.
“Jangan menoleh.” Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun memiliki ketegasan yang mutlak. Dia tidak bisa membiarkan Mei Lan melihat pemandangan di sana terlalu lama. Tidak sekarang. Tugas mereka adalah bertahan hidup. Lin Fan menahan Mei Lan di tempatnya, otot lengannya menegang. Dia bisa merasakan napas wanita itu memburu, panas menerpa lengannya. Aroma melati dan keringat bercampur, menciptakan kombinasi aneh yang memabukkan dan mengganggu sistemnya secara bersamaan. Pikirannya terpecah antara perintah A.R.I.A. untuk menjaga efisiensi dan dorongan aneh untuk melindungi Mei Lan dari pandangan mengerikan di luar sana.
Dia melihat ke jalanan. Sebuah kawah menganga di tengah, asap tebal mengepul ke langit. Bangunan-bangunan di sekitarnya roboh seperti rumah kartu. Api mulai menjalar, melahap material kayu dengan cepat. Suara jeritan, rintihan, dan lolongan kesakutan mulai terdengar, menembus deru api yang membakar. *“Target terkonfirmasi. Estimasi korban: 80% dari formasi patroli utama Jin. Efisiensi operasi: Optimal.”* Kata-kata A.R.I.A. terasa dingin, tanpa emosi, sebuah kontras brutal dengan realitas yang ada di depan matanya. Lin Fan merasakan sebuah cekaman berat di dadanya. Algoritma A.R.I.A. hanya melihat angka. Dia melihat kematian.
***
Api melalap atap-atap toko di sepanjang jalan, melukis langit malam Bianjing dengan sapuan jingga yang mengerikan. Setiap lidah api menari-nari liar, memantulkan bayangan-bayangan grotesk di dinding-dinding yang masih berdiri. Udara menjadi panas dan kering, menyesakkan setiap tarikan napas. Lin Fan merasakan uap panas membakar kulit wajahnya, membuat matanya perih. Dia berkedip cepat, mengusir kabut yang berusaha mengaburkan pandangannya, namun api itu tetap memburuk, semakin ganas.
Suara jeritan prajurit Jin yang sekarat, tertimpa reruntuhan, atau terbakar hidup-hidup, mengiris udara. Mereka adalah simfoni horor yang tak terlukiskan. Raungan kesakitan berpadu dengan suara retakan kayu, desisan api yang melahap, dan gelegar kecil saat struktur bangunan runtuh. Beberapa prajurit Jin yang berhasil lolos dari pusat ledakan berlarian panik, seragam mereka compang-camping, sebagian terbakar, mata mereka membelalak karena syok. Mereka menabrak satu sama lain, mencoba melarikan diri dari neraka yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka, namun tidak tahu ke mana harus pergi.
“*Formasi musuh bubar. Moral pasukan Jin di sektor ini: 0%,”* A.R.I.A. melaporkan, suaranya tetap monoton. Namun, di balik data statistik itu, Lin Fan bisa melihat wajah-wajah prajurit Jin yang masih hidup, berlumuran darah dan kotoran. Ada ketakutan mentah di mata mereka. Bukan lagi musuh. Mereka hanya manusia yang ketakutan. Sebuah sensasi mual menyeruak di perut Lin Fan. Tangannya mengepal, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga terasa nyeri.
Mei Lan, tersembunyi di balik Lin Fan, perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang gelap memandang ke arah kehancuran itu. Cahaya api menari di pupilnya, memantulkan horor yang sama dengan yang dirasakan Lin Fan. Dia tidak bersuara, hanya napasnya yang tertahan, bergetar. Keheningannya lebih memekakkan telinga daripada teriakan yang paling keras sekalipun. Lin Fan bisa merasakan tatapan Mei Lan menembus tubuhnya, mencari tahu apa yang ada di balik ekspresi datarnya. Dia berusaha mempertahankan topeng tanpa emosi, namun di dalam, sesuatu mencabik-cabik dirinya.
“*Prioritas utama: Eksfiltrasi segera. Risiko kontaminasi mental: Tinggi. Abaikan, Lin Fan,”* A.R.I.A. memerintahkan. Namun, Lin Fan tidak bisa mengabaikannya. Dia melihat seorang prajurit Jin muda, wajahnya masih terlalu polos untuk perang, terhuyung-huyung mendekat, salah satu kakinya patah. Darah menetes dari dahi prajurit itu. Mata mereka bertemu. Hanya sedetik. Namun, dalam sedetik itu, Lin Fan melihat keputusasaan, rasa sakit, dan pertanyaan yang tidak terucapkan: *mengapa?* Prajurit itu roboh beberapa langkah dari tempat mereka bersembunyi, tubuhnya kejang-kejang.
Lin Fan menelan ludah. Rasa logam dari darah di udara, bercampur dengan belerang dan asap, terasa menjijikkan. Ini adalah konsekuensi dari 'efisiensi optimal' A.R.I.A. Sebuah strategi yang sempurna, sebuah jebakan yang tak terhindarkan, namun harganya… Mei Lan bergerak sedikit, bahunya menyentuh punggung Lin Fan. Kontak fisik itu, alih-alih memicu peringatan A.R.I.A. yang biasa, kini terasa seperti jangkar. Mengingatkan Lin Fan bahwa dia tidak sendirian dalam menyaksikan kehancuran ini.
***
Lin Fan meraih tangan Mei Lan. Jemarinya mencengkeram erat, bukan lagi karena peringatan A.R.I.A., melainkan insting. Dia perlu memastikan wanita itu tetap di sisinya, bergerak bersamanya. Mei Lan tidak melawan, cengkeramannya membalas dengan kekuatan yang sama. Telapak tangannya terasa hangat dan sedikit lembap di tengah hawa panas yang menyesakkan. Keduanya tidak saling memandang. Mata mereka terpaku pada jalur di depan, pada kekacauan yang harus mereka lalui.
“Ikuti aku.” Suara Lin Fan terdengar serak, hampir tenggelam dalam deru api. Dia mulai bergerak, merunduk rendah, memanfaatkan bayangan dan tumpukan reruntuhan sebagai pelindung. Kakinya menapak hati-hati di atas puing-puing, menghindari pecahan genteng yang bisa menimbulkan suara dan batu yang tidak stabil. *Sreeet.* Suara gesekan sepatu Lin Fan dengan kerikil terdengar nyaring di telinganya. Dia mengutuk dalam hati. Setiap suara kecil terasa mengkhianati kehadiran mereka.
Mei Lan bergerak di belakangnya, bayangan yang gesit. Dia melangkah tanpa suara, meminimalkan setiap kontak dengan material yang hancur. Gadis itu adalah seorang penyamar sejati, terlatih untuk bergerak dalam keheningan. Lin Fan bisa merasakan kehadiran Mei Lan begitu dekat di punggungnya, panas tubuhnya memancar, membuat sensor biometrik A.R.I.A. terus-menerus berkedip 'Kritis'. Namun, saat ini, gangguan itu adalah pengingat akan sesuatu yang hidup, nyata, di tengah kematian di sekitar mereka.
Mereka melewati gang-gang sempit, menghindari prajurit Jin yang masih berkeliaran dalam kebingungan. Ada yang terduduk lemas, terisak. Ada yang memegang kepalanya, matanya kosong. Lin Fan melihat tatapan-tatapan itu, namun dia tidak berhenti. Dia tidak boleh berhenti. Setiap detik adalah vital. Setiap langkah membawa mereka lebih jauh dari pusat bencana ini, lebih dekat ke titik kumpul yang telah ditetapkan A.R.I.A. *“Jalur aman: 75%. Deteksi prajurit Jin: 2 unit di sektor 3B. Hindari.”*
Lin Fan mengubah arah dengan gerakan patah, menarik Mei Lan mengikutinya. Mereka bersembunyi di balik tumpukan karung goni yang hangus. Napas Lin Fan tertahan di tenggorokannya. Dia bisa mendengar napas Mei Lan di sampingnya, pendek dan cepat. Aroma melati Mei Lan kini bercampur dengan asap dan bau mesiu, sebuah parfum aneh yang melekat di indra penciumannya. Dia merasakan denyutan di nadinya, berpacu dengan kecepatan yang tidak normal. Sistemnya *overheating*.
“Kita harus cepat.” Mei Lan berbisik, suaranya nyaris tak terdengar, namun urgensinya jelas. Dia tidak meminta, dia memerintah. Itu adalah perintah dari seorang perwira intelijen, sebuah suara yang kembali ke dirinya sendiri setelah sesaat terguncang. Lin Fan mengangguk, tanpa mengeluarkan suara. Dia melirik Mei Lan sekilas, melihat ketegasan kembali di mata wanita itu, meskipun masih ada bayangan horor yang membekas. Keberaniannya, bahkan dalam situasi seperti ini, tidak dapat dipungkiri.
Mereka melanjutkan pelarian, melompat melewati puing-puing, melintasi genangan air bercampur lumpur dan darah. Kaki Lin Fan sakit, paru-parunya serasa terbakar, namun dia terus mendorong dirinya. Dia adalah unit operasional. Dia harus menyelesaikan misi. Dia harus memastikan Mei Lan selamat. Pikiran itu menjadi pendorong yang aneh, mengalahkan kelelahan fisiknya. *“Sektor aman terdeteksi. Probabilitas keberhasilan eksfiltrasi: 99%.”* A.R.I.A. akhirnya memberikan kabar baik.
***
Mereka berhenti di sebuah punggung bukit kecil di pinggiran kota, tersembunyi di balik semak belukar yang lebat. Udara di sini sedikit lebih sejuk, tidak lagi dipenuhi asap yang mencekik. Dari posisi mereka, Bianjing terlihat seperti lukisan cat air yang terbakar, diselimuti kabut jingga dan merah. Api masih menjulang tinggi, memuntahkan bara api ke langit yang gelap. Rumah-rumah yang tadinya adalah tempat tinggal, kini menjadi siluet hangus di tengah lautan api yang tak terkendali.
Lin Fan membiarkan napasnya keluar dalam desahan panjang, otot-ototnya menegang dan berdenyut kesakitan. Dia menopang tubuhnya pada batang pohon yang sudah lapuk, matanya terpaku pada pemandangan mengerikan di bawah. Neural HUD-nya masih memproyeksikan data: *“Estimasi korban sipil: 5%. Estimasi korban militer Jin: 90%.”* Angka-angka itu kini terasa hampa. Dia tidak melihat persentase. Dia melihat kota yang terbakar, nyawa yang hilang, dan konsekuensi brutal dari keputusannya.
Mei Lan berdiri di sampingnya, bahunya masih naik turun dengan ritme cepat. Dia memandang ke arah Bianjing yang terbakar, matanya yang cokelat gelap menyempit. Tangannya yang masih dingin dari pelarian kini perlahan terangkat, menyentuh pipinya sendiri. Lin Fan melihat garis rahangnya mengeras, bibirnya terkatup rapat. Dia bisa merasakan ketegangan yang memancar dari wanita itu, sebuah beban yang lebih dari sekadar kelelahan fisik.
Keheningan menyelimuti mereka, hanya diselingi suara angin yang berdesir pelan dan deru api yang samar dari kejauhan. Lin Fan menunggu. Dia tahu ada sesuatu yang akan datang. Mata Mei Lan tetap terpaku pada kobaran api, namun Lin Fan merasakan tatapannya beralih padanya. Sebuah tatapan yang penuh pertanyaan, dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa ingin tahu. Itu adalah beban moral yang dia rasakan sendiri, kini terpantul di mata Mei Lan.
Mei Lan menurunkan tangannya. Bibirnya yang biasanya tegas, kini sedikit bergetar. Dia menoleh sepenuhnya ke arah Lin Fan, pupil matanya berkaca-kaca, memantulkan cahaya api yang menari-nari. Jeda yang singkat terasa seperti keabadian. Hati Lin Fan bergemuruh, menanti kalimat yang akan diucapkan Mei Lan. Dia tahu apa yang akan datang. Dia telah merasakannya sejak jebakan itu dipicu, sejak teriakan pertama terdengar.
“Ini adalah harga dari kemenangan.” Suara Mei Lan rendah, serak, hampir pecah. Dia tidak berteriak, tidak marah. Hanya ada kesedihan yang mendalam dalam setiap suku katanya. Matanya yang berkaca-kaca menatap Lin Fan, mencari jawaban, mencari pemahaman. Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih berat dari asap yang mengepul. “Bisakah kau menanggungnya, Lin Fan?”