Chapter 1

Chapter 1 of 1

Chapter 1: Janji di Balik Kabut Lembang

1.7k words

Dingin menusuk hingga ke tulang. Kabut tebal Lembang turun lebih cepat sore itu, menyelimuti perkebunan teh keluarga Nayla dalam pelukan putih yang sunyi dan dingin. Nayla merapatkan selendang rajut wol abu-abu yang menutupi bahunya. Jemarinya yang ramping gemetar hebat, bukan hanya karena hawa pegunungan yang menggigit, melainkan karena selembar kertas merah jambu yang tergeletak di atas meja kayu jati kuno di hadapannya. Surat peringatan terakhir dari bank terpampang nyata di bawah temaram lampu gantung. Rumah produksi teh herbal "Sunda Asri" milik keluarganya akan disita dalam waktu tiga puluh hari jika utang mendiang ayahnya tidak segera dilunasi. "Neng, ada tamu di depan," bisik Bi Kokom, asisten rumah tangga mereka yang setia, memecah keheningan yang mencekam. Wajah paruh baya itu tampak sangat pucat, dengan kedua tangan yang saling meremas cemas. Nayla mendongak, merasakan debaran aneh yang tiba-tiba bergemuruh di dalam dadanya. "Siapa, Bi? Bukankah kita sudah menutup gerbang sejak jam empat sore tadi?" "Bukan pembeli biasa, Neng. Orang kota. Penampilannya... sangat menakutkan," sahut Bi Kokom dengan suara yang nyaris tenggelam oleh deru angin di luar. Langkah kaki Nayla terasa sangat berat saat dia menyusuri koridor kayu rumah panggung peninggalan kakeknya. Gemerisik dedaunan bambu di halaman luar seolah-olah berbisik, memberikan peringatan akan bahaya yang sedang mendekat. --- Deru mesin mobil mewah yang berat memecah kesunyian bukit Lembang yang basah. Sebuah sedan hitam mengkilap merayap pelan menembus kabut, lalu berhenti tepat di depan pelataran rumah panggung Sunda milik keluarga Nayla. Lampu sorot mobil itu membiaskan cahaya kuning yang sangat tajam, menembus rintik gerimis yang mulai turun membasahi bumi. Pintu kemudi terbuka dengan cepat. Seorang pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam bergegas memutar, lalu membukakan pintu penumpang bagian belakang dengan sikap hormat yang sangat kaku. Sepatu kulit hitam yang sangat mengkilap melangkah turun, menapak tanpa ragu di atas tanah Lembang yang basah dan berlumpur. Sosok jangkung dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah keluar dari dalam mobil. Potongan rambutnya sangat rapi, menonjolkan garis rahang tegas yang tercukur bersih tanpa cela. Matanya sekelam malam tanpa bintang, menatap lurus ke arah teras rumah kayu dengan pandangan menilai yang sangat dingin dan tidak bersahabat. Nayla melangkah keluar ke teras kayu, berusaha menyembunyikan getar ketakutan yang mendera seluruh tubuhnya. Angin gunung yang berembus kencang memainkan ujung kebaya katun putih gading yang dikenakannya. "Selamat sore," sapa Nayla, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun jantungnya berdegup kencang seperti tabuhan kendang dalam upacara adat. Pria asing itu tidak segera menjawab sapaannya. Dia menaiki anak tangga kayu satu per satu dengan gerakan lambat yang penuh wibawa, seolah-olah dia adalah pemilik sah dari seluruh tanah ini. Aroma parfum mahal yang sangat pekat—campuran kayu cendana dan tembakau premium—seketika mengusir bau tanah basah dan melati di sekitar teras. "Nayla Kirana?" Suara bariton pria itu terdengar sangat rendah, berat, dan sama sekali tidak memiliki riak emosi di dalamnya. "Ya, saya sendiri. Maaf, Anda siapa dan ada keperluan apa datang ke tempat kami dalam cuaca seperti ini?" tanya Nayla, mengepalkan kedua tangannya erat-rakat di balik lipatan selendang. Pria itu menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di depan Nayla. Tinggi badannya yang menjulang tinggi memaksa Nayla untuk mendongak demi bisa menatap matanya. "Arya Dirgantara," ucapnya pendek, sebuah nama yang seketika membuat seluruh darah di tubuh Nayla terasa membeku seketika. --- Nama itu adalah mimpi buruk bagi seluruh pengusaha kecil di wilayah Jawa Barat. Penerus tunggal Dirgantara Group, raksasa properti yang terkenal sangat kejam dalam melibas siapa pun yang berani menghalangi proyek pembangunan mereka. Nayla menelan ludah dengan sangat susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak sangat kering. "Jadi... Anda adalah perwakilan dari bank yang ingin menyita tanah kami?" "Bukan perwakilan," potong Arya dengan cepat dan tegas. Matanya menyapu ruang tamu sederhana yang dipenuhi ukiran kayu khas Sunda dan aroma melati kering dengan pandangan meremehkan. "Aku adalah pemilik baru dari seluruh utang yang ditinggalkan oleh mendiang ayahmu," lanjut Arya seraya melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu izin dari pemiliknya. Langkah kaki Arya berlanjut ke tengah ruangan. Dia duduk di atas kursi rotan panjang, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain dengan sikap yang sangat santai namun sangat mengintimidasi. Nayla mengikuti langkah pria itu dengan perasaan gusar yang luar biasa. "Apa maksud Anda? Utang keluarga kami ada di Bank Pembangunan Daerah, bukan di perusahaan swasta seperti milik Anda!" "Kemarin pagi, Dirgantara Group telah mengakuisisi seluruh portofolio kredit macet dari bank tersebut," jelas Arya tenang, sementara asistennya meletakkan sebuah map kulit hitam tebal di atas meja kayu. "Termasuk sertifikat tanah perkebunan teh dan seluruh bangunan di atas lahan ini," tambah Arya lagi, matanya menatap tajam ke arah Nayla yang kini berdiri terpaku. Keheningan yang sangat mencekik menyelimuti ruangan tamu tersebut. Hanya terdengar suara detak jam dinding tua dan deru angin kencang yang menggoyang pepohonan di luar rumah. Nayla menatap map hitam itu seolah-olah benda tersebut adalah seekor ular berbisa yang siap mematuk dan mengakhiri hidupnya kapan saja. "Kami masih memiliki waktu tiga puluh hari sesuai dengan surat peringatan yang kami terima," ujar Nayla dengan suara gemetar namun penuh penekanan. "Dengan cara apa kau akan membayar utang sebesar lima miliar rupiah dalam waktu tiga puluh hari?" tanya Arya, nadanya terdengar sangat meremehkan usaha Nayla. "Apakah dengan menjual teh seduh eceran ini? Atau berharap pada belas kasihan segelintir turis lokal yang berkunjung setiap akhir pekan?" sambung Arya dengan senyum sinis yang menghina. Kata-kata kasar itu bagai tamparan keras yang mendarat tepat di pipi Nayla. Wajahnya seketika memerah padam karena amarah yang sangat hebat membakar rongga dadanya. "Jangan pernah meremehkan usaha keluarga kami, Tuan Dirgantara!" desis Nayla, matanya berkilat tajam memancarkan kebencian yang mendalam. "Tempat ini adalah warisan leluhur kami, tanah suci yang kami rawat dengan cucuran keringat. Kami tidak akan membiarkan orang kota yang serakah seperti Anda meruntuhkannya demi membangun beton-beton mewah!" seru Nayla dengan napas memburu. Arya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan atas ledakan amarah gadis di hadapannya. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat sangat tipis, membentuk senyuman dingin yang sangat menyebalkan. "Kemarahan tidak akan pernah bisa melunasi utang piutang, Nayla," ujar Arya dengan nada suara yang sangat tenang namun terasa sangat tajam menusuk hati. "Faktanya sangat sederhana. Besok pagi, alat-alat berat kami akan mulai meratakan area pembibitan teh di bawah bukit untuk memulai proyek pembangunan resor," tambah Arya tanpa belas kasihan. "Tidak boleh! Anda tidak punya hak untuk melakukan itu sebelum tenggat waktu berakhir!" teriak Nayla spontan, melangkah maju hingga tubuhnya sangat dekat dengan meja kayu. "Tolong... beri kami waktu. Setidaknya sampai musim panen raya bulan depan selesai," mohon Nayla akhirnya, menurunkan harga dirinya demi menyelamatkan mata pencaharian para pekerjanya. --- Hujan deras tiba-tiba tumpah dari langit Lembang, memukul-mukul atap sirap kayu dengan ritme yang sangat bising dan memekakkan telinga. Arya bangkit berdiri dari kursi rotannya secara perlahan. Dia berjalan mendekati jendela kaca besar yang kini mulai berembun, menatap hamparan kebun teh yang tampak remang-remang di bawah siraman air hujan yang lebat. "Aku adalah seorang pebisnis murni, bukan sebuah lembaga amal yang membagikan kemudahan," ucap Arya tanpa membalikkan badannya untuk menatap Nayla. "Setiap hari penundaan yang kuberikan berarti kerugian ratusan juta bagi perusahaan yang kupimpin," lanjutnya dengan nada dingin yang sangat konsisten. Nayla mengepalkan kedua tangannya sangat erat hingga kuku-kukunya memutih dan melukai telapak tangannya sendiri. Keangkuhan pria di hadapannya ini benar-benar membuat lambung Nayla terasa mual, namun dia sadar betul bahwa posisinya saat ini sangat lemah dan tidak memiliki daya tawar apa pun. Ibunya yang sedang sakit keras sedang terbaring lemah di kamar belakang. Berita tentang penyitaan paksa perkebunan ini pasti akan langsung membunuh wanita tua itu karena serangan jantung. "Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari kami?" tanya Nayla dengan suara yang nyaris berbisik, pasrah pada takdir buruk yang sedang mengintainya. "Pasti ada cara lain yang Anda inginkan. Katakan saja, apa syarat yang harus kupenuhi agar Anda membatalkan rencana penyitaan tanah ini?" tanya Nayla lagi, menatap punggung tegap Arya dengan sisa-sisa harapannya. Arya membalikkan badannya secara perlahan, menatap Nayla dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mata yang sangat intens dan sulit diartikan. Dia memperhatikan kebaya katun putih gading yang membungkus tubuh ramping Nayla dengan sangat pas, serta rambut hitam panjangnya yang disanggul rapi dengan hiasan kuntum melati segar yang harum. Keheningan yang sangat pekat kembali tercipta di antara mereka berdua, terasa jauh lebih menegangkan daripada sebelumnya. "Hanya ada satu cara yang tersisa untuk menyelamatkan seluruh tempat ini," kata Arya lambat-lambat, melangkah mendekati Nayla dengan tatapan mengunci. Nayla menahan napasnya, merasakan aura dominan yang sangat kuat terpancar dari tubuh pria yang kini berdiri sangat dekat dengannya. "Katakan," bisik Nayla lirih. "Menikahlah denganku." --- Kata-kata gila itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Arya, terdengar sangat santai seolah dia hanya sedang menawarkan secangkir teh hangat di tengah malam yang dingin. Nayla terbelalak lebar, mengira indra pendengarannya sedang terganggu oleh suara gemuruh air hujan yang sangat bising di luar rumah. "Apa... apa yang baru saja Anda katakan?" tanya Nayla, memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi di tengah keputusasaannya. "Kau tidak salah mendengar satu kata pun, Nayla Kirana," sahut Arya dengan wajah yang kembali datar tanpa menunjukkan emosi sedikit pun. "Menikahlah denganku dalam waktu dua minggu ke depan. Seluruh surat utang keluargamu akan langsung kubakar di depan matamu saat kita menandatangani dokumen pernikahan kita," tawar Arya dengan nada mutlak. Tawa hambar bernada frustrasi keluar dari mulut Nayla. "Ini benar-benar gila! Anda pasti sedang kehilangan akal sehat! Kita bahkan baru pertama kali bertemu hari ini!" "Ini sama sekali bukan lelucon, Nayla," ucap Arya dingin, lalu berjalan mendekati pintu keluar tanpa memedulikan penolakan keras dari gadis itu. Sebelum melangkah keluar dari pintu rumah, Arya memberi isyarat kepada asisten pribadinya untuk meletakkan selembar kertas dokumen kuno di atas meja kayu. Nayla mendekati meja tersebut dengan langkah kaki yang sangat gemetar, matanya tertuju pada kertas kekuningan dengan stempel lilin merah yang sangat familier. Di bagian bawah kertas kuno tersebut, tertera tanda tangan mendiang kakeknya yang berdampingan dengan tanda tangan kakek dari Arya Dirgantara. "Kakekmu dan kakekku telah menandatangani perjanjian perjodohan ini dua puluh tahun yang lalu," ujar Arya dari ambang pintu, suaranya terdengar sangat jelas di antara derasnya hujan. "Pernikahan ini adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk menggabungkan kembali tanah warisan leluhur parahyangan yang terpisah sejak zaman dahulu," lanjut Arya tanpa ekspresi. Nayla membaca baris demi baris tulisan di atas kertas kuno itu dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya yang pucat. Dia tidak pernah menyangka bahwa seluruh sisa hidup dan masa depannya ternyata telah digadaikan oleh keluarganya sendiri bahkan sebelum dia sempat tumbuh dewasa. "Pilihan ada di tanganmu sekarang, Nayla," ucap Arya dengan nada suara yang sedingin es malam Lembang. "Jika kau menolak lamaranku ini, besok pagi bersiaplah untuk melihat buldozer kami meruntuhkan seluruh rumah dan sejarah keluargamu tanpa sisa."

End of Chapter 1