Chapter 1

Chapter 1 of 1

Chapter 1: Debu dan Janji

2.5k words

Palu godam Adi menghantam lempengan baja berkarat, menggetarkan lengannya hingga ke bahu. Debu beton beterbangan, menempel di bulu matanya yang tebal, di pori-pori kulitnya yang gosong terbakar matahari. Sore itu, matahari sudah hampir rebah di balik gedung-gedung pencakar langit yang belum jadi, menyisakan bias oranye di cakrawala Jakarta yang kelabu. Keringat membanjiri punggungnya, lengket dan berbau besi. Setiap otot di tubuhnya menjerit minta istirahat. Sehari penuh mengangkut semen, memecah beton, dan memasang rangka baja telah menguras habis tenaganya. "Di, istirahat dulu!" Kang Udin, pria paruh baya dengan kumis lebat yang selalu mengkhawatirkan semua orang, menyenggolnya. Ia menyodorkan sebotol air mineral yang sudah hangat. "Nanti habis tenagamu." Kang Udin sendiri terlihat tidak jauh lebih baik, seragam kerjanya compang-camping di sana-sini. Adi menghela napas panjang, menunduk mengambil botol itu. Air dingin adalah kemewahan di proyek ini. "Sebentar lagi, Kang. Tanggung ini." Ia meneguk air hingga tandas, merasakan tenggorokannya yang kering perlahan lembap. Rasa asin di bibirnya bercampur dengan rasa lelah yang pekat. Kang Udin menggeleng. "Jangan terlalu memaksakan diri. Lihat itu, Kang Maman sudah mulai keliling." Ia melirik ke arah mandor bertubuh kekar yang sedang berjalan di antara tumpukan besi, tatapannya tajam mengawasi setiap pekerja. Kang Maman jarang tersenyum, dan kerutan di dahinya seolah sudah permanen. Adi tahu betul maksud Kang Udin. Kang Maman memang tegas, tapi ia juga tidak suka melihat kulinya terlalu lelah hingga membahayakan diri sendiri. Adi menaruh palu di tanah, tangannya gemetar. Otot bisepnya terasa seperti ditarik-tarik benang kasar. Ia menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, meninggalkan jejak debu gelap. Beberapa kuli lain sudah mulai mengemasi alat, siap untuk pulang ke bedeng mereka yang sempit. Obrolan riuh rendah mulai terdengar, bercampur dengan suara klakson kendaraan di jalan raya. Adi menghela napas, bayangan wajah adik-adiknya di kampung muncul di benaknya. Uang sekolah mereka, beras di dapur, cicilan tanah sawah. Semua itu menuntutnya untuk bekerja lebih keras, lebih lama dari yang lain. Saat ia hendak bangkit, sebuah suara yang lebih halus namun tegas memanggilnya. "Adi." Ia menoleh. Aris berdiri beberapa langkah darinya, siluet tubuhnya yang tegap terpantul cahaya senja. Seragam kerjanya yang bersih, topi proyek yang rapi, dan wajahnya yang muda namun serius, tampak kontras dengan lingkungan kotor di sekeliling mereka. Aris adalah pengawas lapangan baru, yang lebih sering memakai kemeja lapangan daripada kaus seperti kuli lainnya. Sejak Aris datang sebulan lalu, tatapan Aris seringkali singgah padanya, aneh, berbeda dari pandangan pengawas lain. "Iya, Pak Aris?" Adi berdiri tegak, berusaha menyembunyikan rasa lelahnya. Ia merasa sedikit kikuk setiap kali Aris memandangnya. Ada sesuatu dalam tatapan Aris yang membuatnya salah tingkah, semacam intensitas yang tidak biasa. Aris melangkah mendekat, matanya menatap langsung ke mata Adi. "Kau terlihat sangat lelah, Adi." Suaranya lembut tapi ada nada otoritas yang tak terbantahkan. "Bagaimana dengan tawaran saya kemarin? Pijat refleksi?" Aris tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak sampai ke matanya, namun cukup untuk membuat jantung Adi berdesir aneh. Ada kilatan menggoda di sana, atau mungkin Adi saja yang terlalu lelah dan berhalusinasi. Adi menelan ludah. Ia ingat tawaran itu. Aris pernah menyebutkannya saat mereka sedang istirahat makan siang beberapa hari lalu, menawarkan untuk menanggung biaya pijatnya. Adi menganggapnya hanya basa-basi, sebuah bentuk perhatian atasan kepada bawahan. Tapi Aris mengatakannya lagi sekarang, dengan tatapan yang lebih intens. Pijat refleksi. Bukan pijat urut kuli yang biasa ia dapatkan di pinggir jalan. Bayangan sentuhan tangan yang terlatih di kakinya yang pegal terasa sangat menggoda. Kang Udin yang berdiri di dekatnya melirik Aris, lalu ke Adi, senyum kecil tersungging di bibirnya. Aris memang dikenal lebih ramah dan perhatian pada pekerja, tapi perhatiannya pada Adi terasa sedikit berbeda. "Wah, rezeki anak saleh, Di," celetuk Kang Udin, nadanya sedikit menggoda. Adi hanya bisa tersenyum masam, otaknya berputar cepat. Sebenarnya ia merasa sedikit tidak nyaman, tapi juga tertarik. "Saya... saya tidak enak, Pak," Adi akhirnya berhasil berucap. "Bapak repot-repot." Ia menatap sepatu bootnya yang penuh lumpur. Aris tertawa kecil, suara baritonnya renyah. "Tidak ada yang merepotkan, Adi. Kau sudah bekerja keras. Anggap saja ini apresiasi dari saya. Lagipula, saya juga ingin ke sana. Mau ikut?" Aris menekankan kata 'ikut', seolah ini adalah ajakan teman, bukan tawaran dari atasan. Adi mendongak, melihat Aris tersenyum lebih lebar kali ini. Senyum itu menjangkau matanya, membuat kerutan halus muncul di sudutnya. Aris terlihat menawan, bersih, dan entah mengapa, terasa berbahaya bagi Adi yang kotor dan lugu. Adi merasa seluruh darahnya mengalir ke pipi. Ia merasa malu sekaligus senang. Senang karena perhatian itu, malu karena ia tak tahu harus merespons bagaimana. Tubuhnya yang lelah mendambakan sentuhan, tetapi pikirannya berteriak ini tidak benar. Ini aneh. Ia seorang kuli, dan Aris adalah pengawas. Perbedaan itu terlalu jauh. Namun, bayangan uang untuk kampung, beban di pundaknya, terasa semakin berat. Sebuah pijat mungkin bisa sedikit meringankan bebannya, setidaknya secara fisik. "Saya... baik, Pak," Adi mengangguk ragu. "Terima kasih." Ia tidak bisa menolak lagi. Aris mengangguk puas. "Bagus. Kita bertemu di depan gerbang lima belas menit lagi." Aris berbalik, langkahnya ringan, meninggalkan Adi yang masih mematung di tengah debu dan kebingungan. Kang Udin menepuk bahu Adi. "Hati-hati kau, Di. Pengawas itu tampan sekali." Ada nada peringatan tersembunyi dalam gurauan Kang Udin, namun Adi terlalu bingung untuk mencernanya. --- Lima belas menit terasa seperti seabad. Adi mencuci tangannya di keran umum yang berkarat, membasuh wajahnya yang terasa panas, mencoba menghilangkan sebagian kotoran dan, lebih penting lagi, kegugupan yang melandanya. Bedengnya terlalu jauh untuk kembali dan berganti pakaian, jadi ia hanya bisa menyeka noda semen dari celana kerjanya dan memastikan kausnya tidak terlalu bolong. Aroma keringatnya masih melekat, bahkan setelah ia membasuh diri. Ia merasa tidak layak berdiri di samping Aris yang selalu tampak rapi. Di gerbang proyek, Aris sudah menunggu. Ia bersandar pada sebuah mobil sedan hitam, terlihat sangat kontras dengan kerumunan kuli yang berjalan kaki atau naik angkutan umum. Sebuah Toyota Vios baru, mengkilap, jauh dari jangkauan impian Adi. Aris melepaskan topi proyeknya, memperlihatkan rambut hitamnya yang rapi. Ia memakai kaus polo berwarna gelap yang memamerkan lengannya yang berotot, namun tetap terlihat sopan. Adi merasa kerdil di sampingnya, seperti serangga kecil yang mendekati lampu. "Sudah siap?" Aris tersenyum, kali ini lebih hangat. Adi mengangguk kaku. Aris membuka pintu penumpang depan. "Masuklah." Adi ragu sejenak. Ia belum pernah naik mobil semewah ini. Bahkan mobil boks pengangkut semen pun terasa lebih familier baginya. Ia merasa canggung, takut mengotori jok kulit mobil Aris dengan seragamnya yang kotor. "Tidak apa-apa, masuk saja," kata Aris, seolah membaca pikirannya. Adi akhirnya masuk, duduk di jok yang empuk itu. Aroma AC mobil langsung menyerbu indranya, dingin dan wangi, jauh berbeda dari bau debu dan keringat yang ia hirup setiap hari. Aris masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin. Suara musik jazz pelan mengalun dari speaker. Adi hanya bisa menatap keluar jendela, merasa seperti orang asing di dunia ini. Perjalanan terasa singkat. Aris mengemudikan mobilnya dengan tenang, sesekali melirik Adi. "Kau sudah makan?" tanyanya. Adi menggeleng. Ia terlalu tegang untuk memikirkan makanan. Perutnya justru terasa mual oleh kegugupan. "Kita bisa makan dulu, kalau mau," Aris menawarkan. Adi menggeleng lagi. "Tidak, Pak. Pijat saja." Ia ingin segera mengakhiri ketegangan ini, atau mungkin, ia hanya ingin segera merasakan sentuhan yang bisa menghilangkan pegalnya, terlepas dari siapa yang menawarkannya. Aris mengangguk, lalu fokus kembali ke jalan. Adi mencuri pandang ke arah Aris. Lengan Aris yang terbalut kaus polo terlihat kuat saat memegang setir. Jari-jarinya panjang dan bersih, kuku-kukunya terawat. Sangat berbeda dengan tangan kotor dan kapalan milik Adi. Aris memiliki aura yang berwibawa, namun juga ada sesuatu yang menarik, bahkan mungkin menggoda, dalam caranya bicara dan memandang. Adi menyingkirkan pikiran-pikiran itu, merasa malu pada dirinya sendiri. Apa yang ia pikirkan? Mobil berhenti di depan sebuah ruko yang cukup modern, dengan plang bertuliskan "Harmony Reflexology". Lampu-lampu di dalam ruko memancarkan cahaya temaram, memanggil. Bukan tempat pijat remang-remang yang Adi bayangkan. Ini terlihat lebih berkelas. Adi makin merasa salah tempat. Aris memarkir mobil, lalu mematikan mesin. "Ayo." Aris keluar lebih dulu, Adi mengikutinya, langkahnya masih ragu. Di dalam, aroma terapi menyeruak, menenangkan sekaligus asing. Musik instrumen lembut mengalun. Seorang resepsionis tersenyum ramah. "Selamat datang, Pak Aris." Aris membalas senyum. Ia memesan dua sesi pijat refleksi. Adi hanya berdiri di belakangnya, merasa seperti bayangan. Resepsionis itu melirik Adi sebentar, senyumnya sedikit memudar, seolah membandingkan. --- Mereka dipersilakan masuk ke sebuah ruangan dengan dua kursi pijat besar yang nyaman. Cahaya di dalam ruangan lebih redup lagi, menenangkan. Adi duduk di salah satu kursi, ragu-ragu. Ia melepas sepatu botnya, lalu kaos kakinya yang lusuh, merasa sedikit lega saat kakinya bisa bernapas. Seorang terapis wanita masuk, tersenyum ramah. "Selamat sore, Bapak-bapak." Ia langsung menuju kursi Aris, mulai menyiapkan baskom air hangat untuk merendam kaki. "Saya kira Bapak yang akan memijat saya," Adi berucap pelan kepada Aris, tanpa sadar. Wajahnya langsung memerah setelah menyadari kebodohannya. Aris terkekeh. "Memangnya saya tukang pijat?" Ia menunjuk terapis wanita itu. "Ini, namanya Mbak Dewi. Beliau yang akan memijatmu, Adi. Saya di sebelah sini." Aris tersenyum simpul, dan lagi-lagi, ada kilatan di matanya yang membuat Adi merasa gelisah. Apakah Aris sengaja memancingnya? Adi tidak tahu. Mbak Dewi mendekat, membawa baskom kecil berisi air hangat dan beberapa tetes minyak esensial. "Silakan, Bapak. Rendam kakinya dulu." Adi memasukkan kakinya ke dalam air. Kehangatan itu langsung meresap, mengusir sedikit rasa pegal. Mbak Dewi memulai pijatannya di telapak kaki Adi. Jemarinya yang ramping menekan titik-titik tertentu, dan Adi tanpa sadar mendesah lega. Ini memang yang ia butuhkan. Otot-ototnya yang kaku perlahan mengendur. Aris sesekali melirik Adi, bertanya apakah ia merasa nyaman. Adi hanya mengangguk, terlalu menikmati pijatan itu untuk banyak bicara. Matanya terpejam, menikmati setiap sentuhan. Aroma terapi, musik lembut, dan kehangatan air membuat rasa kantuk mulai menyerang. Ia merasakan pijatan di betisnya, lalu di pahanya. Sentuhan itu terasa profesional, namun juga sangat memanjakan. Setelah beberapa saat, Mbak Dewi berkata, "Bapak bisa berbaring, kalau mau." Adi mengangguk, lalu merebahkan tubuhnya di kursi. Ia merasa setengah melayang. Pijatan berlanjut ke punggung, lalu ke leher dan bahu. Semua ketegangan dalam tubuhnya seolah diangkat satu per satu. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa senyaman ini. Mungkin tidak pernah. Ia mendengar Aris berbicara dengan terapisnya di sebelah, suaranya pelan dan tenang. Adi tidak terlalu memperhatikan. Ia terlalu sibuk dengan sensasi tubuhnya sendiri. Lalu, ia merasa Mbak Dewi menghentikan pijatannya di punggung. Ada jeda singkat. Adi membuka matanya sedikit, setengah sadar. "Ada apa, Mbak?" Adi bertanya, suaranya serak. Mbak Dewi tidak menjawab. Ia melihat Aris berdiri di samping kursinya, terapisnya sudah tidak ada di sana. Aris menatapnya, senyumnya menghilang, digantikan ekspresi yang lebih serius, lebih dalam. Jantung Adi berdegup kencang. Ia mencoba bangun, tapi Aris meletakkan tangannya di bahunya, menahannya untuk tetap berbaring. "Biarkan saja, Adi," Aris berkata, suaranya rendah, nyaris berbisik. "Terapis saya sudah selesai. Sekarang giliran saya." Adi merasa nafasnya tercekat. Aris mengangkat tangan Adi, lalu mengusap punggung tangannya dengan ibu jarinya. Sentuhan itu ringan, namun mengirimkan gelombang panas ke seluruh lengan Adi. Aris membungkuk sedikit, wajahnya mendekat ke wajah Adi. "Atau, bagaimana kalau saya yang memijatmu?" bisiknya, tatapannya lekat, dan Adi melihat sesuatu di mata Aris, sesuatu yang gelap dan menggoda, jauh lebih dari sekadar pijatan. --- Napas Aris menerpa pipi Adi, hangat dan beraroma mint. Dekat sekali. Adi bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu tak karuan, mengisi gendang telinganya. Ada kebingungan dan ketakutan yang bercampur aduk, namun di bawah semua itu, ada percikan rasa penasaran yang tak bisa ia sangkal. Ia mencoba menarik napas dalam, tapi udara di sekitarnya terasa tipis. "Pak... Aris..." Suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba menyingkirkan tangan Aris dari bahunya, namun Aris tidak bergerak. Kekuatan di balik tangan itu tidak menyakitkan, justru terasa menenangkan, menahan, seolah memberinya perintah tanpa suara. Aris sedikit menarik bibirnya, menyunggingkan senyum misterius. Ibu jarinya masih mengusap punggung tangan Adi. Sensasi itu, anehnya, tidak membuat Adi jijik. Justru sebaliknya, ada aliran listrik halus yang menjalari kulitnya, membuatnya merinding. Tatapan Aris turun dari matanya, menyapu hidungnya, lalu berhenti di bibirnya. Aris mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi, kepalanya sedikit miring. "Adi," Aris berbisik, namanya terdengar berbeda di bibir Aris. Lebih intim. "Kamu tahu, aku memperhatikanmu sejak hari pertama. Caramu bekerja, caramu menahan lelah. Kamu berbeda." Aris membelai rambut Adi yang sedikit basah oleh keringat, menyelipkannya di belakang telinga. Sentuhan itu lembut, terlalu lembut untuk seorang mandor atau pengawas. Terlalu lembut untuk seorang pria pada pria lain, pikir Adi, kepalanya mulai pening. Seluruh tubuh Adi menegang. Pikirannya berteriak untuk mundur, untuk menepis Aris, untuk lari dari situasi ini. Tapi tubuhnya tidak bergerak. Matanya terpaku pada mata Aris, yang kini memancarkan sesuatu yang Adi kenali, namun tak pernah ia terima dari seorang pria. Keinginan. Murni, tanpa filter, keinginan yang membakar. Ini bukan lagi soal pijatan atau apresiasi kerja keras. Aris menjauhkan ibu jarinya dari punggung tangan Adi, lalu menyelipkan tangannya di bawah kaus Adi, tepat di pinggangnya. Jemarinya yang hangat menyentuh kulit telanjang Adi. Sentuhan itu, meskipun hanya di pinggang, terasa seperti api yang merayap ke seluruh tubuhnya. Adi menahan napas. Rasa panas menjalar, bukan hanya karena sentuhan, tapi karena semua yang tersirat di baliknya. Ini adalah sesuatu yang ia pendam, sesuatu yang ia kubur dalam-dalam di balik debu proyek dan tanggung jawab keluarga. Sebuah hasrat yang tak terucapkan. Aris menekan ibu jarinya di pinggang Adi, sedikit mengusap. "Aku tahu apa yang kamu butuhkan, Adi. Lebih dari sekadar pijatan." Suaranya adalah melodi rendah yang menggelitik telinga Adi, mematikan semua alarm di otaknya. Adi menutup mata, kepalanya berputar. Ia merasakan Aris mendekatkan wajahnya lebih lagi, dan napasnya kini menyapu bibir Adi. Jantungnya berdebar seperti genderang perang, siap meledak di dadanya. Ada suara di kepalanya yang berteriak 'jangan', tapi ada suara lain, lebih primal, yang berbisik 'ya'. Ia tahu, ini adalah sebuah pintu yang tidak bisa ia tutup lagi jika sudah terbuka. Aris menundukkan kepalanya, sangat pelan, memberikan Adi waktu untuk menolak. Namun Adi tidak menolak. Ia tidak bisa. Hasrat yang terpendam begitu lama kini muncul ke permukaan, dilecut oleh sentuhan dan tatapan Aris. Ia merasakan bibir Aris menyentuh bibirnya, lembut, seperti sentuhan pertama kali. Itu bukan ciuman yang agresif, melainkan sebuah pertanyaan, sebuah undangan. Adi membalasnya, sedikit ragu pada awalnya, lalu lebih dalam, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang asing dan mendebarkan itu. Ia membuka mulutnya sedikit, menyambut. Aris tersenyum dalam ciuman, lalu memperdalamnya, tangannya yang semula di pinggang kini merayap naik ke punggung Adi, menariknya mendekat. Adi tahu ini salah. Ini tidak seharusnya terjadi. Ia adalah seorang kuli, seorang kepala keluarga yang harus bertanggung jawab. Tetapi di dalam pelukan Aris, di bawah sentuhan bibir dan jemari Aris, semua beban itu terasa ringan. Semua kepenatan sirna. Yang ada hanya sensasi, hanya gairah yang lama terpendam, menemukan jalannya keluar. Ia membalas ciuman Aris, tanpa berpikir panjang, membiarkan dirinya hanyut. Pikirannya kosong, hanya terisi oleh Aris. Namun, di tengah semua itu, sebuah bisikan muncul, sebuah pemikiran yang menamparnya. Bagaimana dengan uang? Bagaimana dengan adik-adiknya? Ia membuka matanya, dan melihat Aris menatapnya, matanya gelap dengan nafsu. Adi merasa terperangkap, di antara gairah yang membakar dan kenyataan yang menyakitkan, dan ia tahu, di titik ini, tidak ada jalan kembali.

End of Chapter 1