Chapter 1

Chapter 1 of 1

Scarlet Gaze, Whispering Fear

1.0k words

Ciferass Suy berlutut di tepi Sungai Joma yang berlumpur. Jemarinya yang kecil, kotor oleh tanah liat dan lumut, berusaha menjangkau sesuatu. Mainan prajurit kayunya tergeletak di sana, hanya beberapa inci dari jari-jarinya, tetapi terlalu jauh dari genggamannya. Arus sungai menariknya lebih dekat ke pusaran air kecil di tikungan. Dia tidak boleh kehilangannya. Prajurit itu adalah hadiah terakhir dari ayahnya. Akari, berdiri sedikit di belakang, mengamati dengan mata lebarnya. Rambut hitamnya diikat dua, melambai lembut diterpa angin sore. Dia memegang bunga liar berwarna ungu di tangannya, tetapi pandangannya terpaku pada Cifer. Senyumnya yang manis, bahkan dari jarak itu, terasa seperti janji. Cifer ingin dia terkesan. “Hampir,” gumam Cifer, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Akari. Dia merentangkan lengannya lebih jauh, merasakan otot-ototnya tegang. Tepian sungai itu curam, tanah di bawah lututnya terasa lembek. Sedikit saja salah gerak, dia bisa jatuh. Dia melihat ke bawah ke mainan itu, kemudian sekilas ke Akari. Gadis itu tidak bergerak, menunggu. Cifer menarik napas dalam-dalam, paru-parunya terasa sesak. Dia harus mendapatkannya. Untuk ayahnya. Untuk Akari. Untuk membuktikan dia bukan anak ceroboh seperti yang bisikkan para tetua. Sebuah akar pohon muncul dari tanah tepat di depannya, menonjol dan licin. Cifer menekan telapak tangannya ke sana, mencoba mendapatkan pijakan yang lebih baik. Jari-jarinya menggali lumpur, mencari cengkeraman. Tanah di bawahnya bergeser, butiran pasir kecil jatuh ke air. Jantungnya berdebar kencang di dadanya. Dia mengulurkan jari telunjuknya, meluruskan sepenuhnya. Ujung prajurit kayu itu berjarak sejengkal. Terlalu jauh. Dia merasa putus asa mencengkeram. Matanya mengerjap, panas. Akari pasti akan berpikir dia payah. Dia tidak ingin Akari berpikir dia payah. Tidak pernah. Cifer mengerang kecil, tubuhnya menegang. Setiap serat ototnya menegang, berjuang untuk satu inci lagi. Kuku-kukunya menggaruk akar yang kasar, meninggalkan bekas putih. Dia mendorong lebih keras. Dia *harus* mencapainya. --- Tiba-tiba, ada sesuatu yang retak di dalam dirinya. Bukan tulang, bukan kulit. Itu adalah sensasi yang aneh, seperti wadah kaca yang pecah, melepaskan cairan yang berapi-api. Panas menyengat muncul dari ulu hatinya, menjalar dengan cepat melalui lengannya, mengumpul di ujung jari-jarinya yang menegang. Cifer terkesiap, matanya membelalak. Rasa sakit itu bukan rasa sakit, melainkan sebuah kejutan besar. Energi oranye terang melesat keluar dari telapak tangannya, menembus akar pohon yang dia cengkeram. Udara di sekitarnya bergetar, terasa berat, seperti kilat yang belum dilepaskan. Tanah di bawahnya, yang tadinya hanya lembek, kini bergetar hebat. Retakan-retakan tipis muncul dari titik tempat tangannya menyentuh akar, menyebar cepat seperti jaring laba-laba ke seluruh tepian sungai. Lumpur dan kerikil terlempar ke udara dengan suara gemuruh yang rendah. Akar pohon itu hancur menjadi serpihan, puing-puing kecil berceceran di air. “A-Akari?” Cifer mencoba berbalik, tetapi tangannya terpaku pada tempatnya, memancarkan cahaya oranye yang menyilaukan. Tubuhnya gemetar tak terkendali. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dia tahu itu dari dirinya. Dari *dalam* dirinya. Sebuah potongan besar tepian sungai, tepat di sampingnya, ambruk ke air dengan suara *blar* yang keras, mengirimkan gelombang air dan lumpur ke mana-mana. Air sungai bergejolak, dan mainan prajurit kayunya tersedot ke bawah, menghilang dari pandangan. Panas di tangannya mereda, meninggalkan mati rasa dan ketakutan yang dingin. Dari kejauhan, di dekat pasar desa, beberapa penduduk desa yang sedang mengemas barang dagangan mereka berbalik. Para tetua, yang sedang mengawasi anak-anak bermain, mengangkat kepala mereka. Suara ambruknya tanah bergema di udara sore yang tenang. Mereka semua melihat asap tipis yang masih mengepul dari retakan-retakan di tanah, dan kemudian, tatapan mereka jatuh pada Cifer, yang masih berlutut, dengan tangan gemetar dan mata terbelalak ketakutan. --- Keheningan menyelimuti desa. Suara jangkrik berhenti bernyanyi. Hanya gemericik air sungai yang masih bergejolak yang terdengar. Cifer mengangkat kepalanya, mencari Akari. Gadis itu berdiri beberapa langkah di belakangnya, bunga ungu yang tadi dipegangnya kini jatuh ke tanah. Wajahnya pucat, mata lebarnya mencerminkan ketakutan murni. Dia tidak tersenyum. Dia tidak maju. Dia mundur selangkah. Kemudian, tatapan Cifer berpindah ke para tetua. Tetua Haru, dengan janggut abu-abu panjangnya, adalah yang pertama bereaksi. Wajahnya yang biasanya tenang kini keriput karena jijik. Dia melangkah mundur, tangan kanannya terangkat, seolah ingin menangkis sesuatu yang menjijikkan. Bibirnya bergerak-gerak, mungkin mengucapkan doa. Di sampingnya, Tetua Ren menunjuk ke arah Cifer dengan jari gemetar. Matanya menyipit, ekspresinya adalah campuran antara ketakutan dan kemarahan. “Anak itu… monster itu lagi,” gumamnya, cukup keras untuk didengar Cifer. Suara itu menusuk, dingin, dan menghancurkan apa pun yang tersisa di dada Cifer. Penduduk desa lainnya, yang tadinya hanya terkejut, kini mulai mengikuti para tetua. Mereka mundur, menjauh dari Cifer, menciptakan lingkaran kosong di sekelilingnya. Beberapa wanita menarik anak-anak mereka mendekat, menutupi mata mereka. Mata-mata mereka, penuh ketakutan dan penghakiman, menancap pada Cifer. Cifer merasakan jantungnya mencelos. Dia menciut, seolah ingin menyusut menjadi tidak terlihat. Rasa malu membakar pipinya, tetapi rasa sakit terbesar adalah pengkhianatan yang dia lihat di mata Akari. Dia ingin menjelaskan. Dia ingin berteriak bahwa dia tidak bermaksud begitu. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi tidak ada kata yang keluar dari tenggorokannya. Hanya isak tangis yang tertahan, menggumpal di kerongkongannya. Dia tidak bisa menghapus pandangan mereka. Pandangan mereka yang menyebutnya monster. Pandangan mereka yang menganggapnya berbahaya. Pandangan mereka yang membuatnya sendirian. --- Cifer menundukkan kepalanya, membiarkan rambut hitamnya yang berantakan menutupi matanya. Dia tidak sanggup lagi melihat ekspresi mereka. Perutnya terasa mual, dan ada rasa pahit yang membanjiri mulutnya. Dia telah mengecewakan semua orang. Lagi. Ayahnya telah mengorbankan segalanya untuknya, dan dia tetap menjadi ancaman. Isak tangis kecil lolos dari bibirnya. Dia mengulurkan tangannya yang gemetar, menatap telapak tangannya. Tidak ada lagi cahaya oranye. Hanya lumpur dan goresan dari akar pohon. Tetapi dia tahu, energi itu ada di sana. Bersembunyi. Menunggu. Selalu menunggunya untuk berbuat salah. Dia mendengar bisikan-bisikan, meski pelan, tetap mencapai telinganya. “Sama seperti ayahnya…” “Kutukan…” “Kita harus mengusirnya…” Setiap kata adalah belati, menusuk menembus kulitnya, ke dalam hatinya yang rapuh. Mereka tidak akan pernah menerimanya. Dia adalah monster. Matanya yang berkaca-kaca secara tak sengaja menangkap pantulan di permukaan sungai yang bergejolak. Dalam keruhnya air yang belum sepenuhnya tenang, sesaat dia melihat sesuatu yang bukan miliknya. Sepasang mata. Merah menyala, seperti bara api di kegelapan. Menatap balik padanya, dingin dan tanpa emosi. Sebuah getaran menusuk Cifer sampai ke tulang. Itu bukan pantulannya. Mata itu terlalu tajam, terlalu kejam. Dan kemudian, sebuah suara, dingin dan asing, berdesir langsung ke dalam benaknya, seolah berbisik di samping telinganya, 'Lemah, kan, manusia kecil?'

End of Chapter 1

Chapter 1: Scarlet Gaze, Whispering Fear - Ciferass Suy | Novel AI Studio