Chapter 19 of 21

Kejatuhan Tuan Li

1.5k words

Udara di Aula Keagungan Langit terasa tipis, berat, seolah setiap napas diukur. Lin Changzhi berdiri di tengah, jubah resminya terasa asing, kaku di bahu kurusnya. Di hadapan Kaisar Zhao Heng yang duduk di singgasana naga emas, dan jajaran menteri yang mengawasinya seperti elang lapar, ia menggenggam gulungan laporan yang terasa dingin di tangannya. Giok di pergelangan tangannya berdenyut samar, getaran halus yang hanya ia rasakan, sebuah sinyal dari Guang yang siap memandu. “Yang Mulia,” suara Changzhi keluar, mengejutkan dirinya sendiri dengan ketenangannya. Tidak ada getar, tidak ada ragu. Itu suara yang asing, bukan miliknya sepenuhnya. “Saya telah menuntaskan audit keuangan perbendaharaan negara terkait pengadaan bahan pangan untuk wilayah utara selama tiga tahun terakhir.” Tatapan mata Kaisar Zhao Heng menajam, menembus Changzhi. Di sisi kanan, Ouyang Xiang duduk tegak, janggut abu-abunya bergerak sedikit saat ia menarik napas. Tuan Li, Kepala Departemen Perbekalan, membusungkan dadanya di antara barisan menteri lainnya, wajahnya tegang namun mencoba menunjukkan ekspresi santai yang penuh cibiran. Sebuah tawa hambar, hampir tidak terdengar, meluncur dari bibir Tuan Li. Changzhi mengabaikannya. Guang telah memberinya koordinat emosi yang tepat: tidak ada ruang untuk kemarahan atau kegugupan. Hanya presisi. “Melalui dokumen-dokumen ini, yang disahkan oleh Departemen Pencatatan dan verifikasi pajak daerah, terdapat anomali signifikan dalam jumlah dan harga pembelian.” Ia membentangkan gulungan pertama di meja persembahan di hadapan Kaisar. Sebuah peta wilayah utara terhampar, dengan titik-titik merah menandai lokasi pembelian yang dicurigai. “Pada tahun kedua era Jingde, misalnya, pembelian gandum dari Prefektur Cangzhou dilaporkan sebanyak tiga ratus ribu *dan* per bulan. Namun, pencatatan di tingkat desa dan distrik hanya menunjukkan seratus delapan puluh ribu *dan* yang benar-benar diterima.” Bisikan mulai terdengar di antara para menteri. Perbedaan yang mencolok. Tuan Li beringsut, matanya melotot. Aroma dupa cendana yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan, bercampur dengan bau keringat dingin dari beberapa birokrat. “Selisih seratus dua puluh ribu *dan* gandum ini, Yang Mulia, tidak pernah mencapai lumbung negara.” Changzhi menunjuk sebuah kolom angka di gulungan lain. “Namun, dana pembayaran penuh dialokasikan, dan bahkan, harga per *dan* gandum dinaikkan sepuluh persen di atas harga pasar rata-rata untuk periode tersebut. Total kerugian negara, hanya dari transaksi ini, mencapai lebih dari dua juta *guan* koin tembaga.” Jeda menggantung berat. Angka-angka itu, dingin dan tak terbantahkan, memukul relung akal setiap orang. Dua juta *guan*. Jumlah yang bisa membangun kembali beberapa jembatan, atau memberi makan seluruh kota kecil selama setahun. Changzhi melihat mata Ouyang Xiang berkedip, sebuah tanda konsentrasi. “Ini bukan anomali tunggal.” Changzhi melanjutkan, suara Guang berbisik di benaknya, menyusun setiap kalimat, setiap jeda. “Dari tahun kedua Jingde hingga tahun pertama Dazhong Xiangfu, pola serupa terulang sebanyak tujuh belas kali di berbagai prefektur. Total estimasi kerugian mencapai hampir empat belas juta *guan*.” Empat belas juta. Desahan tertahan terdengar. Tuan Li pucat pasi, warna darah seolah terkuras dari wajahnya. Jantung Changzhi sendiri berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena getaran kekuasaan, sensasi menusuk dari memegang kebenaran yang menghancurkan di telapak tangannya. Giok itu semakin hangat di pergelangan tangannya, mengirimkan gelombang energi yang terasa seperti ekstasi dingin. --- “Tuduhan itu... tidak berdasar!” Tuan Li akhirnya meledak, suaranya serak. Ia melangkah maju, jubah brokatnya berdesir kasar. “Petugas rendahan ini, apa yang dia tahu tentang kompleksitas pengadaan di masa paceklik? Harga berfluktuasi! Ada biaya transportasi! Biaya penyimpanan! Dia hanya membaca angka di atas kertas!” Matanya melotot, bengkak, mencari dukungan dari menteri-menteri lain. Beberapa menunduk, menghindari tatapannya. Yang lain, dari faksi Tuan Li, mengangguk samar, memaksakan senyum tipis yang tak sampai ke mata. “Apakah fluktuasi harga berarti selisih seratus dua puluh ribu *dan* gandum yang hilang?” Changzhi bertanya balik, suaranya tenang, seperti es yang mengambang di atas air yang dalam. Guang telah menyiapkan setiap kemungkinan sanggahan. “Apakah biaya transportasi dan penyimpanan menjelaskan mengapa gudang-gudang di Yongzhou melaporkan kapasitas penuh, padahal hanya menerima setengah dari yang dialokasikan?” Ia mengeluarkan gulungan ketiga, yang kali ini berisi diagram alir logistik. Garis-garisnya jelas, tak terbantahkan. “Laporan Departemen Transportasi menunjukkan kapasitas maksimal kapal dan gerobak yang digunakan untuk rute Yongzhou ke Bianjing. Jumlahnya tidak memadai untuk mengangkut total tiga ratus ribu *dan* yang diklaim. Jadi, di mana sisanya?” Tuan Li terdiam, rahangnya mengatup. Wajahnya merah padam, lalu memucat lagi. “Ini... ini adalah penafsiran yang keliru! Mungkin ada kesalahan pencatatan oleh petugas di daerah! Mereka buta huruf, kurang terlatih!” “Kesalahan yang berulang tujuh belas kali, dengan pola yang hampir identik?” Changzhi mengangkat alis, kerutan tipis muncul di dahinya yang tirus. “Dan selalu menguntungkan satu pihak, yaitu para pemasok yang terafiliasi dengan jaringan yang sama?” Ia menunjuk ke daftar nama, nama-nama yang sudah tak asing lagi bagi telinga para pejabat tinggi. Setiap kata Changzhi adalah tikaman pedang yang presisi, dipandu oleh Guang. Ia merasa seperti mesin, bukan manusia. Ketegasan itu bukan miliknya, namun ia menyukainya. Ada keindahan dingin dalam logika yang tak bisa dipatahkan, kepuasan yang menusuk ketika melihat benteng kepalsuan runtuh di hadapan fakta telanjang. Tuan Li menelan ludah, lehernya memerah, jubahnya terasa basah oleh keringat. “Yang Mulia, saya bersumpah atas nama leluhur saya!” Tuan Li berlutut tiba-tiba, jubahnya membentur lantai pualam dengan bunyi gedebuk. Suaranya pecah. “Ini fitnah! Petugas muda ini pastilah dihasut oleh faksi lawan! Dia hanya boneka!” Kaisar Zhao Heng menyipitkan mata. Ouyang Xiang hanya menghela napas panjang, sebuah suara yang mirip desiran angin di hutan bambu. Changzhi merasakan pandangan Kanselir itu menembus dirinya, mencari sesuatu yang lebih dari sekadar angka dan bukti. Ia merasakan bahaya, namun sensasi euforia dingin ini terlalu kuat untuk diabaikan. Ia telah menang. Guang telah menang. --- Kaisar Zhao Heng mengatupkan bibirnya, tatapannya menyapu setiap wajah di aula. Keheningan mencengkeram. Bahkan napas Tuan Li terdengar seperti raungan di telinga Changzhi. Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Kaisar mengangguk perlahan. “Tuan Li,” suara Kaisar berat, seperti guntur yang bergulir di pegunungan. “Bukti yang disajikan oleh Petugas Lin Changzhi tidak bisa diabaikan. Pola dan inkonsistensi yang ia tunjukkan, didukung oleh dokumen-dokumen resmi dari berbagai departemen, terlalu meyakinkan untuk dikesampingkan sebagai ‘kesalahan pencatatan’.” Tubuh Tuan Li bergetar. Ia menunduk, dahi menyentuh lantai. “Ampun, Yang Mulia…” “Kepercayaan rakyat adalah fondasi negara. Ketika fondasi itu digerogoti oleh korupsi, bahkan seekor semut pun bisa menjadi ancaman bagi seluruh kekaisaran.” Kaisar menghentikan ucapannya, tatapannya kini jatuh pada Changzhi, sebuah campuran antara penilaian dan kekaguman. “Engkau telah gagal mengemban amanah ini.” “Oleh karena itu,” suara Kaisar kembali meninggi, memenuhi setiap sudut aula, “Jabatan Tuan Li sebagai Kepala Departemen Perbekalan dicopot. Ia akan diasingkan ke Prefektur Lingnan, sebagai hakim distrik, tanpa hak untuk kembali ke ibu kota selama sisa hidupnya.” Kata-kata itu jatuh seperti palu godam. Keheningan pecah oleh desahan kolektif. Lingnan. Sebuah tempat terpencil, jauh di selatan, penuh penyakit dan kesulitan. Itu adalah hukuman mati sosial. Tuan Li terisak, tubuhnya ambruk sepenuhnya di atas lantai, air matanya membasahi pualam. Changzhi merasakan denyutan giok itu semakin intens, sebuah ledakan data yang seolah merayakan kemenangan. Ada kepuasan yang dingin, hampir hampa, di dalam dirinya. Ia telah melakukannya. Ia telah menjatuhkan seorang pejabat tinggi, seorang bangsawan yang dulunya tak terjangkau, dengan kekuatan logika dan angka. Namun, pada saat yang sama, ia merasakan gelombang ketakutan yang merayap naik. Ia baru saja menunjukkan taringnya. Dan taring itu tajam, terlalu tajam untuk diabaikan. Ia telah menciptakan musuh. Banyak musuh. Para birokrat yang selama ini bersekongkol dengan Tuan Li, atau yang takut akan preseden yang baru saja ia ciptakan, kini akan mengincarnya. Kemenangan ini terasa seperti racun yang manis, meresap perlahan ke setiap serat jiwanya. --- Tuan Li digiring keluar aula oleh dua pengawal istana, lengannya terkulai tak berdaya. Isakannya yang pecah perlahan menghilang seiring langkahnya menjauh. Para menteri mulai bergerak, berbisik-bisik, tatapan mereka menyapu Changzhi, sebagian dengan rasa takut, sebagian dengan kekaguman, sebagian lagi dengan kebencian yang samar-samar. Changzhi merasakan pandangan tajam itu menembus punggungnya. Ia tidak perlu menoleh. Ia tahu itu Ouyang Xiang. Kanselir itu tidak bergerak dari tempat duduknya, kipas bambunya terlipat rapi di tangannya. Tatapannya, yang selalu tenang, kini terasa seperti bilah pisau yang tak terlihat, menguliti setiap lapisan pertahanan Changzhi. Di antara semua menteri yang terguncang, Ouyang Xiang adalah satu-satunya yang terlihat seperti patung batu, tak terpengaruh oleh gejolak yang baru saja terjadi. Ia melihat Lin Changzhi, bukan sebagai pemuda yang baru saja memenangkan pertarungan, melainkan sebagai anomali. Sesuatu yang terlalu sempurna, terlalu dingin, terlalu logis untuk menjadi manusia. Sebuah bid’ah. Guang berbisik di telinga mental Changzhi, “Risiko terprediksi. Faksi konservatif akan memperkuat penolakan. Persiapkan strategi mitigasi.” Suara itu tanpa emosi, murni kalkulasi. Namun Changzhi tidak bisa mengabaikan rasa dingin yang merayapi tulang punggungnya. Ini bukan hanya tentang Tuan Li. Ini adalah deklarasi perang. Ia telah menjadi alat, pedang yang diayunkan oleh sebuah entitas tanpa jiwa. Kemenangan terasa pahit, rasa kekosongan yang tumbuh di dalam dirinya. Ia melihat wajah-wajah para menteri yang kini mulai berkumpul di sudut-sudut aula, membentuk kelompok-kelompok kecil, mata mereka sesekali meliriknya dengan campuran rasa ingin tahu dan ketakutan. Mereka adalah mangsa berikutnya, atau mungkin ia adalah mangsa mereka. Kaisar Zhao Heng bangkit dari singgasananya, tatapan matanya masih tertuju pada Changzhi sejenak. Sang penguasa mengangguk pelan, tatapan matanya tajam, dan di luar sana, gema pengumuman tentang pemecatan Tuan Li terdengar, sebuah lonceng kematian bagi faksi korup, dan peringatan bagi Changzhi.

End of Chapter 19