Keringat dingin mulai membasahi tengkuk Clara saat memandangi gerbang tinggi SMA Garuda Nusantara yang sudah tertutup rapat. Cuaca pagi ini cukup terik, namun rasa dingin di punggungnya jauh lebih mendominasi ketika menyadari kesialan yang sedang menimpanya.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 07.15, yang berarti dia sudah terlambat tepat lima belas menit dari bel masuk sekolah.
"Sial, kenapa ban motor pake acara bocor segala sih," rutuk Clara pelan sembari menendang pelan ban depan Scoopy merahnya yang malang. Napasnya terengah-engah setelah mendorong motor itu sejauh lima ratus meter menuju bengkel terdekat sebelum akhirnya berlari ke sekolah.
Langkah kaki yang teratur terdengar dari balik gerbang besi, membuat Clara refleks menegakkan punggungnya.
Cowok bertubuh tegap dengan seragam OSIS yang sangat rapi—tanpa satu pun lipatan yang salah—berjalan mendekat dengan langkah santai namun entah bagaimana terasa mengintimidasi.
Devon Alister, sang Ketua OSIS legendaris yang terkenal kejam, dingin, dan tanpa ampun, berdiri di balik jeruji besi dengan tatapan menghakimi yang sangat menyebalkan.
"Ada alasan baru apa lagi hari ini, Clara?" tanya Devon, suaranya terdengar datar namun tajam, seolah-olah bisa menguliti Clara hidup-hidup hanya dengan kata-kata.
Tatapan matanya yang elang langsung tertuju pada kaus kaki Clara yang berwarna hitam legam—sebuah pelanggaran fatal karena hari Senin diwajibkan menggunakan kaus kaki putih bersih di atas mata kaki.
"Gue bisa jelasin, Dev," sahut Clara cepat, mencoba menampilkan senyum terbaiknya yang biasanya berhasil meluluhkan guru piket. "Ban motor gue bocor di jalan, sumpah! Bukan karena gue sengaja bangun siang."
Papan jalan akrilik hitam yang selalu dibawanya kini diketuk-ketuk pelan ke telapak tangan kirinya, menciptakan ritme konstan yang membuat Clara makin gugup.
"Gue nggak butuh dongeng lo," potong Devon tanpa menatap wajah Clara sedikit pun. "Aturan tetap aturan, and you broke two rules today: late and wrong dress code. Ditambah lagi, rambut lo nggak diikat rapi."
"Heh, ketos kaku! Rambut gue emang potongannya wolf cut, mana bisa diikat rapi kayak cewek-cewek idaman lo itu!" Clara mulai kehilangan kesabarannya. Sifat aslinya yang keras kepala kini mengambil alih.
Devon akhirnya mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Clara dengan ekspresi dingin yang tidak terbaca.
"Gue nggak punya cewek idaman, dan gue nggak peduli sama gaya rambut lo," ucap Devon dengan nada suara yang turun satu oktav, terdengar berbahaya. "Tapi selama lo ada di lingkungan sekolah ini, lo harus tunduk sama aturan. Paham, Cupet?"
Panggilan menyebalkan itu keluar lagi dari bibir Devon, membuat rahang Clara mengeras seketika.
Cupet. Cupu tapi Petakilan. Itu adalah julukan sialan yang diciptakan Devon khusus untuknya sejak masa orientasi tahun lalu, hanya karena Clara berani mendebat pidato sambutannya yang dinilai terlalu otoriter.
"Jangan panggil gue pake nama itu, Devon gila!" sentak Clara, tangannya mencengkeram besi gerbang dengan erat.
"Masuk lewat pintu samping, temui gue di koridor aula setelah lo parkir motor," perintah Devon dingin, mengabaikan protes Clara seolah angin lalu. Dia berbalik arah tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.
---
Langkah kaki Clara menghentak kasar di sepanjang koridor menuju aula sekolah. Beberapa siswa yang sedang berada di luar kelas memandanginya dengan tatapan iba, seolah tahu bahwa Clara baru saja masuk ke dalam perangkap sang predator teratas sekolah.
Keyla, sahabat dekat Clara, tiba-tiba muncul dari balik pilar kelas dengan wajah cemas yang sangat kentara.
"Clar! Lo gila ya baru dateng jam segini?" bisik Keyla setengah berteriak, menarik lengan Clara ke sudut yang agak sepi.
"Motor gue bocor, Key. Dan tebak siapa yang nungguin gue di gerbang dengan muka kayak malaikat pencabut nyawa?" Clara memutar bola matanya malas, melipat kedua tangannya di dada.
"Si Devon? Oh My God, run Clar, run! Dia hari ini lagi sensi parah karena ada inspeksi dari dinas pendidikan nanti siang. Vibesnya bener-bener kayak red flag berjalan," ujar Keyla dengan nada dramatis, matanya melotot lebar.
"Gue nggak bisa lari. Tadi dia nyuruh gue nemuin dia di koridor aula. Kalau gue mangkir, yang ada poin pelanggaran gue makin numpuk," keluh Clara sembari mengusap wajahnya kasar.
"Good luck, babe. Semoga lo bertahan hidup setelah berurusan sama cowok perfeksionis itu," bisik Keyla sebelum cepat-cepat menyelinap masuk kembali ke kelasnya begitu melihat bayangan Devon dari kejauhan.
Clara menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebelum berbalik untuk menghadapi musuh bebuyutannya.
Devon berdiri di sana, bersandar pada pilar aula dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya.
Kancing kerah seragamnya yang tertutup rapat memberikan kesan formal yang kaku, kontras dengan Clara yang selalu membiarkan kancing teratasnya terbuka karena merasa gerah.
"Lama," ucap Devon singkat saat Clara akhirnya berdiri di depannya.
"Gue harus markir motor dulu, ya kali gue terbang ke sini," balas Clara sinis, tidak mau kalah sedikit pun.
Devon menyodorkan selembar kertas kecil berwarna merah muda dari saku bajunya—tiket hukuman yang sangat ditakuti oleh seluruh siswa SMA Garuda Nusantara.
"Bersihkan ruang penyimpanan peralatan olahraga di dekat gym lama. Sendiri. Sampai bersih tanpa ada debu tersisa sebelum jam istirahat pertama selesai," instruksi Devon tanpa bantahan.
"Lo bercandanya nggak lucu ya! Ruangan itu kan gede banget dan udah berbulan-bulan nggak dipakai! Kenapa nggak lo suruh anak-anak OSIS lo yang rajin itu aja?" protes Clara, matanya membelalak tidak percaya.
Devon melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka hingga Clara bisa mencium aroma parfum maskulin beraroma cedarwood yang menenangkan namun juga mengintimidasi dari tubuh cowok itu.
"Karena mereka nggak melanggar aturan hari ini, Clara," bisik Devon, menundukkan kepalanya sedikit agar sejajar dengan tinggi Clara. "Dan lo... lo adalah pelanggar favorit gue."
Kata-kata itu diucapkan dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Clara merinding, bukan karena takut, melainkan karena kombinasi antara rasa kesal yang meluap dan debaran aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Clara mengepalkan tinjunya, menatap tajam ke dalam mata hitam Devon yang berkilat penuh kemenangan.
"Fine! Gue bersihin itu ruangan. Tapi jangan harap lo bisa menang terus dari gue, Devon Alister," ancam Clara dengan suara bergetar menahan amarah.
"We'll see, Cupet," sahut Devon datar, kembali menegakkan tubuhnya dan memberikan jalan bagi Clara untuk pergi.
---
Debu tebal langsung menyambut Clara begitu dia membuka pintu kayu ruang penyimpanan olahraga yang sudah lama tidak terpakai itu.
Clara terbatuk-batuk kecil, mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah untuk menghalau partikel debu yang berterbangan di udara.
"Gila, ini sih bukan tempat penyimpanan, tapi sarang hantu," gumam Clara kesal sembari melihat tumpukan bola basket kempes, matras usang yang berjamur, dan net voli yang robek di sudut ruangan.
Dengan malas, dia mengambil sapu ijuk yang bersandar di dinding dan mulai membersihkan lantai.
Setengah jam berlalu, dan peluh mulai membasahi dahi serta pelipis Clara. Dia melepaskan dasi sekolahnya dan meletakkannya di atas meja kayu berdebu, lalu menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku.
Kesunyian ruangan itu tiba-tiba terpecahkan oleh suara langkah kaki yang mendekat dari arah pintu masuk.
Clara berbalik, mengira itu adalah Keyla yang datang untuk membawakannya air minum, namun senyumnya langsung pudar saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
Devon berdiri di sana, memperhatikan keadaan ruangan yang setengah bersih dengan pandangan menilai yang sangat menyebalkan.
"Kerja lo lambat banget," komentar Devon, melangkah masuk ke dalam ruangan yang sempit itu.
"Kalau lo cuma mau ngehina kerjaan gue, mending lo pergi deh. Ganggu pemandangan tahu nggak?" usir Clara kasar, menghentakkan sapunya ke lantai dengan sengaja.
Devon tidak membalas ucapan kasar itu. Dia malah berjalan mendekati meja kayu tempat Clara meletakkan dasinya, lalu mengambil selembar kertas yang terselip di bawah dasi tersebut.
Jantung Clara seakan berhenti berdetak saat menyadari kertas apa yang baru saja diambil oleh Devon.
Kertas itu adalah surat peringatan keras dari wali kelas yang sengaja dia sembunyikan dari orang tuanya, berisi rincian nilai-nilainya yang merosot tajam beserta ancaman tidak naik kelas jika dia tidak memperbaiki nilainya pada ujian tengah semester depan.
"Balikin kertas gue!" teriak Clara panik, langsung berlari mendekati Devon dan mencoba merebut kertas itu dari tangannya.
Devon dengan mudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memanfaatkan keunggulan tingginya yang mencapai 180 sentimeter untuk menghindari jangkauan Clara yang jauh lebih pendek.
"Jangan lancang, Devon! Itu urusan pribadi gue!" pekik Clara, melompat-lompat kecil untuk meraih kertas itu namun tetap gagal.
"Nilai fisika 45, matematika 50, kimia 40..." Devon membaca angka-angka yang tertera di sana dengan suara datar, matanya menyipit geli. "Ternyata selain petakilan, otak lo juga perlu diservis, Cupet."
"Diem lo! Balikin nggak!" Clara yang sudah sangat emosi akhirnya kehilangan keseimbangan saat kakinya tersandung kaki meja yang melintang di lantai.
Tubuh Clara terhuyung ke depan, jatuh tepat ke arah Devon.
Devon yang tidak siap menerima hantaman tiba-tiba itu refleks menangkap pinggang Clara dengan kedua tangannya, membuat mereka berdua jatuh bersamaan ke atas matras olahraga yang cukup tebal di sudut ruangan.
Debu beterbangan di sekitar mereka saat tubuh mereka mendarat dengan keras di atas matras.
Clara membuka matanya yang sempat terpejam, hanya untuk menyadari bahwa wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah Devon.
Napas hangat Devon menerpa permukaan wajahnya, dan tangan kekar cowok itu masih melingkar erat di pinggangnya, menahan tubuh Clara agar tidak membentur lantai yang keras.
Keheningan yang mencekam tiba-tiba melingkupi ruangan itu, menggantikan kepanikan beberapa detik yang lalu.
Clara bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup sangat kencang, atau mungkinkah itu detak jantung Devon?
Devon menatap Clara dengan intensitas yang belum pernah Clara lihat sebelumnya. Tidak ada lagi tatapan dingin atau mengejek, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan membingungkan.
"Lepasin gue," bisik Clara parau, mencoba mencari suaranya yang seolah hilang di tenggorokan.
Bukannya melepaskan, Devon justru mempererat cengkeramannya di pinggang Clara, menarik tubuh gadis itu sedikit lebih dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan.
"Gue bisa bantu lo buat naik kelas, Clara," bisik Devon, suaranya terdengar sangat rendah dan serak di dekat telinga Clara, membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika.
Clara menahan napas, mencoba mencerna tawaran tak terduga dari musuh besarnya itu.
"Tapi dengan satu syarat," lanjut Devon, senyum tipis yang sarat akan kelicikan perlahan terukir di sudut bibirnya yang kokoh.
"Syarat... apa?" tanya Clara dengan nada gemetar, setengah penasaran dan setengah waspada.
Devon mendekatkan bibirnya ke telinga Clara, membisikkan sebuah kalimat yang membuat mata Clara membelalak lebar karena sangat terkejut.