Chapter 21 of 21
Gema Masa Lalu
2.3k words
Changzhi menarik kerah jubah resminya lebih rapat, seolah kain brokat ungu tua itu bisa melindunginya dari dinginnya malam atau, lebih tepatnya, dari bayangan masa lalu. Langkah kakinya yang dulu terburu-buru dan gemetar, kini terasa lebih mantap, namun tetap pelan. Ia menyelinap masuk melalui gerbang belakang Akademi Angsa Liar, sebuah kebiasaan lama yang kini terasa janggal. Dulu ia adalah shutong, bayangan tak terlihat yang bergerak di antara rak buku berdebu. Sekarang, ia adalah Pejabat Peninjau Keuangan, seorang pria yang baru saja menyingkirkan pejabat korup, sebuah entitas yang secara teoritis terlalu penting untuk berada di sini. Udara di halaman belakang terasa lembap, membawa aroma lumpur dan sampah daun basah. Lampu-lampu lentera di paviliun utama sudah padam, menyisakan kegelapan pekat yang hanya ditembus samar oleh cahaya bulan sabit di balik awan. Jantungnya berdebar, bukan karena takut tertangkap Duan—penjaga cambuk itu mungkin sudah tertidur pulas di biliknya—melainkan karena anehnya sensasi kembali. Ini adalah tempat di mana ia menghabiskan bertahun-tahun merangkai kata-kata dalam keheningan, tempat di mana kelaparan dan ambisi saling berpilin. Ia menyusuri jalan setapak kerikil, setiap langkah menghasilkan *kreeet* pelan yang memecah keheningan. Aroma tinta tua dan kertas lapuk mulai tercium, bercampur dengan bau apak kayu busuk dari gudang yang semakin dekat. Tenggorokannya tercekat. Guang, yang kini terukir menjadi gelang giok melingkari pergelangan tangannya, terasa dingin, namun resonansinya di benaknya justru menghangat. *“Mengapa kita kembali ke titik koordinat awal, Lin Changzhi?”* suara Guang terdengar, tanpa intonasi, namun pertanyaan itu menghantamnya. Changzhi tidak menjawab. Ia hanya ingin melihatnya lagi, merasakan atmosfernya. Gudang itu, tempat lempengan giok itu menunggunya, tempat takdirnya berubah. Pintu kayu gudang tua itu berdecit lirih saat ia mendorongnya terbuka. Debu beterbangan di udara, menari dalam seberkas tipis cahaya bulan yang menembus celah atap. Tumpukan gulungan naskah, meja-meja bobrok, dan keranjang-keranjang kosong berserakan seperti reruntuhan peradaban yang terlupakan. Ia melangkah masuk, merasakan lantai tanah yang padat di bawah sepatu kainnya. Udara dingin gudang mencengkeram paru-parunya. Matanya menyapu sekeliling, mencari sudut tempat ia menemukan giok itu. Sudut yang gelap, di balik tumpukan kotak kayu yang hampir roboh. Ia berjalan ke sana, mengangkat kakinya agar tidak menyentuh tumpukan kertas kuning yang menggunung di lantai. Sebuah rasa sesak tiba-tiba mencengkeram dadanya. Bukan karena debu, melainkan karena memori yang menyeruak. Ia ingat malam itu, hujan deras, perutnya keroncongan, dan cahaya aneh dari lempengan giok yang memanggilnya. Ia ingat rasa putus asa yang menusuk, harapan terakhir yang ia gantungkan pada sepotong batu asing. *“Data menunjukkan probabilitas nostalgia emosional yang tinggi pada subjek manusia ketika mengunjungi kembali lokasi kejadian kritis,”* Guang menginterupsi, suaranya tetap tanpa cela. *“Apakah ada tujuan spesifik dari kunjungan ini, atau hanya validasi diri?”* Changzhi memejamkan mata sejenak, menelan ludah.
Changzhi menarik kerah jubah resminya lebih rapat, seolah kain brokat ungu tua itu bisa melindunginya dari dinginnya malam atau, lebih tepatnya, dari bayangan masa lalu. Langkah kakinya yang dulu terburu-buru dan gemetar, kini terasa lebih mantap, namun tetap pelan. Ia menyelinap masuk melalui gerbang belakang Akademi Angsa Liar, sebuah kebiasaan lama yang kini terasa janggal. Dulu ia adalah shutong, bayangan tak terlihat yang bergerak di antara rak buku berdebu. Sekarang, ia adalah Pejabat Peninjau Keuangan, seorang pria yang baru saja menyingkirkan pejabat korup, sebuah entitas yang secara teoritis terlalu penting untuk berada di sini. Udara di halaman belakang terasa lembap, membawa aroma lumpur dan sampah daun basah. Lampu-lampu lentera di paviliun utama sudah padam, menyisakan kegelapan pekat yang hanya ditembus samar oleh cahaya bulan sabit di balik awan. Jantungnya berdebar, bukan karena takut tertangkap Duan—penjaga cambuk itu mungkin sudah tertidur pulas di biliknya—melainkan karena anehnya sensasi kembali. Ini adalah tempat di mana ia menghabiskan bertahun-tahun merangkai kata-kata dalam keheningan, tempat di mana kelaparan dan ambisi saling berpilin. Ia menyusuri jalan setapak kerikil, setiap langkah menghasilkan *kreeet* pelan yang memecah keheningan. Aroma tinta tua dan kertas lapuk mulai tercium, bercampur dengan bau apak kayu busuk dari gudang yang semakin dekat. Tenggorokannya tercekat. Guang, yang kini terukir menjadi gelang giok melingkari pergelangan tangannya, terasa dingin, namun resonansinya di benaknya justru menghangat. *“Mengapa kita kembali ke titik koordinat awal, Lin Changzhi?”* suara Guang terdengar, tanpa intonasi, namun pertanyaan itu menghantamnya. Changzhi tidak menjawab. Ia hanya ingin melihatnya lagi, merasakan atmosfernya. Gudang itu, tempat lempengan giok itu menunggunya, tempat takdirnya berubah. Pintu kayu gudang tua itu berdecit lirih saat ia mendorongnya terbuka. Debu beterbangan di udara, menari dalam seberkas tipis cahaya bulan yang menembus celah atap. Tumpukan gulungan naskah, meja-meja bobrok, dan keranjang-keranjang kosong berserakan seperti reruntuhan peradaban yang terlupakan. Ia melangkah masuk, merasakan lantai tanah yang padat di bawah sepatu kainnya. Udara dingin gudang mencengkeram paru-parunya. Matanya menyapu sekeliling, mencari sudut tempat ia menemukan giok itu. Sudut yang gelap, di balik tumpukan kotak kayu yang hampir roboh. Ia berjalan ke sana, mengangkat kakinya agar tidak menyentuh tumpukan kertas kuning yang menggunung di lantai. Sebuah rasa sesak tiba-tiba mencengkeram dadanya. Bukan karena debu, melainkan karena memori yang menyeruak. Ia ingat malam itu, hujan deras, perutnya keroncongan, dan cahaya aneh dari lempengan giok yang memanggilnya. Ia ingat rasa putus asa yang menusuk, harapan terakhir yang ia gantungkan pada sepotong batu asing. *“Data menunjukkan probabilitas nostalgia emosional yang tinggi pada subjek manusia ketika mengunjungi kembali lokasi kejadian kritis,”* Guang menginterupsi, suaranya tetap tanpa cela. *“Apakah ada tujuan spesifik dari kunjungan ini, atau hanya validasi diri?”* Changzhi memejamkan mata sejenak, menelan ludah. Ia merasakan desakan untuk membenarkan dirinya, untuk menjelaskan bahwa ini bukan sekadar nostalgia hampa. Ini adalah pencarian makna, sebuah upaya untuk mengukuhkan pijakan di antara dua dunia yang kini dihuni. Ia membuka mata, siap mengatakan sesuatu, namun kata-kata itu tercekat. Alih-alih mendengar jawaban dari Guang, udara di sekitarnya terasa menipis, memadat menjadi sesuatu yang berat. Ruangan gudang yang remang-remang itu berdenyut, seolah dinding-dinding kayu lapuk itu bernapas. Giok di pergelangan tangannya berkedip, bukan dengan cahaya hijau lembutnya yang biasa, melainkan dengan pendaran keperakan yang tajam, hampir menyakitkan mata. Gelombang energi dingin menjalar dari pergelangan tangannya, merayap ke seluruh tubuhnya, membuatnya kaku. Pemandangan di sekelilingnya mulai beriak, seperti air yang diguncang. Rak-rak buku, tumpukan kertas, dan keranjang kosong memudar, digantikan oleh gambaran yang lebih jelas, lebih nyata. Udara menjadi dingin, menusuk hingga ke tulang. Suara Guang berubah, bukan lagi resonansi internal yang tenang, melainkan seolah bergema dari setiap sudut gudang, mengelilinginya. *“Simulasi probabilitas masa depan alternatif dimulai,”* suara itu mengumumkan, lebih keras, lebih mekanis dari sebelumnya. Ia tidak pernah melihat Zi-01 menampilkan simulasi dengan cara seperti ini, tanpa peringatan, tanpa perintah. Biasanya, simulasi ditampilkan sebagai proyeksi kecil, detail yang bisa ia saring atau abaikan. Kini, ia tidak punya pilihan. Seluruh gudang, seluruh keberadaannya, seolah tersedot ke dalam pusaran gambaran yang terbentuk di hadapannya. Dinding-dindingnya lenyap, diganti oleh kabut kelabu yang berputar. Aroma apek kayu menghilang, digantikan oleh bau anyir dan kotoran. Sebuah jalan setapak sempit muncul di hadapannya, terbuat dari tanah becek yang dipenuhi genangan air. Ia berdiri di tengah-tengah sebuah pemukiman kumuh, deretan gubuk reyot yang berdesakan, atapnya ditambal dengan jerami dan kain usang. Suara tawa anak-anak yang kurus melayang di udara, bercampur dengan dengkuran babi dan teriakan pedagang yang menawarkan barang-barang murahan. Langit di atasnya berwarna kelabu, berat dan menekan, seolah tak pernah ada matahari di dunia ini. Ia merasa mual, kepalanya pening. *“Ini adalah titik divergen yang signifikan,”* Zi-01 berkata, suaranya kini mengiringi visual, bukan sekadar memberikan informasi. *“Tanpa intervensi. Tanpa aku. Ini adalah 'seharusnya'.”* Simulasi itu begitu nyata, begitu mendalam, hingga ia bisa merasakan dinginnya lumpur yang meresap ke sepatunya, mencium bau asam dari fermentasi sisa makanan. Matanya menyipit, mencoba memahami, mencoba menolak apa yang ia lihat. Namun, Zi-01 memaksanya untuk melihat, untuk mengalami. Sebuah jalan hidup yang seharusnya menjadi miliknya, terhampar di depannya, penuh dengan keputusasaan dan kehampaan. Ia melihat wanita tua membungkuk di pinggir jalan, wajahnya keriput dan tangannya kasar, menumbuk jagung dengan lesung kayu yang berat. Laki-laki muda dengan punggung bungkuk menyeret gerobak penuh kayu bakar, napasnya tersengal. Ini adalah dunia yang ditinggalkannya, namun kini ia dipaksa untuk kembali, sebagai pengamat yang tak berdaya. Giok di pergelangan tangannya memancarkan cahaya lebih terang, seolah mengisi seluruh ruangan simulasi dengan pendaran dinginnya. Ia mencoba mundur, namun kakinya terasa terpaku pada tanah berlumpur itu. Simulasi itu bukan hanya di sekelilingnya, tapi seolah meresap ke dalam dirinya, ke dalam setiap serat sarafnya. Ia merasakan beratnya eksistensi yang ditampilkan, tekanan dari hidup yang tak berdaya. Ia melihat bayangan yang melintas di antara gubuk-gubuk, seorang pria tua yang berjalan tertatih. Sosok itu mengenakan jubah shutong yang sudah usang, kainnya compang-camping dan warnanya luntur hingga nyaris tak berbentuk. Punggungnya membungkuk, kepalanya terkulai, dan rambutnya yang putih tipis berantakan, mencuat tak terurus. Wajahnya kurus kering, pipinya cekung, dan kerutan dalam mengukir setiap inci kulitnya, seolah setiap kesulitan hidup telah meninggalkan jejak permanen di sana. Matanya, yang dulunya tajam dan penuh ambisi, kini terlihat keruh dan kosong, tanpa kilatan semangat sedikit pun. Ia membawa keranjang anyaman yang kosong di satu tangan dan tongkat kayu bengkok di tangan lainnya, setiap langkahnya adalah perjuangan. Changzhi menatapnya, napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdebar kencang, memompa darah dingin ke seluruh tubuhnya. Itu dia. Sosok itu adalah cermin yang kejam, sebuah gambaran mengerikan dari dirinya sendiri. Waktu telah melengkung, membengkokkan masa depan yang seharusnya ia hadapi. Ia melihat tangan pria tua itu, gemetar saat mencoba mengambil sepotong roti basi yang tergeletak di tanah. Jari-jarinya kurus, dengan kuku yang kotor dan pecah-pecah. Setiap gerakan adalah bukti dari bertahun-tahun kerja keras tanpa imbalan, dari kelaparan yang tak pernah terpuaskan. Pria tua itu terbatuk, batuk kering yang dalam, mengguncang tubuhnya yang ringkih. Tidak ada yang menoleh, tidak ada yang peduli. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyak bayangan yang bergerak di antara gubuk-gubuk itu, seorang shutong yang terlupakan, terbuang, yang tak pernah berhasil melarikan diri dari takdirnya yang paling dasar. Rasa dingin yang menusuk, bukan hanya dari simulasi itu, melainkan dari dalam dirinya sendiri, menjalar dari kaki hingga ke ubun-ubun. Changzhi menggigil. Dingin itu lebih buruk dari malam terdingin di gudang ini, lebih buruk dari ketakutan akan cambuk Duan. Ini adalah dinginnya keputusasaan yang mutlak, dinginnya ketiadaan masa depan. Ia melihat dirinya yang tua itu tersandung, menjatuhkan tongkatnya, dan terjatuh berlutut di lumpur. Tidak ada yang datang menolong. Hanya tatapan acuh tak acuh dari orang-orang yang melintas, sudah terbiasa dengan pemandangan penderitaan. Pria tua itu mencoba bangkit, setiap ototnya sakit, setiap sendinya berderak. Sebuah desahan putus asa keluar dari bibirnya yang pecah-pecah, sebuah suara yang menghantui. Itu adalah suara kekalahan, suara penyesalan yang terlalu dalam untuk diucapkan. Changzhi ingin berteriak, ingin memalingkan muka, namun Zi-01 mengunci pandangannya, memaksanya untuk menyaksikan setiap detik dari kengerian itu. Ia melihat bagaimana cahaya terakhir di mata pria tua itu meredup, bagaimana harapan terakhirnya terkikis oleh kejamnya waktu dan keadaan. Giok di pergelangan tangannya berdenyut, seolah memompa gambaran itu langsung ke dalam otaknya, tanpa filter. Ia tidak hanya melihat, ia merasakan. Ia merasakan perut yang keroncongan, sendi yang nyeri, dan kehampaan yang menggerogoti jiwa. Ia merasakan bagaimana setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup, bukan untuk mencapai sesuatu. Itu adalah Lin Changzhi yang gagal, Lin Changzhi yang tidak pernah mengambil risiko, yang tidak pernah menemukan giok itu. Ia adalah bayangan dari dirinya yang sekarang, bayangan yang tak memiliki jubah brokat ungu, tak memiliki jabatan, tak memiliki apa pun kecuali penderitaan. Sebuah kepedihan tajam menghunjam dadanya, namun anehnya, itu bukan penyesalan. Simulasi itu tiba-tiba padam, menghilang seperti embun di bawah sinar matahari. Gudang kembali muncul, dengan rak-rak usang dan tumpukan gulungan naskah. Udara dingin yang nyata menyergapnya, dan aroma apek kayu kembali tercium. Changzhi terkesiap, terhuyung mundur hingga punggungnya membentur tumpukan kotak kayu yang hampir roboh. Ia merosot, terduduk di lantai tanah yang dingin, napasnya terengah-engah. Jantungnya masih berdegup kencang, iramanya tak beraturan, seolah baru saja lolos dari jurang kematian. Keringat dingin membasahi pelipisnya, meskipun udara gudang menusuk. Ia mengusap wajahnya dengan tangan gemetar, merasakan dinginnya kulit dan denyutan nadi di pergelangan tangannya. Lega. Gelombang lega membanjiri dirinya, begitu kuat hingga ia merasa lemah. Ia tidak menjadi orang itu. Ia tidak menjadi shutong tua yang menyedihkan, yang tergeletak di lumpur tanpa harapan. Ia melihat gelang giok di pergelangan tangannya, memancarkan cahaya hijau lembutnya yang biasa. Objek itu terasa hangat sekarang, seolah mengalirkan kehidupan ke dalam dirinya. *“Simulasi selesai,”* suara Zi-01 kembali tenang, kembali menjadi resonansi internal yang familier. *“Probabilitas rendah, namun bukan nol. Keputusan yang diambil pada titik divergen utama memiliki dampak signifikan pada lintasan hidup subjek.”* Changzhi tidak perlu diberitahu. Ia telah melihatnya, mengalaminya. Dan di samping lega yang membuncah, ada ketakutan yang dingin. Ketakutan akan betapa tipisnya batas antara dirinya yang sekarang dan versi dirinya yang lain itu. Betapa satu keputusan kecil, satu kebetulan yang tidak terjadi, bisa mengubah segalanya. Ia bisa saja tetap menjadi shutong yang kelaparan, menghabiskan sisa hidupnya di antara debu dan buku-buku yang tak pernah ia pahami sepenuhnya. Ia bisa saja mati dalam kemiskinan, tanpa nama, tanpa jejak. Harga dari keputusannya terasa sangat nyata. Itu bukan sekadar risiko pekerjaan, bukan sekadar ancaman dari pejabat korup. Itu adalah keberanian untuk mengambil giok aneh itu, untuk mempercayai suara di kepalanya, untuk melangkah keluar dari bayangan. Setiap langkahnya sejak hari itu adalah penolakan terhadap masa depan yang baru saja Zi-01 tunjukkan. Namun, anehnya, tidak ada penyesalan. Tidak sedikit pun. Hanya sebuah kepastian yang membara di dalam dirinya. Ia harus terus maju. Ia tidak akan pernah kembali ke sana, tidak akan pernah membiarkan dirinya menjadi bayangan yang dilihatnya. Tekad itu mengeras di dalam dadanya, dingin seperti baja. Ia harus terus menggenggam kekuasaan yang telah ia raih, terus memanfaatkannya. Karena jika tidak, masa depan itu akan kembali menunggunya, sebuah janji yang mengerikan di ujung jalan yang salah. Ia bangkit berdiri, kakinya masih sedikit goyah, namun pandangannya kini lebih tajam, lebih fokus. Gudang itu, yang semula terasa seperti makam kenangan, kini menjadi saksi bisu akan tekad barunya. Zi-01 adalah pendorongnya, peringatan hidup akan apa yang telah ia hindari. Ia meraih sehelai gulungan naskah yang tergeletak di meja bobrok, kertasnya kuning dan rapuh. Tangannya berhenti di sana, merasakan tekstur usang. Ia tahu apa yang harus dilakukan, bahkan jika jalannya penuh duri. Ia tidak akan pernah lagi menjadi budak nasib. Ia akan menjadi master dari takdirnya sendiri, apa pun harganya, bahkan jika itu berarti harus terus melangkah ke dalam kegelapan yang tak terduga.