Chapter 1 of 1

Jatuh Ke Dalam Sutra Merah

1.5k words

Udara di kamar Xiao Chen terasa pekat, berbau <i>vape blueberry</i> dan kaus kaki kotor yang sudah tiga hari tak dicuci. Layar ponselnya berpendar redup, menyinari wajahnya yang memerah karena terlalu lama menatap video di internet. Tangannya bergerak ritmis, napasnya memburu, matanya memicing fokus pada layar yang menampilkan lekuk tubuh aktris Jepang favoritnya. Denyutan kuat mulai terasa di selangkangan, membesar, mengeras, membusungkan celana training abu-abunya. Ia menggeser pinggulnya, mencari posisi yang lebih pas. Sensasi itu hampir sampai, gelombang panas menyapu tubuhnya. Tiba-tiba, layar ponselnya berkedip liar, memancarkan cahaya biru terang yang menyilaukan. Bukan notifikasi, bukan panggilan. Cahaya itu berputar, memilin udara di sekelilingnya, membentuk pusaran spiral yang makin lama makin gelap, seolah membuka lubang hitam di tengah kamarnya. Xiao Chen merasakan tarikan kuat di perutnya, seolah ada tangan tak kasat mata yang menjambak organ dalamnya. Buku-buku jarinya memutih, mencengkeram ponsel yang kini bergetar hebat di tangannya. “A-apa ini?” bisiknya, suaranya tercekat. Udara dingin yang menusuk tulang tiba-tiba menyergap, mengusir kehangatan kamar. Ia merasakan kakinya terangkat dari lantai, tubuhnya melayang, ditarik tak berdaya ke dalam pusaran pekat itu. Warna-warna kamarnya melebur menjadi gumpalan buram, suara bising elektronik berubah menjadi dengungan memekakkan telinga. Detak jantungnya berpacu, berteriak ketakutan saat ia terhisap sepenuhnya, meninggalkan bau <i>vape</i> dan keheningan. --- Kegelapan itu pecah dalam sekejap, digantikan cahaya temaram yang terasa berat di mata. Xiao Chen merasakan benturan keras di punggungnya, bukan lantai kayu kamarnya, melainkan sesuatu yang empuk dan harum. Aroma melati dan cendana menusuk hidungnya, jauh berbeda dari bau <i>vape</i>-nya. Matanya mengerjap, berusaha menyesuaikan diri dengan bias cahaya lilin yang menari di dinding. Kepalanya terasa pening, tubuhnya nyeri di sana-sini. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa terjerembap lebih dalam ke dalam kelembutan di bawahnya. Jari-jarinya menyentuh kain sutra yang halus, licin, dan sehangat kulit. Lalu, ada erangan. Sebuah desahan tertahan yang lembut, seperti lolongan kucing betina. Tubuhnya menegang, baru menyadari bahwa ia tidak mendarat di bantal, melainkan di atas sesuatu yang bernapas, bergerak, dan terasa sangat… manusia. Matanya terbelalak. Di bawahnya, terbaring seorang wanita. Rambut hitam panjangnya tersebar di bantal sutra merah, bibirnya sedikit terbuka, dan matanya yang almond melebar menatapnya dengan keterkejutan yang membeku. Wanita itu mengenakan gaun tidur tipis berwarna merah marun, bahannya melorot di bahu, memperlihatkan lekuk payudara yang berisi. Wajahnya cantik, dengan tulang pipi tinggi dan garis rahang tegas, namun kini pucat pasi. Ia berusia sekitar empat puluhan, namun tubuhnya masih kencang dan menggoda. Xiao Chen bisa merasakan setiap lengkungan tubuh wanita itu menekan ke tubuhnya sendiri, yang kini sepenuhnya telanjang, telanjang bulat. “Siapa kau?” suara wanita itu berdesir, tipis seperti daun jatuh. Ia mencoba mendorong Xiao Chen, tangan rampingnya menekan bahu telanjang Xiao Chen. Namun, gerakannya terasa lemah, hanya menghasilkan gesekan kulit yang justru memperpanjang sentuhan. Gerakan itu membuat tubuh Xiao Chen berguncang, dan ia merasakan sesuatu yang keras di bawah perutnya bergesekan dengan paha bagian dalam wanita itu. Panas yang membakar tiba-tiba menjalar, bukan hanya dari gesekan kulit, tapi dari keberadaan tak terduga yang kini menyembul dari selangkangannya. Xiao Chen menunduk, matanya membelalak kaget. Kontolnya yang baru saja menegang kini berdiri tegak, memerah, membusung, dan secara tak terduga sudah menekan kuat ke tengah paha wanita itu. Wanita itu juga merasakan dorongan keras itu. Matanya menyapu ke bawah, melihat tonjolan di antara paha Xiao Chen, dan sebuah tarikan napas tertahan lepas dari bibirnya. Wajahnya yang semula pucat kini memerah, bukan karena kemarahan, tapi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih primal. Jemarinya di bahu Xiao Chen menegang, bukan lagi untuk mendorong, melainkan seolah mencari tumpuan. “A-aku…” Xiao Chen tergagap, otaknya masih berusaha memproses apa yang terjadi. Ia baru saja di kamarnya, bermain ponsel, dan sekarang ia telanjang di atas seorang wanita asing, di ruangan yang tampak seperti istana kuno. Kontolnya yang memanas dan membesar, secara tak sengaja kembali menggesek bagian paling intim wanita itu. Sebuah <i>ngghh</i> pendek keluar dari bibir wanita itu, hampir tak terdengar. Matanya terpejam sesaat, bulu matanya yang panjang bergetar. --- Gerakan kecil itu, erangan lirih itu, seolah memecah belenggu yang menahan Xiao Chen. Rasa malu dan kebingungan sejenak tersapu oleh gelombang panas yang tiba-tiba menguasai tubuhnya. Kontolnya terasa berdenyut, seolah memiliki kesadaran sendiri, mendorong lebih dalam ke lipatan paha wanita itu. Dia tidak bermaksud, tapi sentuhan itu terlalu intens. Sutra tipis gaun tidur wanita itu tidak lagi terasa seperti penghalang, melainkan undangan, menyorotkan kehangatan dan kelembapan yang tersembunyi. “Jangan…” bisik wanita itu lagi, lebih sebagai desahan daripada perintah. Namun, tangannya yang semula di bahu Xiao Chen kini merosot ke lengan atasnya, mencengkeramnya dengan kekuatan yang tidak ia duga. Bukan untuk mendorong menjauh, melainkan untuk menahan, menstabilkan posisi mereka. Xiao Chen merasakan detak jantungnya sendiri berpacu tak keruan, selaras dengan debaran yang ia rasakan dari tubuh di bawahnya. Aroma melati semakin pekat, bercampur dengan bau musky yang memabukkan, aroma tubuh wanita yang baru terbangun dari tidur. Kontol Xiao Chen terus berdenyut, menuntut. Wanita itu, yang kini ia tahu adalah Permaisuri Mei Lin, membuka matanya lagi. Tatapannya kini bukan lagi terkejut, melainkan dipenuhi gejolak, seolah ada api yang baru saja menyala di kedalaman matanya yang hitam. Bibirnya sedikit terbelah, napasnya memburu. Ia tidak lagi berusaha mendorong, bahkan tubuhnya sedikit melengkung ke atas, tanpa sadar menawarkan diri pada tekanan yang mendesak di antara pahanya. Gesekan itu kian memanas, kian terasa nyata. “Ini… aku…” Xiao Chen berusaha mencari kata, tapi suaranya serak. Ia tidak bisa bergerak mundur. Tidak, lebih dari itu, ia tidak mau mundur. Ada dorongan aneh, naluriah, yang menguasai dirinya. Kontolnya yang tebal dan berurat itu seolah menemukan jalannya sendiri, mendesak ke celah sempit di antara paha Mei Lin. Sebuah <i>jleb!</i> singkat, basah, dan panas. Ujung kontolnya baru saja menembus gaun tipis itu, menyentuh inti kehangatan Mei Lin. Wanita itu tersentak, punggungnya melengkung kuat, lengannya semakin mencengkeram lengan Xiao Chen. “<i>Ah!</i>” Mei Lin menjerit pelan, bukan karena sakit, melainkan karena kejutan luar biasa yang menyapu seluruh tubuhnya. Matanya terbelalak, kali ini karena sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Gerakan tak sengaja itu, penetrasi awal itu, telah membuka pintu gairah yang terkunci rapat. Xiao Chen juga merasakan kejutan yang sama. Kontolnya, yang begitu besar dan padat, langsung disambut oleh kelembapan yang luar biasa, cengkeraman otot yang erat, dan panas yang membakar. Ia menggeram pelan, tanpa sadar mengencangkan pinggulnya. “<i>Nngghh…</i>” desahnya, matanya terpejam. Kontolnya bergerak, bergeser, mencari jalan lebih dalam. Sentuhan ini terasa seperti rumah, seperti tujuan akhir yang tidak pernah ia tahu ia cari. Mei Lin di bawahnya terengah-engah, tubuhnya bergetar hebat. Jari-jarinya menggaruk lengan Xiao Chen, bukan lagi menolak, melainkan meremas, menariknya lebih dekat. Gaun sutra merah marun itu kini melorot sepenuhnya dari bahunya, memperlihatkan puncak payudaranya yang montok, putih, dan bergetar. “Apa yang kau lakukan?!” Mei Lin mencoba bertanya, suaranya parau. Tapi suaranya justru terdengar seperti perintah, seperti permohonan. Xiao Chen tidak menjawab, hanya membiarkan instingnya yang mengambil alih. Ia mengangkat pinggulnya sedikit, lalu menurunkannya lagi, pelan, hati-hati, namun dengan desakan tak terbantahkan. Kontolnya meluncur lebih dalam, melewati hambatan tipis gaun tidur Mei Lin, menembus selaput keperawanan yang sudah tak ada, dan langsung masuk ke dalam gua hangat Mei Lin. Sebuah <i>blebeeessh…</i> basah terdengar, memenuhi ruangan sunyi itu. Kedua tubuh mereka menegang bersamaan. Mei Lin memekik, napasnya tersengal, tenggorokannya bergerak kuat menelan. Ia merasakan seluruh panjang kontol Xiao Chen mengisi dirinya, meregangkan setiap inci lubang intimnya. Ukurannya yang besar, tebal, dan berurat benar-benar membanjiri bagian dalamnya, sesuatu yang belum pernah ia alami sepanjang hidupnya. Ia merasakan dinding-dinding vaginanya mencengkeram kuat, berdenyut, dan gemetar tak terkendali. Sensasi itu begitu baru, begitu dahsyat, sehingga ia tidak bisa berkata-kata, hanya bisa bernapas pendek-pendek. Xiao Chen membeku sesaat, merasakan cengkeraman ketat Mei Lin di sekeliling kontolnya yang membusung. Panas itu luar biasa, kelembapan itu memabukkan. Ia bisa merasakan setiap serat otot Mei Lin mengencang dan melonggar di sekelilingnya, seolah menyambutnya, mengundangnya lebih jauh. Insting primal mengambil alih sepenuhnya. Ia tidak lagi memikirkan bagaimana ia bisa sampai di sini, siapa wanita di bawahnya, atau bahaya apa yang mengintai. Hanya ada hasrat, keinginan membara yang tak terbendung. Ia memejamkan mata, menggeram pelan. Pinggulnya mulai bergerak, pelan pada awalnya, lalu makin dalam, makin cepat. Setiap dorongan mengirimkan gelombang kenikmatan yang gila, sensasi yang menghancurkan semua logika. Mei Lin di bawahnya menjerit, melengkungkan punggungnya, kakinya terangkat, tanpa sadar melilit pinggang Xiao Chen. Tangannya kini meremas rambut hitam Xiao Chen, menariknya lebih dekat, seolah ingin menyatu dengan tubuhnya. Kepalanya mendongak, lehernya memanjang, bibirnya terbelah, napasnya tersengal-sengal. Aroma tubuh mereka bercampur, mengisi ruangan dengan bau gairah yang memabukkan. Xiao Chen mendorong lebih dalam, lebih kuat. <i>Plak! Plak! Plak!</i> Suara benturan kulit yang basah dan dalam memenuhi paviliun. Mei Lin mengerang, tangannya mencengkeram bahu Xiao Chen hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya terpejam erat, air mata muncul di sudut matanya, bukan karena sakit, tapi karena kenikmatan yang terlalu membanjiri. Ia tidak bisa lagi menolak. Tubuhnya telah merespons, otaknya telah menyerah pada gelombang sensasi yang tak tertahankan. Ini adalah gairah yang belum pernah ia impikan, intensitas yang menghancurkan semua batas. Xiao Chen terus mendorong, ritmenya makin cepat, makin brutal. Ia bisa merasakan setiap inci kontolnya menyapu dinding-dinding hangat Mei Lin, mengirimkan kejutan listrik ke seluruh tubuhnya. Erangan keras Mei Lin bergema di langit-langit paviliun saat ia menyadari pemuda asing di atasnya tidak memperlambat dorongannya melainkan memperdalam penetrasinya.

End of Chapter 1