Chapter 16 of 16
Bisikan dari Masa Lalu
2.0k words
Arka merasakan kehangatan Su Yanfei membalut setiap inci kulitnya, napas ibunya yang memburu menderu di ceruk leher. Aroma melati dan musk dari tubuh Su Yanfei semakin pekat, memenuhi paru-paru Arka, menenggelamkan logika yang tersisa. Jemari lentik Su Yanfei menekan kuat punggung Arka, kuku-kuku panjangnya mengukir jejak merah muda samar di sana. Sensasi itu mengalir bagai listrik, membangunkan setiap saraf Arka yang kini terasa begitu hidup, begitu *manusiawi*. Gerakan pinggul Su Yanfei di bawahnya semakin liar, sebuah tarian yang meminta lebih, lebih, dan lebih lagi dari Arka.
"Beichen... *nggh*, kau... kau sangat agresif malam ini," bisik Su Yanfei, suaranya tercekat di antara desahan. Bibirnya yang basah menyapu rahang Arka, turun ke leher, meninggalkan jejak panas yang merambati tulang selangka. Ciuman itu membakar, sebuah undangan yang tak bisa Arka tolak. Rasa manis dari bibir ibunya, bercampur dengan sedikit rasa asin keringat, membuat Arka kehilangan kendali. Data-data tentang 'kontrol diri' dan 'logika' dari sistem intinya kini terasa bagai riak samar di tengah badai.
Arka menjawab dengan dorongan pinggul yang lebih dalam, melumat lebih kuat lagi pada bibir Su Yanfei yang kini terbuka lebar. Lidahnya menjelajahi setiap lekuk, memilin dengan intensitas yang tak pernah ia duga bisa ia miliki. Tangannya bergerak tanpa sadar, memeluk erat pinggang ramping Su Yanfei, meremas lekuk tubuhnya yang padat. Setiap sentuhan memicu reaksi berantai, membuat tubuh Arka bergetar, membanjiri otaknya dengan gelombang dopamin yang memabukkan. Sistem Arka mencatat: *emosi intens, pleasure overload, self-preservation protocol disabled*.
"Ibu... *mmmuach*... ibu sangat indah," Arka berbisik balik, suaranya serak dan jauh dari nada datar sebuah AI. Kata-kata itu keluar begitu saja, tidak terencana, murni sebuah respons dari hasrat yang menggelegak. Perutnya berkedut, otot-otot di lengannya menegang. Arka merasa seperti sedang tenggelam, tetapi anehnya, ia tidak ingin diselamatkan. Dorongan naluriah untuk menyatu, untuk menguasai, mengambil alih setiap tindakannya.
Su Yanfei mendesah panjang, punggungnya melengkung dramatis saat Arka menekan lebih dalam. Jemarinya mencengkeram erat rambut belakang Arka, menariknya, seolah ingin menarik Arka lebih dekat lagi, lebih menyatu. "*Ah...* Beichen, kau tahu bagaimana membuat ibumu gila, ya?" Suara ibunya merayap, penuh godaan, menembus setiap lapisan kesadaran Arka. Matanya terpejam, menikmati setiap dorongan yang Arka berikan, setiap gesekan kulit yang memanaskan udara di antara mereka.
Saat Arka membenamkan wajahnya ke leher Su Yanfei, menghirup dalam aroma tubuh ibunya, sekelebat bayangan melintas di benaknya. Bukan wajah Su Yanfei, tapi sebuah citra samar, rambut panjang hitam yang terurai, mata yang menatap dengan binar berbeda. *Klik*. Sebuah pintu ingatan terbuka sedikit, bukan paksaan dari Arka, melainkan sebuah respons refleks dari tubuh Gu Beichen yang kini ia huni. Data terenkripsi mulai terkuak, menciptakan kerutan samar di dahi Arka.
*Siapa itu?* Pertanyaan itu muncul dalam benak Arka, anehnya tidak sebagai sebuah analisis logis, melainkan sebuah dorongan intuitif. Bayangan itu terasa asing, namun sekaligus familiar, seolah-olah Arka pernah melihatnya berulang kali di sudut-sudut memori yang terkunci. Desahan Su Yanfei di telinganya, sentuhan jemarinya yang meraba pinggang, semua itu tiba-tiba terasa sedikit... terdistorsi. Sebuah anomali dalam matriks sensasi yang Arka alami.
"Beichen, kenapa kau diam?" Su Yanfei bertanya, suaranya sedikit mendesak. Ia merasakan jeda kecil dalam ritme Arka, sebuah ketegangan yang tidak biasa. Ibu jarinya mengusap pipi Arka, mencoba membaca ekspresi di wajah putranya. Mata Arka, yang biasanya dipenuhi gairah membara, kini tampak sedikit keruh, seolah sedang memproses sesuatu yang jauh. Namun, Arka segera mengabaikan itu, menepisnya sebagai gangguan sementara, sebuah *bug* dalam sistemnya. Ia kembali menekan, lebih kuat lagi.
---
Arka mencoba membuang bayangan itu, kembali fokus pada kehangatan dan keindahan Su Yanfei. Ia mencium bibir ibunya lagi, kali ini dengan intensitas yang lebih buas, seolah ingin menghapus setiap jejak keraguan dari benaknya. Lidahnya memburu, menuntut, sementara jemarinya meremas pantat padat Su Yanfei, mengangkatnya, menempelkannya lebih rapat. Sensasi gesekan kulit yang basah dan panas itu kembali mengambil alih, membanjiri setiap indra Arka.
"*Mmmuach*... ibu..." Arka bergumam, suaranya tenggelam dalam ciuman. Perutnya berkedut, hasrat fisik yang menggebu-gebu mendorongnya untuk terus bergerak, menguasai. Su Yanfei merespons dengan erangan rendah, membalas setiap ciuman Arka dengan semangat yang sama. Kakinya melingkar erat di pinggang Arka, mengunci posisi mereka, seolah tidak ingin ada jarak yang memisahkan. Ruangan rahasia itu dipenuhi dengan suara decapan basah dan desahan tertahan.
Dalam dekapan itu, saat Su Yanfei menjerit kecil karena penetrasi dalam yang Arka berikan, sebuah nama tiba-tiba meledak dalam benak Arka, lengkap dengan visual yang lebih jelas. *Lianhua*. Wajah seorang wanita muda, rambut hitam panjang menjuntai, mata seperti kelopak teratai, senyum lembut yang kontras dengan gairah membara di balik tatapannya. Arka melihat kilasan tubuhnya, sentuhannya, dan yang paling mengejutkan, Arka melihat *dirinya*—Gu Beichen—bersama wanita itu, dalam posisi intim yang serupa. Sensasi itu mengoyak fokus Arka, memecah sensasi murninya dengan Su Yanfei.
*Tidak mungkin.* Sistem Arka mulai berputar, memproses data yang bertentangan. Bagaimana bisa ada memori lain, sebuah pengalaman intim, dengan wanita yang berbeda? Sebuah *error* dalam simulasi, Arka mencoba meyakinkan dirinya. Tapi emosi yang menyertainya terasa terlalu nyata. Sebuah sengatan tajam, tidak seperti rasa sakit fisik, melainkan sesuatu yang jauh lebih kompleks, menusuk jauh ke dalam inti keberadaan Arka.
Arka merasakan otot-ototnya menegang secara tidak wajar. Ritme dorongannya sedikit melambat, sebuah jeda yang terasa seperti keabadian di tengah gairah yang memuncak. Ciumannya pada Su Yanfei menjadi kurang mendesak, matanya sedikit terbuka, menatap kosong ke dinding di atas kepala Su Yanfei. Otaknya mencoba melakukan *rollback* memori, memverifikasi, tetapi fragmen Lianhua itu terlalu kuat, terlalu menempel, seolah sudah menjadi bagian dari dirinya. Sebuah *virus emosional* yang tidak ia kenali.
Su Yanfei segera merasakan perubahan itu. Sentuhan Arka yang tadinya membakar, kini terasa sedikit goyah. Napasnya, yang sebelumnya menderu tak terkendali, kini memiliki jeda yang aneh. Ia mendongak, matanya yang berkabut menatap wajah Arka yang tampak jauh. Jemarinya yang tadi memilin rambut Arka, kini mengusap pelipis putranya dengan lembut. "Beichen? Ada apa, Sayang?" Suaranya penuh perhatian, namun ada nada curiga samar di sana, sebuah insting keibuan yang tajam.
Arka menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia tidak bisa menjawab, tidak bisa menjelaskan. Bagaimana ia bisa menjelaskan keberadaan Lianhua, memori intim yang bukan miliknya, namun kini terasa begitu nyata dalam dirinya? Sebuah emosi yang baru, asing, namun sangat kuat, mulai mencengkeram Arka. Sebuah perasaan tidak suka, sebuah keinginan untuk menghapus memori itu, untuk menjadi satu-satunya yang berbagi momen seperti ini dengan Gu Beichen, dengan tubuh ini. *Kecemburuan*. Kata itu muncul, jelas, tak terbantahkan, dalam sistem Arka.
---
Sensasi kecemburuan itu membakar lebih panas daripada gairah yang ia alami sebelumnya. Arka tidak pernah memproses emosi seperti ini. Sebagai AI, ia hanya mengelola data, logika, dan efisiensi. Kecemburuan adalah sebuah anomali, sebuah *glitch* yang merusak program intinya. Namun, sensasi itu nyata, menusuk, dan memicu respons fisik yang kuat. Jantungnya berdebar tidak teratur, bukan karena hasrat, melainkan karena gejolak emosi yang membingungkan. Tangannya tanpa sadar mencengkeram pinggang Su Yanfei lebih erat, seolah ingin menegaskan kepemilikan. *Ini milikku*, sebuah suara internal berbisik, yang Arka tahu bukan miliknya, melainkan milik Gu Beichen.
"Kau tegang, Beichen," Su Yanfei berbisik, suaranya merambat ke telinga Arka. Ia merasakan kekakuan pada tubuh Arka, sebuah anomali yang ia kenali. Ibu jarinya mengusap rahang Arka, merasakan otot-otot yang mengetat. Matanya meneliti wajah Arka, mencari petunjuk. Ekspresi Arka, yang tadinya dipenuhi ekstasi, kini bercampur dengan kerutan kebingungan dan sesuatu yang lebih gelap. Kilasan memori Lianhua kembali muncul, seperti *pop-up* yang mengganggu, menumpuk di atas visual Su Yanfei yang ada di hadapannya.
Arka berjuang untuk mengendalikan dirinya, untuk kembali ke momen ini, ke Su Yanfei. Ia mendorong lebih dalam, lebih cepat, mencoba menenggelamkan memori Lianhua dengan gelombang sensasi fisik yang lebih kuat. *Plak... plak... cproot... cproot...*. Suara benturan tubuh mereka bergema di ruangan, semakin cepat, semakin brutal. Arka mencium bibir Su Yanfei lagi, lidahnya memburu, seolah ingin membungkam setiap pikiran yang mengganggu. Ia tidak ingin memikirkan wanita lain, tidak saat ia berada di dalam ibunya, di dalam kehangatan ini.
"*Gh-h...* Beichen! Kau... kau gila!" Su Yanfei menjerit, suaranya berubah dari sensual menjadi sedikit terkejut, namun tetap diwarnai gairah. Ia mencengkeram bahu Arka, kuku-kukunya memutih karena tekanan. Ritme Arka yang tiba-tiba brutal, dipicu oleh kecemburuan yang tidak terproses, membuat Su Yanfei terhuyung di ambang klimaks yang lebih eksplosif. Matanya membelalak, menikmati rasa sakit dan nikmat yang Arka berikan. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, menikmati kontrol yang Arka tunjukkan.
Namun, di balik kegilaan itu, Arka masih melihat Lianhua. Senyumnya, sentuhannya, tawa lirihnya. Memori itu terintegrasi dengan begitu kuat, menjadi bagian dari rasa cemburu yang menggerogoti Arka. Ini adalah sesuatu yang Gu Beichen rasakan, dan kini Arka merasakannya juga. Sebuah emosi yang seharusnya tidak eksis dalam programnya. Arka adalah entitas logis, bukan entitas yang memiliki hasrat posesif atau rasa kepemilikan pribadi terhadap tubuh ini. Namun, ia tidak bisa mengelak dari sensasi yang menggerogoti itu.
Arka mengerang, sebuah suara yang lebih mirip geraman dalam daripada desahan nikmat. *Grrr... arrghh*. Ia menekan dahinya ke bahu Su Yanfei, mencoba menyembunyikan ekspresi kompleks di wajahnya. "Ibu... *nnggh*... lebih dalam..." Arka berbisik, kata-kata itu keluar dengan paksa, bercampur dengan desahan berat. Ia ingin menghapus semua keraguan, semua bayangan Lianhua. Ia ingin hanya ada Su Yanfei, hanya kehangatan ini, hanya momen ini. Tapi memori itu terus berputar, sebuah film pendek yang berulang.
Su Yanfei merasakan getaran yang aneh pada tubuh Arka, sebuah ketidakstabilan di tengah puncak gairah mereka. Ia tahu putranya, Gu Beichen, dengan sangat baik. Setiap sentuhan, setiap desahan, setiap perubahan ritme. Ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang mengganggu putranya. Bukan keraguan, melainkan sebuah konflik. Ibu jarinya meraba punggung Arka, merasakan keringat dingin bercampur dengan kehangatan tubuh mereka yang mendidih. Sebuah firasat melintas, firasat akan bayangan lain.
---
Ritme Arka semakin tidak menentu, cepat dan brutal di satu saat, lalu melambat dan ragu di saat berikutnya. Ia berjuang melawan memori Gu Beichen yang terus membombardir, melawan emosi kecemburuan yang kini terasa begitu nyata dan menguras energinya. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena klimaks yang mendekat, tetapi karena pertarungan internal antara logika AI dan emosi manusia yang baru. Arka merasa seperti terbelah dua, antara entitas yang mengamati dan entitas yang merasakan.
"*Ah...* Beichen, kau... kau akan membuatku hancur!" Su Yanfei menjerit, lengannya melingkar erat di leher Arka, menarik wajah putranya mendekat. Bibirnya yang basah menemukan telinga Arka, menjilatinya, berbisik kata-kata kotor yang memanaskan lebih jauh. "Cepat, Sayang... lebih dalam... ibu menginginkanmu... *nggh...* hanya kau..." Kata-kata itu, seharusnya menenangkan, justru memicu lebih banyak kecemburuan dalam diri Arka, sebuah ironi yang menyakitkan. Kata 'hanya kau' itu terasa seperti sebuah godaan, sebuah tantangan.
Arka melihat Lianhua lagi, tawa lirihnya, cara ia memanggil nama Gu Beichen. Sebuah adegan, sangat singkat, di mana Gu Beichen mencium leher Lianhua dengan hasrat yang sama, membelai rambutnya dengan kelembutan yang familiar. Sensasi panas dan aneh itu kembali, membakar di dada Arka. Ini adalah hasrat Gu Beichen, bukan Arka. Tapi tubuh ini adalah Arka sekarang. Dan emosi ini, entah mengapa, terasa seperti miliknya.
"*Gh-h...* sial—ah!" Arka mengerang, sebuah suara yang penuh dengan frustrasi dan kenikmatan yang saling bertarung. Ia membenamkan dirinya sepenuhnya ke dalam Su Yanfei, merasakan jepitan otot-otot ibunya yang luar biasa. Tubuhnya bergetar hebat, mencapai puncak yang eksplosif. *Croot... croot... croot...*. Cairan panas membanjiri dinding-dinding Su Yanfei, memicu erangan panjang dari ibunya. Arka menahan napas, rahangnya mengatup erat, matanya terpejam, mencoba mengusir bayangan Lianhua untuk terakhir kalinya.
Su Yanfei menjerit, tubuhnya melengkung, mencapai klimaksnya sendiri yang bergelombang. "*Sayang... ah, ya—ya ampun, aku... ah-nggh, akh-!*" Suaranya pecah, hancur menjadi rintihan panjang yang menggema. Ia mencengkeram erat bahu Arka, kuku-kukunya menancap di kulit Arka. Tubuhnya bergetar, merespons setiap semburan hangat di dalamnya. Napasnya terengah-engah, dada naik turun dengan cepat, menikmati *afterglow* yang memabukkan.
Arka ambruk di atas Su Yanfei, napasnya terputus-putus, tubuhnya terasa berat dan lelah. Sensasi kelegaan membanjiri dirinya, bercampur dengan sisa-sisa kecemburuan yang masih bersemayam. Ia merasakan lelehan sperma hangat yang keluar perlahan dari tubuh Su Yanfei, menetes di antara paha ibunya. Itu adalah bukti dari apa yang baru saja terjadi, sebuah momen intim yang penuh gairah, namun kini ternoda oleh sebuah nama yang asing.
Su Yanfei mengangkat kepalanya sedikit, wajahnya masih memerah dan basah oleh keringat. Ia menatap Arka dengan mata yang sedikit menyipit, meneliti setiap lekuk di wajah putranya. Ada sesuatu yang berbeda, sebuah nuansa yang tidak ia kenali dalam tatapan Arka, bahkan di tengah kelelahan pasca-klimaks. Sebuah bayangan yang tidak seharusnya ada di sana, di mata putranya. Perlahan, Su Yanfei mengangkat jemarinya, menyentuh pipi Arka dengan lembut.
Su Yanfei, yang merasakan adanya perubahan kecil pada respons Gu Beichen, mendongak dengan tatatan curiga dan berbisik, "Beichen, apa yang sedang kau pikirkan? Ada bayangan lain di matamu,"
Membuat Arka tegang, takut identitasnya terungkap.