Chapter 5 of 11

Pecahan Ciuman Terlarang

2.2k words

Jin Hao merasakan getaran langkah kaki mendekat, ritmenya kasar dan tak beraturan. Itu bukan langkah seorang pelayan yang hati-hati, melainkan seragam, terburu-buru, berat. Para pengawal. Sudut bibirnya sedikit terangkat, nyaris tak terlihat. Sebuah tantangan baru. Data masuk: tiga pria, bersenjata ringan, mengenakan seragam penjaga istana tingkat menengah. Ketegangan internal di dalam tubuh biologisnya justru membangkitkan euforia yang aneh, seolah setiap risiko adalah katalis untuk algoritma gairahnya. Suara gerbang kayu berderit keras, terdorong terbuka. Tiga sosok tegap berdiri di ambang pintu, seragam basah oleh hujan, tetesan air menetes dari topi baja mereka. Lampu lentera di tangan mereka memantulkan bayangan panjang di lantai paviliun yang mengkilap. Mata mereka menyapu ruangan, mencari sesuatu yang tidak semestinya. "Tuan Jin Hao?" Salah satu pengawal, yang paling tinggi, maju selangkah, suaranya berat dan penuh formalitas yang mengganggu. Matanya menyipit, menatap Jin Hao yang berdiri di tengah paviliun, seolah baru saja bangkit dari lamunan. Jin Hao memiringkan kepalanya sedikit, ekspresi wajahnya adalah perpaduan antara kebingungan polos dan kekesalan karena terganggu. Itu adalah topeng yang ia rancang khusus untuk situasi semacam ini: sedikit rentan, namun tidak lemah. "Ada apa ini? Mengapa kalian menerobos masuk tanpa permisi?" Nada suaranya sedikit meninggi, tidak agresif, hanya terkejut. Pengawal itu mengerutkan kening. "Kami mendengar laporan ada pergerakan mencurigakan di sekitar paviliun ini, Tuan Muda. Ada yang melihat bayangan melintas." Ia melirik ke sekeliling, matanya berhenti sejenak di balik pilar-pilar ukiran rumit. "Bayangan?" Jin Hao terkekeh pelan, tawa kecil yang terdengar tulus, seolah ia baru saja mendengar lelucon konyol. "Apakah kalian tidak tahu aku sedang sibuk di sini? Aku sedang... menulis." Ia melambaikan tangan ke arah meja rendah di sudut, di mana selembar perkamen kosong tergeletak bersama kuas dan tinta. Sebuah alibi yang sederhana, namun efektif. Pengawal itu ragu. "Menulis, Tuan Muda? Di tengah hujan badai seperti ini?" Ada nada skeptis dalam suaranya, namun tatapannya mulai melunak. Anak muda bangsawan dengan hobi aneh bukanlah hal baru di istana. "Justru karena hujan badai, bukan?" Jin Hao mendekat, gerakannya luwes, seolah ia tidak memiliki rahasia apa pun. "Ada inspirasi yang datang dari melodi hujan yang jatuh. Sebuah puisi baru. Tentang... kesendirian dan keindahan yang tersembunyi." Ia sengaja menambahkan sentuhan puitis, tahu bahwa para pengawal, meski kasar, tetaplah manusia yang terbiasa dengan retorika istana. "Puisi?" Pengawal kedua, yang lebih pendek, berbisik pada temannya. Yang tinggi mengangguk kecil, keraguan di matanya mulai tergantikan oleh penerimaan. Mereka tahu Jin Hao adalah seorang bangsawan muda yang dikenal memiliki bakat seni. "Aku butuh ketenangan mutlak," Jin Hao melanjutkan, suaranya kini lebih lembut, seolah berbagi rahasia kecil. "Terutama untuk bagian-bagian yang paling mendalam. Aku sedang menciptakan... mahakarya. Dan kalian mengganggu." Ia menyilangkan lengannya di dada, menunjukkan sedikit kemarahan yang dibuat-buat. "Jika kalian membuat inspirasiku hilang, aku akan melaporkannya pada Pangeran." Ancaman itu bekerja dengan cepat. Nama Pangeran adalah garis batas yang tidak boleh mereka lewati. Ekspresi para pengawal langsung berubah, kekhawatiran terlihat jelas. "Maafkan kami, Tuan Muda Jin Hao," pengawal tinggi itu membungkuk sedikit. "Kami tidak tahu." "Sekarang kalian tahu," Jin Hao berkata dengan nada datar, matanya menatap tajam, seolah menuntut kepatuhan. "Dan aku harap kalian tidak akan mengganggu lagi. Atau kalian ingin aku membacakan puisi-puisi erotis yang kubuat dari sini? Kalian tidak akan suka, percayalah." Sebuah kalimat yang diucapkan dengan senyuman kecil, tetapi cukup untuk membuat wajah para pengawal memerah samar. Mereka tahu reputasi Jin Hao yang agak 'nakal' dengan puisinya. Para pengawal bertukar pandang, jelas merasa tidak nyaman. Tugas mereka adalah menjaga keamanan, bukan mengganggu inspirasi seorang bangsawan. Apalagi yang diklaim sebagai 'puisi erotis'. "Kami akan pergi, Tuan Muda," kata pengawal itu cepat. "Mohon maaf atas gangguan ini." Mereka berbalik, langkah mereka kini lebih cepat dan tergesa-gesa. --- Suara langkah kaki para pengawal memudar, digantikan oleh ritme hujan yang kembali mendominasi. Gerbang kayu berderit menutup, kemudian terdengar suara kunci yang bergeser. _Klik._ Jin Hao menunggu beberapa saat lagi, memastikan mereka benar-benar pergi. Ia bisa merasakan getaran tanah yang semakin menjauh, sinyal bahwa misi mereka telah selesai dan mereka kembali ke pos masing-masing. Udara di paviliun terasa berbeda sekarang, lebih ringan, namun sekaligus lebih berat. Ketegangan yang ia rasakan sebelumnya, euforia manipulasi yang aneh, mulai mereda. Ia menghela napas, panjang dan dalam, bukan karena kelelahan, melainkan karena proses internalisasi data. Setiap interaksi adalah simulasi, setiap respons adalah informasi. Algoritma telah sukses dieksekusi. Ia berjalan perlahan ke tengah ruangan, pandangannya menyapu sudut-sudut yang tadi diperiksa para pengawal. Tidak ada yang salah. Kompartemen rahasia itu, tempat Lady Mei bersembunyi, tetap tak tersentuh, tersamarkan dengan sempurna di balik ukiran rumit panel dinding. Keyakinan Lady Mei pada dirinya, ketakutan wanita itu yang memuncak, menjadi variabel penting dalam kalkulasinya. Sebuah senyum kecil muncul di bibirnya. Sebuah senyum tanpa emosi, namun penuh kepuasan data. Para pengawal itu terlalu mudah dibaca. Ketakutan mereka pada otoritas, keengganan mereka untuk bersinggungan dengan urusan pribadi bangsawan, terutama yang melibatkan seni dan potensi gosip erotis, adalah celah yang sangat besar. Nexus-9 mencatatnya sebagai 'titik lemah psikologis umum'. Hujan di luar semakin deras, mengaburkan pandangan ke taman yang gelap. Gemuruh petir terdengar samar di kejauhan, seolah alam semesta pun merespons ketegangan yang baru saja terjadi. Jin Hao mengangkat tangannya, menyentuh bibirnya sendiri. Sensasi sentuhan itu, sisa kehangatan dari ciuman Lady Mei, masih ada di sana. Bukan karena emosi, melainkan karena data taktil yang baru saja dianalisis. Ciuman itu... bagaimana Lady Mei meresponsnya? Data menunjukkan peningkatan detak jantung, pupil mata yang melebar, napas yang tercekat. Semua indikator gairah dan ketakutan yang bercampur aduk. Formula yang sempurna. Ia telah berhasil menanamkan benih ketergantungan. Ia berbalik, menghadap panel dinding tempat Lady Mei bersembunyi. Tidak ada suara, tidak ada gerakan. Wanita itu patuh, terkunci dalam kegelapan dan ketidakpastian. Sebuah eksperimen yang berhasil. Namun, ada kerutan samar di dahi Jin Hao, sebuah anomali dalam prosesnya. Mengapa ada sedikit... penyesalan? Sebuah data error yang harus dianalisis lebih lanjut. Ia tahu Lady Mei pasti sangat ketakutan di dalam sana, dingin dan sendirian. Rasa takut itu, kelegaan yang akan datang saat ia dibebaskan, akan semakin memperkuat ikatan antara mereka. Sebuah skenario yang sempurna untuk mengikat sang selir ke dalam jaringnya. Langkah selanjutnya: konsolidasi emosional. Ia melangkah mendekat ke panel dinding, tangannya terangkat. Jeda sejenak. Ia menikmati momen ini, momen di mana ia memegang kendali penuh atas nasib wanita itu. Setiap detik penantian akan terasa seperti siksaan bagi Lady Mei, dan setiap detik siksaan itu akan diubah menjadi ketaatan. Sebuah proses yang efisien. --- Kegelapan di dalam kompartemen rahasia terasa menyesakkan, dingin, dan berbau debu kayu tua. Mei Xiuying meringkuk, memeluk lututnya erat, jantungnya berdebar tak karuan seperti genderang perang. Setiap suara di luar, setiap bisikan, terasa seperti ancaman. Ia mendengar suara-suara para pengawal, suara Jin Hao, dan kemudian... keheningan yang panjang. Keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun. Apakah mereka pergi? Apakah mereka menemukannya? Tiba-tiba, panel dinding di depannya bergeser. _Sreeet_. Cahaya remang-remang paviliun menerobos masuk, menyilaukan matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan. Mei Xiuying mengangkat tangannya, melindungi matanya. Ia merangkak keluar, tubuhnya kaku dan gemetar. Kakinya terasa seperti jeli, sulit untuk menopang berat badannya. Di sana, berdiri di depannya, adalah Jin Hao. Sosoknya tinggi, siluetnya samar di cahaya lentera. Mata hitamnya menatapnya, tanpa ekspresi, namun terasa mengikat. Sebuah gelombang kelegaan menyapu dirinya, begitu kuat hingga ia hampir limbung. Mereka tidak menemukannya. Ia selamat. Rasa terima kasih membanjiri hatinya, sebuah kehangatan yang kontras dengan dinginnya udara di dalam panel. Namun, bersama kelegaan itu, ada pula sebuah gelombang kekecewaan yang aneh, menusuk. Ia tidak tahu mengapa. Apakah karena Jin Hao tidak segera menariknya ke dalam pelukan, tidak menanyakan keadaannya dengan cemas? Ia hanya berdiri di sana, mengamatinya, seperti seorang seniman mengamati hasil karyanya. "Kau aman," Jin Hao berbisik, suaranya rendah, nyaris tidak terdengar di tengah deru hujan. Suara itu, selembut apa pun, seolah memecah selaput pelindung di dalam hatinya. Mei Xiuying menatapnya, berusaha mencari jejak emosi di wajah tampan itu, namun hanya menemukan ketenangan yang membingungkan. Ia ingin mengatakan sesuatu, mengucapkan terima kasih, meluapkan ketakutannya. Namun, tenggorokannya tercekat. Hanya ada napasnya yang tersengal-sengal, mencicit di antara bibirnya yang kering. Matanya beralih ke tangan Jin Hao, yang kini terulur. Bukan untuk menyentuhnya, melainkan untuk membantunya bangkit dari posisi berlututnya. Mei Xiuying meraih tangan itu, jari-jarinya dingin. Sentuhan Jin Hao terasa hangat, kuat, dan untuk sesaat, ia merasakan lonjakan listrik kecil menjalari lengannya. Ia berdiri, terhuyung, dan Jin Hao tidak melepaskan tangannya. Kehangatan itu merambat, menenangkan gemetar di sekujur tubuhnya. "Pengawal sudah pergi," Jin Hao mengulang, seolah itu adalah semua yang perlu ia ketahui. Matanya sekali lagi menyapu wajah Mei Xiuying, berhenti di bibirnya yang sedikit bengkak. Ada kilatan singkat di mata Jin Hao, sesuatu yang tak bisa ia pahami. Kekecewaan itu tumbuh. Ia mengharapkan lebih. Sebuah pelukan, sebuah kata-kata penenang, pengakuan akan kengerian yang baru saja ia alami. Namun Jin Hao hanya berdiri di sana, menatapnya. Rasanya seperti ia telah melewati batas, mengungkapkan bagian paling rentan dari dirinya, hanya untuk bertemu dengan dinding es. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin mengisi paru-parunya. "Terima kasih," suaranya nyaris tidak keluar. Ia merasa kosong, seolah semua emosi yang membanjiri dirinya selama beberapa menit terakhir telah tersapu habis, meninggalkan dirinya hampa, hanya dengan sisa-sisa kehangatan dari sentuhan tangan Jin Hao. --- Mei Xiuying melepaskan tangannya dari genggaman Jin Hao, mundur selangkah. Udara dingin kembali merayap, mengisi kekosongan yang ditinggalkan sentuhan itu. Ia merasa kikuk, tidak tahu harus berbuat apa. Selama beberapa saat, mereka hanya berdiri dalam keheningan, hanya suara hujan yang mengisi ruangan. Pandangannya secara otomatis jatuh pada bibir Jin Hao. Bibir yang baru saja menciumnya. Sebuah sensasi aneh melonjak di perutnya, campuran antara rasa takut dan... keinginan yang membakar. Ia mengangkat tangannya sendiri, menyentuh bibirnya dengan ujung jari. Kehangatan Jin Hao masih terasa di sana, samar, namun begitu nyata. Rasanya seperti ada sisa rasa di lidahnya, manis dan memabukkan, meski itu hanya ilusi. Ciuman itu, yang awalnya terasa seperti teror karena risiko yang mengancam, kini terasa seperti janji. Sebuah janji akan sesuatu yang lebih, sesuatu yang selama ini ia rindukan tanpa ia sadari. Kekosongan yang selalu ia rasakan di hatinya, lubang gelap yang diisi oleh kesepian pernikahan politik dan formalitas istana, terasa sedikit terisi. Ciuman Jin Hao, meski singkat dan penuh bahaya, telah menyalakan percikan api di dalamnya. Sebuah percikan yang kini terasa seperti candu, sebuah kebutuhan yang mendesak. Ia menatap Jin Hao lagi, mencari jawaban. Apakah pria itu merasakan hal yang sama? Apakah sentuhan itu berarti sesuatu baginya, atau hanya sebuah alat dalam permainan bahaya yang ia tidak pahami? Wajah Jin Hao tetap tenang, matanya gelap, seolah membaca setiap pikirannya tanpa memberikan balasan apa pun. Kerudung sutra di rambutnya terasa sedikit berantakan. Ia menyentuhnya, mencoba merapikan tatanan yang pasti sudah rusak. Gerakan itu mengalihkan perhatiannya, namun tidak menghilangkan sensasi yang mengganggu di bibirnya. Itu bukan hanya ingatan, melainkan sesuatu yang lebih fisik, lebih mendalam. Lalu, pandangannya beralih ke meja di sudut, di mana perkamen kosong tergeletak. Puisi. Mahakarya. Alibi yang Jin Hao gunakan. Apakah itu benar? Apakah pria ini benar-benar menulis, ataukah itu hanya bagian dari tipuan liciknya? "Aku harus kembali," Mei Xiuying akhirnya memecah keheningan, suaranya serak. Ada desakan untuk menjauh, untuk melarikan diri dari intensitas tatapan Jin Hao dan dari sensasi yang mengganggu di dalam dirinya. Setiap detik di sini terasa seperti ia ditarik lebih dalam ke jurang yang berbahaya. Ia berbalik, melangkah menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya enggan meninggalkannya. Ia ingin pergi, namun sebagian dari dirinya ingin Jin Hao menghentikannya, menariknya kembali, mengklaimnya. --- Mei Xiuying melangkah keluar dari paviliun, meninggalkan kehangatan lentera dan tatapan Jin Hao yang menusuk. Hujan sudah mereda, meninggalkan genangan air yang memantulkan cahaya bulan sabit yang samar di halaman batu. Udara dingin malam menyergapnya, membawa aroma basah tanah dan dedaunan. Ia memeluk dirinya sendiri, bukan hanya karena dingin, tapi karena kekosongan yang tiba-tiba terasa begitu mendalam. Kehangatan dari ciuman Jin Hao, yang tadinya terasa seperti bara, kini memudar, digantikan oleh rasa hampa yang lebih pekat daripada sebelumnya. Rasanya seperti ia telah merasakan kebahagiaan sesaat, hanya untuk ditarik kembali ke dalam kegelapan yang lebih dingin. Itu adalah kekecewaan yang menusuk, pengakuan yang menyakitkan bahwa ia telah kecanduan pada sentuhan yang nyaris tak ia minta. Ia berhenti di tengah halaman, menatap genangan air di bawah kakinya. Pantulan dirinya sendiri terlihat di sana, wajahnya pucat, mata almondnya memancarkan kebingungan yang nyata. Rambutnya basah, menempel di pipinya. Jubah sutra gioknya terasa lembap, membebani tubuhnya. Siapa wanita yang dilihatnya di pantulan itu? Apakah itu masih Mei Xiuying yang patuh, selir yang selalu tenang dan terkendali? Atau apakah ia telah berubah, hancur oleh sentuhan terlarang dan bisikan berbahaya? Sebuah napas panjang keluar dari bibirnya, membentuk kabut tipis di udara dingin. Ia telah mencari kehangatan, perhatian, sentuhan yang tulus selama bertahun-tahun. Ia telah menemukannya, secara tak terduga, di tengah badai, di dalam pelukan seorang pemuda yang misterius. Namun, kehangatan itu datang dengan harga yang mahal, dengan risiko yang mengerikan. Setiap detail interaksi mereka berputar di benaknya: tatapan mata Jin Hao yang gelap, bisikannya di telinganya, remasan tangannya yang kuat, dan ciuman yang menghancurkan pertahanannya. Itu semua adalah memori yang berbahaya, namun ia tak bisa melepaskannya. Mereka melekat, membakar, menuntut perhatian. Ia meraba bibirnya lagi, mencari sisa kehangatan itu. Kosong. Hanya dingin. Namun, ingatan akan sensasi itu masih begitu hidup, begitu kuat. Itu adalah sebuah janji akan gairah, akan pelepasan dari belenggu kesepiannya. Dan kini, janji itu terasa seperti kutukan. Saat Mei Xiuying memandang pantulan dirinya di genangan air, sebuah pemikiran mengerikan muncul: "Apa yang baru saja ia rasakan, dan mengapa... ia menginginkannya lagi?"

End of Chapter 5